
Di kantin, siswa-siswi kembali membahas soal kedatangan pria tampan di sekolah itu.
"Cowok tadi benar-benar keren. Aku rasa dia adalah pria tertampan yang aku temui seumur hidupku" ucap siswi A
"Pasti anak orang kaya. Apa Jangan-jangan dia anak baru yang akan pindah masuk ke sekolah kita?" ucap siswa B
"Sepertinya nggak, dia bukan tipe anak sekolahan tapi seorang pemimpin yang berkarisma" ucap Siswi C
"Hei, apa sih yang kalian bahas sejak tadi?" tanya Lia yang terganggu dengan suara berisik beberapa siswi tadi.
"Ini loh, sementara ada tamu di ruang kepala sekolah, tamunya ganteng bangat... ohhh" ucap Siswi B menjelaskan.
"Oh iya tadi aku sempat memotret nya, nih" ucap siswi A sambil menunjukkan layar ponsel nya ada foto Daffa yang diambil secara diam-diam. Lia yang penasaran langsung mengambil ponsel gadis itu dan melihatnya. Matanya membola saat melihat pria tampan yang benar-benar nyata itu.
"Hah? dari mana orang ini? tampannya, siswa-siswa di sekolah ini mah lewat." ucap Lia yang benar-benar kagum dengan ketampanan pria itu walaupun hanya dalam foto saja.
Lia langsung bergegas pergi dari kantin padahal makanannya baru disentuh sedikit saja. Dan dengan patuh sahabat-sahabatnya itu mengekor dari belakang.
Tidak ada yang tampan selain abang. Ahhhh kenapa sih kepala ini masih saja mengisi tentang pria freezer itu? Batin Ike menggerutu.
"Kenapa kamu kelihatan kesal?" tanya Jackson yang sedang makan bersama Maggie di kantin.
"Nggak, aku hanya kesal saja dengan gadis-gadis ini. Hanya karena pria ganteng aja sampai mengganggu satu kantin" ucap Ike asal.
"Memang kamu nggak tertarik jika membahas pria ganteng?" tanya Jackson.
"Dari lahir aku sudah dikelilingi pria ganteng. Bahkan saking dekatnya sampai aku ngga diterima keberadaanku" ucap Ike namun kalimat terakhirnya hanya mampu ia ucapkan dalam hati.
Keduanya terus makan dengan beberapa siswa-siswi yang juga masih makan di kantin itu hingga tersengar suara pengumuman dari ruang guru untuk berkumpul di aula. Satu per satu mulai meninggalkan kantin termasuk Ike dan Jackson. Mereka semua mulai bergegas ke aula sesuai arahan suara pengumuman tadi.
Semua siswa-siswi sudah berada di dalam aula. Salah satu guru datang dan memberitahukan untuk bersabar sebentar.
"Selamat siang anak-anak. Mohon bersabar sebentar karena kita akan bertemu langsung dengan pemilik sekolah ini, Beliau akan memberikan arahan dan juga menegaskan peraturan yang ada disekolah ini agar tidak ada yang melabggarnya, karena jika melanggar maka akan ada sanksinya. Semua mulai riuh dengan opini masing-masing, ada yang membahas soal anak muda tadi, ada yang membahas soal pelanggaran dan sanksi bahkan ada yang berniat untuk melaporkan kasusnya Ike karena ini adalah waktu yang tepat jika dilaporkan langsung kepada si pemilik sekolah ini. Siapa lagi kalau bukan Lia dan sahabat-sahabatnya.
" Yah biar dikeluarkan sekalian, yang sudah merusak nama sekolah dengan statusnya itu" sindir Lia namun tidak digubris oleh Ike.
Apakah opa Albrth dan oma Ratna berada di Indonesia? berati kaka Maggie juga sudah pulang. Ahh tapi kan opa Gaston masih koma. Batin Ike bermonolog.
Ike tahu jika Sekolah ini didirikan oleh opa Alberth sehingga ia berpikir jika pertemuan dengan pemilik sekolah maka itu adalah opa atau oma.
