Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Dijemput Daddy dan Mommy



Hari telah berganti dan kini hari mulai senja. Roberth dengan telaten membereskan semua barang bawaan mereka. Tidak ada ole-ole untuk dibawa pulang karena maggie sama sekali tidak beranjak meninggalkan ranjang padahal sudah jadi planning untuk belanja ole-ole buat keluarga.


"Sayang, mandi ya? malam ini kita akan pulang ke rumah daddy sama mommy" bujuk Roberth kepada sang isteri yang tengah baring sambil memainkan ponselnya.


"Basuh muka aja ya?" ucap Maggie mulai bernego sama suaminya.


Kenapa anakku malas mandi begini ya? apa kata orang kalau anak Sultan malas mandi. batin Roberth tidak habis pikir.


"Tidak bisa sayang, kamu harus mandi karena perjalanan kita cukup lama" ucap Roberth tidak mau termakan rayuan sang isteri.


"Tapi aku pusing kalau kena air" ucapnya mulai menyembunyikan tubuhnua dibalik selimut.


"Ada-ada saja kamu sayang, masa sentuh air ko pusing?" gumam Roberth namun tidak didengar oleh Maggie.


"Roberth tetap tegas dalam menangani isterinya sehingga ia masuk dan kembali menyiapkan air hangat di dalam kamar mandi.


Setelah semuanya tersedia ia kembali keluar ternyata isterinya sudah nyenyak.


" Kasihan kamu sayang, tapa maaf ya aku harus memaksa kamu mandi." gumam Roberth membawa isterinya masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah melepaskan pakaian ia juga ikut masuk untuk mandi bersama dan ternyata isterinya sedikit semangat. Tidak mau berlama-lama karena takut Maggie kedinginan, Roberth lebih cepat menyelesaikan mandi bersama mereka.


Maggie benar-benar tidak melakukan aktivitas apapun karena semuanya diambil alih oleh suaminya. Malam menjelang, Mobil yang menjemput mereka sudah menunggu di parkiran dann ada beberapa orang yang datang untuk mengambil barang bawaan mereka.


"Sayang, ayo kita turun" ajak Roberth yang menuntun sayang isteri untuk turun ke bawa meninggalkan kamar yang mereka nginap selama ini.


Mereka di antar menuju ke bandara untuk keberangkatan menuju australia.


Maggie yang mengalami banyak perubahan yakni makan tidur, dan itulah yang ia lakukan sepanjang penerbangan dari negara ini hingga tujuan mereka.


Setelah hampir 13 jam penerbangan, mereka akhirnya tiba di salah satu bandara di Australia.


"Sayang, kita sudah sampai." ucap Roberth sambil mengusap wajah isterinya yang tertidur sambil mangap.


"Baby sayang, jangan buat mama lelah ya? kasihan mama pasti sakit badannya karena tidur terus" ucap Roberth tepat di perut isterinya yang masih datar. Mau tidak mau ia harus bertindak. Roberth mengangkat tubuh isterinya yang sedikit lebih berat dari sebelumnya dan membawa keluar hingga tempat di mana orang tua isterinya menunggu.


Alfa dan isterinya sendiri yang turun tangan untuk menjemput kaka dan suaminya setelah mendapat cerita dari sang isteri mengenai keadaan puterinya.


"Roberth kenapa dengan kaka" ucap Alfa panik begitu melihat menantunya yang menggendong puterinya itu.


"Tidak apa-apa dad, dia hanya tidur" jawab Roberth yang langsung membawa isterinya masuk saat Alfa membuka pintu mobil.


"Baiklah kalau begitu. Ayo mom kita pulang" ajak Alfa kepada Mey.


Barang-barang bawaan mereka diamankan oleh anak buah Alfa sehingga mereka langsung pergi begitu saja.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah dengan mobil yang dikendarai oleh Alfa.


"Kalau kamu capek biar daddy saja yang membawanya ke kamar" tawar Alfa setelah melihat wajah lelah menantunya.


"Tidak apa-apa dad, biar aku saja" ucap Roberth yang kembali membohongi tubuh lemas isterinya ke kamar dengan petunjuk Mey.


"Apa sampai segitunya Roberth?" tanya Mey yang mengira bahwa puterinya hanya suka tidur seperti biasanya.


"Iya mom, aku sampai kasihan melihatnya. Ia hanya bangun kalau panggilan alam atau merasa lapar" jelas Roberth.


"Tidak apa-apa, jangan sedih nanti esok kita tanyakan sama dokter saja. Makanlah dulu baru istirahat, kamu pasti capek. Mommy suruh makannya dibawa ke sini saja ya?" ucap Mey.


"Oke daddy sama mommy keluar dulu" ucap Alfa dan membawa isterinya keluar dari kamar Maggie yang sekarang sudah menjadi kamarnya dan suaminya.


"Dad, kasihan ya menantu kita? diaa pasti kelelahan sekali mengurus kaka sendirian" ucap Mey dengan wajahnya yang senduh.


