Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Putus Kuliah



Hai readers๐Ÿ’—


Maaf ya baru nongol lagi setelah beberapa hari masuk Rumah sakit.


Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan jangan bosan menunggu episode terbaru.


Doakan author biar cepat pulih dan bisa crazy up untuk membayar tunggakan selama ini ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Happy reading ya gays, jangan lupa like, komen.


.


.


"Ayo turun sayang" ajak Roberth membuat Maggie semakin heran.


"Ini gedung apa? dan mau apa kita kemari?" tanya Maggie yang belum mengetahui maksud kedatangan mereka ke sana.


Maggie yang baru keluar dari dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh Roberth, gadis itu malah bengong karena tidak tahu apa maksud kedatangan mereka ke sana.


Roberth menggandeng tangan sang kekasih tanpa peduli dengan banyak mata yang ada di sana. Keduanya pun melangkah masuk ke dalam gedung mewah itu tanpa ijin terlebih dahulu kepada para resepsionis namun orang-orang itu seperti tidak punya kuasa untuk menahan mereka di sana.


Keduanya pun hilang di balik lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas. Dalam keheningan keduanya, Maggie akhirnya pasrah apa yang akan mereka lakukan di sana.


Mereka akhirnya tiba di lantai paling atas, pintu lift terbuka dan Roberth kembali menarik sang kekasih menuju ke depan salah satu ruangan yang di bagian atas pintunya tertulis CEO.


"Mau apa kita kesini?" tanya Maggie yang sudah tidak menahan rasa penasaran lagi.


"Kamu tenang dan ikut saja" ucap Roberth santai. Namun jawabannya tidak memuaskan Maggie sehingga gadis itu bergumam tidak jelas hanya bibirnya yang bergerak tanpa arah.


Keduanya pun masuk, dan di balik meja kebesaran yang ada di dalam ruangan itu, seorang pria paruh baya tengah fokus pada laptop yang tersimpan indah di atas menya tersebut.


"Hai pa?" sapa Roberth membuat Maggie terkejut.


Matilah aku, kenapa dia membawaku datang kepada papanya? jangan bilang dia mau membawaku lagi ke hadapan pendeta. Aduhh Kaka, mimpinya terlalu ketinggian. Batin Maggie asal.


"Siapa?" tanya Arjo kepada sang putera.


"Teman kuliah" jawab Roberth santai.


Deg


Maggie terkejut saat diakui sebagai teman kuliah.


"Om, maaf mengganggu" ucap Maggie sopan namun dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


"Kenapa kamu membawanya kemari?" ucap Arjo tegas.


Maggie langsung terdiam saat suara papa Arjo menggelegar di ruangan tersebut.


"Aku mau minjam kursi papa, ada yang ingi aku selesaikan" ucap Roberth tanpa merespon kata-kata papanya.


Papa Arjo akhirnya bangkit berdiri dari kursi kebesarannya dan menuju ke sofa ruangan itu.


Maggie masih berdiri di setelah Roberth pun melangkah ke kursi kebesaran papanya.


"Duduk saja di sana" ucap Roberth memberi perintah kepada Maggie untuk duduk bersama sang papa di sofa ruangan itu.


Maggie menatap ke arah Roberth dan juga papa dari pria itu.


Tubuh Maggie terasa kaku tapi terpaksa ia melangkah juga ke sana untuk duduk.


"Apa pekerjaan keluargamu?" tanya papa Arjo dengan dingin ke arah Maggie.


"Aku..." ucapan gadis itu terpotong saat papa Arjo kembali melanjutkan ucapannya.


"Puteraku sudah dijodohkan sejak kecil, jadi om berharap kalian benar hanya teeman kuliah" jelas papa Arjo.


Deg


Anak muda itu sibuk dengan laptop papanya tanpa peduli dengan apa yg dua orang itu perbincangkan.


Papa Arjo kini fokus pada gadis yang ada di depannya yang kelihatan kaku, apalagi barusan ia sempat mengeluarkan kata-kata yang mungkin mengecewakan gadis itu.


