Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
141. Pernikahan



Tiga minggu sudah berlalu, kini kemuarga Smith sudah bersiap-siap untuk terbang ke Infonesia karena dua hari lagi, pernikahan antara Reno dan Novi akan terlaksana. Bukan hanya keluarga Smith, keluarga Adipati yang berada di London juga menyempatkan waktu untuk hadir juga di acara tersebut.


Walaupun acaranya terbilang sederhana tapi kelihatan sangat mewah. Awalnya Reno hanya ingin melakukan pernikahan tertutup karena mengingat semua rencananya belum berhasil tapi takut menyinggung Novi, apalagi masa lalu calon isterinya itu sangat sensitif, takutnya Novi menganggapnya dinikahi secara terpaksa atau malu mengakuinya sebagai isteri karena dia hanya anak dari hubungan tidak sah. Hal itu membuat ayah Devid dan juga kedua orang tua angkat Reno menginginkan acara yang mewah.


Keluarga Smit sudah tiba lebih dahulu di Indonesia dan mereka harus tinggal terpisah karena opa dan oma Ani memilih tinggal di apartemen sedangkan keluarga kecil Alfa tinggal di mansion keluarga Adipaty karena mereka membawa anak kecil.


"Daddy, ka Novi di mana sih?" tanya Maggie yang memang selama ini sangay rindu dengan kakanya itu.


"Ka Novi ada di apartemen om Reno, nanti dua hari lagi kita akan bertemu saat om Reno dan ka Novi melangsungkan pernikahan mereka." jelas Alfa untuk menjawab rasa penasaran puterinya.


"Daddy, jaga abang sama dede soalnya aku mau buat makan untuk mereka" ucap Mey yang baru bergabung bersama suami dan anak sulungnya itu.


"Mereka sudah bangun?" tanya Alfa karena sejak tiba, kedua anaknya itu tertidur pulas.


"Sudah, twins lagi main di kamar." jawab Mey. Maggie dan ayahnya langsung masuk ke kamar utama dan mendapati dua jagoan itu lagi bermain fi atas ranjang.


"Hai boy's pada ngapain?" seru Alfa saat membuka pintu kamar membuat kedua puteranya melompar kegirangan di atas kasur.


"Loh, kenapa senang sekali?" ucap Alfa sambil berbaring di tengah-tengah kasur dan kedua puteranya itu langsung naik ke atas perutnya dan melompat-lompat di sana membuat Alfa kewalahan.


"Hei, awas jatuh nak." ucap Alfa sambil menangkap ledua puteranya satu per satu.


"Makannya datang" seru Mey yang baru datang membawa nampan dengan piring berisi makan anak-anak.


"Ayo makan makan" ucap Alfa langsung bangun dan membawa anak-anak untuk mendudukan mereka di tempat duduk semacam kereta bayi untuk masing-masing.


Mey menunjuk ke arah puterinya dengan dagunya kepada Alfa. Maggie yanh sejak tadi diam di atas sofa dan serius mengotak-atik benda pipihnya itu membuat kedua orang tuanya tidak mau mengganggunya.


"Kaka, nih makannya datang" ucap Mey.


"Iya mom" jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.


Gadis yang beberapa hari lagi akan genap berusia 6 tahun itu semakin luar biasa, beda dengan anak-anak seusianya.


"Kaka, makanlah dulu nanti dilanjutkan mainnya" ucap Mey untuk kedua kalinya membuat Maggie langsung melepas ponselnya entah apa yang dia lakukan sehingga seserius itu.


Alfa dan Mey benar-benar menurus anak-anak mereka sendiri tanpa ada pengasuh karena jika keduanya sibuk maka opa dan omalah yang menjaga anak-anak mereka.


****


Hari ini, hari yang bersejarah bagi Reno dan Novi.


Gadis itu sama sekali tidak tersenyum di hari bahagiannya, ia lebih banyak melamun. Reno tidak tega melihat gadisnya yang sama sekali tidak bersemangat dam tentu ia mengerti dengan apa yang dipikirkan gadis itu.


Bunda Nur juga tidak dapat berbuat apa-apa karena semua sudah terjadi. Mau diperbaikipun yang bersangkutan bahkan masih koma apalagi anak dari isteri sahnya sama sekali tidak mengijinkan.