Ike tidak peduli dengan sindiran dan pembahasan yang menyinggung soalnya, ia asyik dengan ponselnya dan memasang Headset di telinganya lalu bersandar ditembok dan memejamkan matanya sambil menghayati isi lagu yang menggambarkan tentang perjalanan cintanya.
Jackson yang duduk disampingnya tidak mengganggunya karena ia mengerti dengan keadaan dan suasana hati gadis ini yang tengah jadi bahan gosip. dengan menutup telinganya pakai headset maka ia bisa menghindari perndengarannya dari cibiran Anak-anak itu.
Kamu gadis yang luar biasa. saat orang lain berkoar-koar untuk mengungkapkan kebenarannya, kamu malah mendiamkannya. Aku salut sama kamu Ke'. Kamu benar-benar gadis idamanku. batin Jackson.
Satu ruangan hening begitu melihat kepala sekolah dan cowok tampan yang baru saja menghebohkan satu sekolah itu masuk ke dalam Aula.
Ike yang menyetel volume musik cukup keras bahkan tidak mengetahui jika orang yang ditunggu-tunggu sudah ada di dalam ruangan itu.
Daffa mulai menjangkau semua sisi ruang untuk melihat siswa-siswi yang ada di ruangan tersebut. Ia tidak bisa menjangkau Ike karena gadis itu duduk di bagian belakang dan terhalang oleh siswa-siswi yang lain.
"Selamat siang semua!!!" ucap Daffa memulai pembicaraannya.
"Ike.. hei" ucap Jackson pelan sambil menyentuh pundak Ike agar tersadar karena arahan akan segera di mulai.
"Hah? kenapa?" ucap Ike sedikit berisik membuat semua orang menatapnya. Ia bahkan belum menyadari keberadaan pria yang berdiri di depan sana.
Dengan cepat Jackson menggunakan telapak tangannya untuk membungkam agar ia tidak berisik. Bertepatan dengan itu, Daffa pun melihatnya.
Deg
Ike
Daffa tercekat saat melihat ada seorang pria yang berani menyentuh gadis itu.
Beberapa detik kemudian, Ike pun tersadar dan menatap ke depan.
Deg
Hal yang sama pun dirasakan oleh gadis itu. Lebih tepatnya rasa sesak dan ingin menangis. Sudah sejauh ini ia berlari hingga meninggalkan kedua orang tuanya untuk menghindari pria ini, tapi dengan gampangnya ia menampakan diri didepannya dan mengorek kembali luka hati gadis itu.
Ike terdiam saat kedua mata itu saling terkunci dan beberapa saat kemudian matanya mulai berkaca-kaca. Daffa dapat melihat dengan jelas jika tatapan itu penuh dengan kebencian.
Ike memutuskan tatapan itu dan menundukkan kepalanya beberapa saat bahkan air matanya sudah menetes.
"Apakah aku terlalu kasar menutup mulutmu?" ucap Jackson panik karena melihat Ike yang menunduk sambil mengusap air matanya. Ike hanya membalas dengan celengan kepala.
Interaksi antara Ike dan Jackson tidak lepas dari pandangan Daffa.
Pria itu bahkan sudah sulit untuk meneruskan arahannya siang ini setelah melihat kenyataan yang ada di depan matanya.
Baru pagi ini ia mencari cara untuk bertemu dengan Ike dan banyak hal yang ia pertimbangkan agar pertemuannya tidak menimbulkan hal negatif antara keduanya, namun rupanya alam berkehrndak lain sehingga ia harus bertemu dengan cara seperti ini tanpa persiapan apapun.
"Silahkan dilanjutkan tuan muda" ucap kepala sekolah yang melihat Daffa terdiam setelah kekacauan di belakang tadi yang ditimbulkan oleh Ike.
"Baik Pak" ucap Daffa yang kembali menarik nafas untuk menetralkan perasaannya dan melanjutkan pembicaraannya tadi.
Bersambung