Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
156. Ayah Baru



Hari ini Maggie kembali menjalani hari-harinya seperti biasa yakni sekolah dan pulang diantar oleh sopir pribadinya yang baru karena opa sama omanya harus menjaga si kembar.


Beberapa hari lagi, Maggie sudah genap usia enam tahun namun kali ini dia sendiri meminta pada kedua orang tuanya untuk acara ulang tahunnya di rayakan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.


Gadis kecil itu mulai menyadari akan seauatu yang bisa saja membahayakan dirinya jika ia selalu tampil di depan publik.


"Sayang, apa kamu mau acara ulang tahun kalu ini seperti apa?" tanya Alfa saat mereka duduk di sofa ruang keluarga dan dengan manjanya Maggie langsung duduk dipangkuan sang daddy.


"Kaka tidak ingin acala yang lesmi sepelti biasanya. Kaka mau di lumah aja dan beldoa sendili aja" ucapnya serius membuat kedua orang tuanya terkejut.


"Kenapa syg?Apa yang membuat kamu memilih tidak merayakan ulang tahunmu?" tanya hati-hati takut jangan sampai ada yang menyinggung perasaan puterinya ataukah dia merasa dengan adanya si kembar posisinya digeser.


"Tidak. Kaka anak cewek dan ketulunan oma Latna juga anak daddy sama mommy yang sama-sama olang pengaluh. Kaka tidak mau tampil di publik lagi kalena nanti kaka besal bisa bahaya" jelasnya dengan sangat bijak.


Puteriku yang pernah ku abaikan ternyata sudah semakin dewasa. Maaf sayang, daddy pernah membuat masa kecilmu suram. Tapi percayalah, kamu anak kebanggaan daddy dan tidak bisa tergantikan. Tetap sehat ya sayang? Batin Alfa sambil mengusap pucuk kepala puterinya yang masih anteng di atas pangkuannya.


Mata pria itu berkaca-kaca dan langsung mendekap puterinya dengan kuat.


"Iya sayang, jika ini yang kamu inginkan untuk melindungi dirimu, maka daddy sama mommy akan menuruti. Tapi daddy harap kamu tidak menolak semua pemberian daddy sama mommy bahkan yang daddy mommy lakukan sekalipun." ucap Alfa.


"Jangan terlalu cepat dewasa ya? daddy masih rindu sama tingkah anak daddy yang biasanya." lanjut Alfa.


"Rasanya mommy baru merintih kesakitan melahirkan kamu tapi sepertinya cepat sekali kamu sudah bisa mengambil keputusan yang luar biasa dan kamu juga sudah bisa bertindak untuk hal yang besar" ucap Mey menimpali sambil memeluk anak dan suaminya.


Tanpa keduanya sadari bahwa ternyata puterinya sudah terlelap dalam hangatnya dekapan seorang daddy.


"Rupanya sudah tertidur" ucap Alfa saat merasakan tubuh puterinya sudah lebih berat.


"Iya, mungkin dia terlalu banyak begadang sehingga lelah" ucap Mey. Kedua orang tua ini memang tahu apa saja yang puterinya lakukan. Alfa diam-diam menyambungkan semua akun media sosial dan juga jaringan laptop pintar puterinya sehingga semua yang dilakukan gadis kecil itu terpantau.


"Terima kasih sayang. Kamu sudah melahirkan seorang puteri yang luar biasa untukku. Kalian adalah dua harta berharga yang akan aku jaga dengan nyawaku sendiri" ucap Alfa sungguh-sungguh sehingga langsung mendapat satu kecupan dibibirnya dari sang Isteri.


"Apa yang akan kita lakukan untuk ulang tahunnya kali ini?" tanya Mey pada suaminya.


"Ikuti saja maunya, karena sudah saatnya dia harus disembunyikan dari publik karena akan berbahaya jika orang tahu kalau dia cucu dari mama dan ayah. Kamu mengertikan? puteri kita bukan gadis sembarangan, dia gadis istimewa." jelas Alfa.


"Iya mas, aku takut jika nanti saat audah gadis ada orang yang akan menjebak dia. Ah bukannya anak lelaki kecil yang dulu itu anaknya tuan Arjo ya?" ucap Mey bersemangat.


"Kenapa kamu tanya seperti itu? apa kamu mau menjodohkan mereka?" tanya Alfa penuh selidik.