Novi sedang di rias di dalam kamar begitu juga bunda Nur yang disulap menjadi sangat cantik karena hari ini adalah hari bahagia puterinya. Kebaya berwarna crem yang kontras dengan tubuhnya.


Sementara Novi jangan ditanya, gadis itu sudah seperti princess dengan gaun berwarna putih tulang tanpa lengan membuatnya sangat cantik hari ini.


Semua keluarga sudah bersiap tak terkecuali, karena sebentar lagi rombongan itu sudah bergerak menuju tempat pernikahan.


.


.


.


Kedua mempelai laki-laki dan perempuan sudah duduk di tempat yang disediakan kusus untuk mereka. Saat akan memulai acara pernikahan, tiba-tiba pemandu acara suci itu mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terkejut kecuali Reno yang merasa lega karena sejak tadi ia harap-harap cemas pikir dia dipermainkan.


"Hari ini akan ada dua pasang mempelai yang akan di nikahkan. Yang pertama pasangan dari pak Veron dan ibu Nur,


yang kedua pak pak Reno dan nona Novi"


Tanpa mengangkat kepala, Novi meneteskan air mata entar air mata bahagia atau air mata apa hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Arjo mendorong kursi roda ayahnya ke salah satu tempat lagi ya disiapkan sebelumnya. Lalu membantu sang ayah duduk di sana, dan ibu angkat Reno menuntun bunda Nur untuk duduk di samping pak Veron.


Arjo yang melihat Novi sejak tadi menundukan kepala, berjalan mendekatinya dan berjongkok tepat di depannya.


"De, maafkan keegoisan kaka yang terlambat menyadari kehadiranmu. Berbahagialah mulai dari sekarang. Kamu, aku, ayah dan ibu, kita akan menjadi keluarga" ucap Arjo lirih.


Dengan refleks, Novi langsung menegakan kepala dan menatap Arjo penuh selidik. Tapi tidak ada kebohongan di mata pria itu. Gadis itu pengalihkan pandangannya dan menatap ke arah sang ayah dan bunda. Ternyata bunda Nur pun hanya menunduk saja.


Arjo yang mengerti tatapan adik yang baru diakuinya, bangkit berdiri dan merjalan ke arah bunda Nur dan melakukan hal yang sama yaitu berjongkok di depan wanita itu membuat bunda terkujut.


"Maaf ibu, maafkan aku. Mungkin ibu berpikir ini hanya sebuah permainan. Tidak, aku telah memikirkan semuanya selama ini, dan tidak ada pengaruh dari luar. Aku mau ibu menjadi ibu sambungku" ucap Arjo sungguh-sungguh membuat wanita itu berkaca-kaca.


"Maukah ibu menjadi ibu sambungku? apakah aku juga layak memanggil ibu dengan sebutan bunda?" ucap Arjo dengan berkaca-kaca.


Bunda mengangkat kedua tangannya dan menyentuh rahang kokoh anak mudah itu lalu mengangguk tanpa berucap sedangkan air matanya sudah membanjirinya. Arjo dapat merasakan sentuhan tangan seorang ibu yang betul-betul seperti segatan yang sangat berbeda-beda. Arjo menyesal, kenapa baru sekarang dia menyadarinya.


Setelah drama haru biru itu, akhirnya mereka memulai acara intinya.


.


.


.


Setelah satu jam kemudia kedua pasang itu sudah resmi menikah secara sah. Keluarga besar itu akhirnya pulang karena akan melanjutkan acara di hotel nanti.


Baik Arjo maupun Novi serta yang lainnya merasa lega karena semua beban hidup yang selama ini mengganggu pikiran hidup mereka dapat di selesaikan.


Mereka pulang bersiap-siap untuk melanjutkan resepsi antara Reno dan Novi di hotel nanti.


Ikuti juga Novel Author yang lain.




Goodbye Daddy, See You Again




Kau Yang Memintaku Pergi




Terpaksa Menikah (Puteri Dari Wanita Masa Lalu Papa)




BERSAMBUNG


Jika ada yang bertanya, ko bisa ayah veron hidup bersama bunda Nur dan Novi puluhan tahun tanpa status yang jelas? Jawabannya, Ya, itulah yang banyak terjadi di Indonesia bagian Timur.