"Kenapa daddy meminta maaf" tanya Mey heran.


"Daddy pernah membuat mommy berjuang sendiri untuk kaka" ucap Alfa yang juga ikut sedih. Melihat kesiagaan Roberth mengurus Maggie walaupun lelah, membuatnya merasa bersalah untuk masa lalunya.


"Stttt daddy pahlawannya kami berempat. Daddy jangan bicara seperti itu, semua manusia pasti punya kesalahan dimasa lampau tapi daddy sudah membayarnya dan mendampingi mommy untuk merawat si kembar dan kaka waktu kecil." ucap Mey yang tidak mau mendengar suaminya terus menyalahkan diri karena kejadian masa lalu.


"Esok kita bawa kaka ke rumah sakit untuk memastikan dugaan kita. Kaka bahkan belum menyadari apa yang membuatnya sampai segitunya." ujar Mey.


" Iya sayang kalau begitu kita juga istirahat, sudah semakin larut. Tadi sudah dikasih tahu kan untuk makanannya di bawa ke kamar kaka?" tanya Alfa.


"Sudah dad" jawab Mey dan mereka pun akhirnya tidur.


Di kamar Mey, Roberth baru saja selesai membersihkan diri dan ternyata makanan sudah ada di atas meja yang disediakan di dalam kamar.


"Kasihan isteriku" ucap Roberth yang tidak henti-hentinya mengecup kening sang isteri dan juga perutnya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan saat perubahan hormon pada isterinya.


Ia mengalihkan pandangannya ke meja yang tersaji dengan makanan di sana. Ia lalu membukanya dan aroma makanan langsung memenuhi ruangan itu.


Maggie yang sejak tadi terlelap tiba-tiba mengerjapkan matanya.


"Aku lapar" rengeknya. Hal itu yang membuat Roberth senang karena walaupun lemas tapi tidak pernah melewatkan jam makan pagi, siang, malam bahkan ada tambahan jam makan untuk wanita yang baru menikah ini, kadang ia akan makan sore hari atau sebelum jam makan siang.


"Ayo makan" ucap Roberth sambil membantunya bangun dan menarik meja itu untuk dekat ke arah ranjang.


"Kita sudah sampai ka?" tanyanya saat berhasil membuka mata dengan sempurna.


"Iya kita sudah sampai satu jam yang lalu" ucap Roberth sambil merapikan rambut sang isteri dan tidak lupa untuk mengikatnya.


"Ayo makan" ajak Roberth. Keduanya makan dengan tenang, Roberth mengalah saat semua lauk hampir dihabiskan oleh isterinya. Roberth sangat bersyukur isterinya tidak mengalami seperti ibu hamil pada umumnya yang harus muntah di pagi hari dan hanya makan makanan tertentu. Hal itu tidak berlaku bagi Maggie karena semua jenis makanan akan ia habiskan tanpa sisa.


Setelah menyelesaikan makan malam yang entah jam berapa sekarang. Keduanya bersantai di atas ranjang karena Maggie enggan untuk kembali tidur dengan alasan seluruh tubuhnua remuk karena terlalu banyak tidur.


"Kenapa beberapa hari ini kamu suka sekali tidur." tanya Roberth.


"Nggak tahu aja, salahin aja mataku kenapa mau nutup terus" ucap Maggie membuat Roberth terkekeh kembali mengingat masa kecil mereka, dimana Maggie sering mengalahkan setiap anggota tubuhnya jika melakukan kesalahan.


Tetaplah seperti ini, jangan berubah ya sayang? bahagialah dan menualah bersamaku. Batu Roberth sambil tersenyum. mereka setengah berbaring, Roberth bersandar di kepala ranjang dan Maggie bersandar di dada suaminya.


"Ka" ucap Maggie sambil menegadah ke atas untuk melihat wajah suaminya.


"Hmmmm" jawab Roberth sambil tetap fokus pada ponselnya karena mendapat beberapa laporan dari asistennya.


"Ka, lihat Maggie dulu dong" ucapnya mulai ngambek. Roberth akhirnya menyimpan ponsel di atas nakas dan menatap ke arah sang isteri.


"Ada apa? apa kamu ingin sesuatu?" tanya Roberth.


"Aku pengen makan bubur ayam pake pahanya tapi buatan kamu" ucap Maggie manja kepada suaminya. Ia melihat ke arah jam ternyata sudah pukul dia dini hari.


"Sekarang sayang?" tanya Roberth namun mendapat gelengan kepala dari sang isteri.


"Aku mau esok pagi tepat jam enam aku harus makan" ucapnya tegas.


"Oke baiklah tuan tuan putri, sesuai dengan keinginanmu" ucap Roberth kembali mengusap pucuk kepala isterinya.


"Oke sekarang tidur ya? biar esok tidak terlambat bangun" ajak Roberth dan langsung mendapat anggukan kepala dari Maggie.


BERSAMBUNG