"Bukan, aku hanya ingat waktu anakmu begitu posesiv jika dekat dengan si Roberth itu" ucap Mey cekikikan mengingat tingkah puterinya tepat ulang tahun Maggie tahun kemarin.


"Cinta yang sesungguhnya akan muncul jika sudah dewasa nanti, jadi biarkan dia sendiri mencari jati dirinya" ucap Alfa


"Iya mas, aku setuju sama kamu" jawab Mey.


*****


Waktu terus berlanjut, ulang tahun Maggie juga sudah terlaksana seperti yg dia mau yakni merayakannya di rumah dan acara yang sederhana.


Gadis kecil itu akhir-akhir ini hanya bergerak di balik layar bahkan sekolahnyapun sudah dipindahkan sehingga ia benar-benar menjadi orang baru baru dan apa adanya. Maggie tidak lagi diantar jemput oleh daddy mommynya atau opa omanya.


Ia sekarang memiliki sopir pribadi dari salah satu anak buah kepercayaan yang oma kirim dari London.


"Om Bedi, nanti singgah toko buku dulu ya? kaka mau beli buku" ucap Maggie yang baru masuk ke dalam mobil jemputannya siang ini.


"No, kaka bukan non" protesnya yang memang tidak suka dipanggil non.


"Iya baik kaka" jawab Bedi pada akhirnya mengalah walaupun ia merasa kurang enak hati dengan panggilan itu kepada majikan kecilnya.


Mobil itupun melaju hingga tiba di depan toko buku yang dimaksud oleh puteri kecil tuan mudanya itu.


Maggie lebih dulu dari mobil tanpa menunggu Bedi membuka pintu padanya.


"Ayah, kaka mau beli buku celita tellebih dahulu" ucap Maggie membuat pria berusia 27 tahun itu terheyak saat dipanggil ayah.


Maggie dengan tampang santainya malah mendekat ke arah Bedi yang bengong dan langsung menggandeng tangannya.


"Ayah, ayo dong please" desak gadis kecil itu.


"Tapi kaka?" ucap Bedi ingin protes.


"Tidak ada tapi-tapi oke. Pokoknya hari ini ayah harus temani kaka membeli semua buku yang kaka inginkan.


Bedi akhirnya tidak bisa menolak diajak bermain drama ala gadis kecil itu, status singkat sebagai seorang ayah kepada puteri tuan mudanyapun akhirnya dimulai dari sekarang.


Aduh non, kenapa harus aku yang diposisi seperti ini? bisa tidak laku ni, dikira duda beranak satu gue. Batin Bedi.


Maggie terus menarik tangan ayah barunya berkeliling mencari buku yang mau dia beli. Tanpa sadar Bedi benar-benar menikmati peran singkatnya itu, mereka menjalani momen itu senatural mungkin sehingga sempat diabadikan dengan kamera-kamera dari para pengunjung.


Wajah cantik yang dimiliki oleh Maggie membuat banyak orang gemas, walaupun memiliki seorang ayah yang sederhana.


"Sudah semua bukunya?" tanya Bedi saat Maggie mengajaknya pulang.


"Sudah. Tapi ayah, kaka mau ke toiled dulu." ucap Maggie.


"Mau diantar?" tanya Bedi.


"Iya tapi jangan sampe dekat" jawabnya.


Maggie melangkah lebih dahulu dan diikuti oleh Bedi menuju ke toiled wanita. Namun pria itu berdiri agak jauh dari sana karena tidak mungkin ia harus ada di toilet wanita.


Setelah menyelesaikan ritualnya di toiled, Maggie kembali keluar.


"Eh ka' jalan pakai mata dong, olang secantik ini ko ga diliat sih?" gerutu Maggie karena hampir terjatuh akibat ditabrak seorang gadis yang juga baru masuk bersama teman-temannya.


"Eh anak kecil, kamu itu yang minggir" bentak wanita itu.


"Yeee olang, aku duluan yang ada disini" cibir Maggie membuat gadis itu marah.


"Cih anak siap yang dibiarkan keliaran di tempat umum? mau ngemis kali?" gerutu gadis itu tapi bisa di dengar oleh Maggie.


"Malu ka kalu tidak mau ngalah sama anak kecil. Emang tempat ini punya nenek moyang kaka apa?" ucap Maggie langsung pergi dengan gayanya.


"Hei urusan kita belum selesai woi" teriak gadis itu.


"Cantik-cantik kaya talsan" teriak balas Maggie membuat Bedi terkekeh melihat gadis itu geram.