Tring tring tring


"Halo beb" jawab Maggie begitu menerima telepon tersebut.


"...... .... ... "


"Oke aku ke sana sekarang" jawab Maggie kembali memasukan ponselnya ke dalam tas cantiknya itu.


"Maaf om, saya ada urusan" pamit Maggie yang langsung keluar.


"Sayang" teriak Roberth namun sudah tidak melihat gadis itu lagi karena sudah hilang di balik pintu ruangan itu.


"Pa ada apa? kenapa dia pergi tanpa ijin denganku?" protes Roberth yang belum selesai melakukan kegiatannya.


"Apa kamu bilang tadi? sayang?" tanya papa Arjo memastikan.


"Iya dia Maggie, Puteri Om Alfa dan Tante Mey" ucap Roberth membuat papanya terkejut.


"Kalau begitu kamu segera susul dia, papa terlanjur mengatakan kepadanya kalau kamu sudah dijodohkan dan pasti dia marah" jelas papa Arjo panik karena ternyata gadis itu adalah teman masa kecil puteranya.


Papa Arjo bahkan lupa soal ucapan Roberth beberapa hari yang lalu soal penyamaran Maggie dari publik.


Roberth menelepon gadis itu berulang-ulang namun tidak ada jawaban sama sekali. Roberth frustrasi karena baru saja ia akan berhasilemberi pelajaran kepada gadis yang merendahkan Maggie di restoran tadi akhirnya harus kandas karena Maggie yang pergi begitu saja.


"Pah aku susul dia dulu" ucap pria muda itu sambil berlari keluar menyusul sang kekasih yang entah sudah di mana.


Setelah kepergian puteranya, papa Arjo merasa menyesal karena telah mengecewakan gadis yang dicintai puteranya sejak kecil.


"Semoga semuanya baik-baik saja" gumam pria itu sambil melangkah ke kursi kebesarannya kembali.


****


Di tempat lain.


Maggie sudah tiba di kosan sahabatnya Ria.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Maggie kepada sahabatnya setelah ia berhasil menemukan kosan itu sesuai arahan Ria.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu untuk terakhir kalinya" jawab gadis itu dengan sesugukan.


"Hah? maksud Lo? jangan bicara sembarangan ya?" ucap Maggie dengan nada mengancam karena tidak suka dengan kalimat gadis itu barusan.


"Aku akan berhenti kuliah, jadi kita mungkin tidak bisa bertemu lagi" jelas Ria kepada Maggie sahabatnya itu.


"Apa yang membuatmu putus kuliah?" tanya Maggie ingin tahu apa pengeluhan gadis itu.


"Aku dikeluarkan dari tempat kerjaku, dan ayahku sudah mulai sakit-sakitan. Kamu yang semangat ya kuliahnya, jangan ladeni gengnya Sela karena mereka memang orangnya begitu, orang kaya yang sombong" nasehat Ria kepada sahabatnya.


"Kalau kamu putus kuliah, aku juga tidak akan kuliah lagi" ucap Maggie pura-pura ngambek.


"Jangan begitu dong beb, nasib kita itu tidak sama. Kamu harus lanjut kuliah kamu dengan baik, setidaknya kamu tidak mengecewakan orang tuamu" nasehat gadis itu lagi.


"Kalau begitu kita harus sama-sama cari pekerjaan sampingan untuk kebutuhan kuliah kita" ucap Maggie tegas.


"Hahaha kamu itu ya beb, jaman sekarang cari kerja itu susah, apalagi kita tidak punya ijazah yang layak" ucap Ria menertawai sahabatnya yang menurut dia, Maggie asal bicara.


"Aku serius, oke aku minta waktu 3 hari, jika selama itu kita tidak mendapatkan pekerjaan maka kamu boleh kembali ke keputusan awal." jelas Maggie memberikan tawaran kepada sahabatnya.


"Oke deal" jawab Ria sambil keduanya bertos ria.


BERSAMBUNG