Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
165. Oma Vs Cucu



Keadaan semakin memanas, para penjahat terus mengeluarkan stok anak buah yang masih tersisa entah datangnya dari mana.


Orang-orang yang dikirim oma Ratnapun sudah tiba cukup banyak tapi tidak mengalahkan banyaknya anak buah musuh mereka.


Riko melihat semakin banyak anak buah oma Ratna yang datang untuk membantu mereka akhirnya mengambil kesempatan untuk membawa Lili pergi sebelum terjadi sesuatu yang membahayakan diri gadis itu.


"Nona, ayo ikut aku" ajak Riko


"Mau ke mana om?" tanya Lili.


(Ya Tuhan, kanapa aku dipanggil om? memangnya tampangku tua bangat ya) batiN Riko yang ingin protes namun waktu tidak memungkinkan karena ia harus membawa gadis itu pergi jauh dari para penjahat tersebut.


"Ikut saja sebelum mereka melihat kita" ucapnya lagi dan langsung diikuti oleh Lili. Riko membawa Lili ke arah belakang tempat dimana tadi mereka menyembunyikan kedua orang tua Lili yankni di ujung terowongan.


Setibanya di terowongan tersebut, Lili merasa semakin ketakutan karena di sana sangat gelap, hanya bermodalkan laser kecil yang dipegang oleh Riko sebangai tanda agar para anak buah yang ditugaskan untuk menjaga kedua orang tua Lili tahu bahwa yang datang adalah teman mereka karena dilihat dari warna laser yang dipakai.


Lili yang sejak tadi berjalan di samping Riko sambil meremas ujung baju Riko dengan kuat, akhirnya sadar kalau di sana ada kedua orang tuanya. Gadis itu langsung berlari ke arah kedua orang tuanya dan memeluk mereka dengan sangat erat sambil menangis sesugukan.


"Baiklah, sekarang kalian harus pergi melalui terowongan ini, dan akan ada anak buah yang lain sudah menunggu kalian dengan mobil di sana. Aku harus kembali untuk membantu yang lainnya" ucap Riko yang langsung diiyakan oleh keempat orang yang ditugaskan untuk menjaga keluarga Reno.


Riko membalikan tubuhnya hendak kembali ke medan pertarungan, dengan refleks Lili menguatkan remasan tangannya diujung baju Riko seperti semula.


"Kanapa?" tanya Riko sambil menatap turun ke arah tangan Lili yang masih setia ada di sana.


"Ahh maaf, ti tidak apa-apa" ucapnya gugup dan langsung melepaskan tangannya dari sisi baju Riko.


"Jangan takut, aku akan kembali dengan selamat" ucap Riko sambil mengusap pucuk kepala gadis itu membuat kedua orang tua gadis itu tersenyum bahagia.


Riko akhirnya pergi dari hadapan mereka, Lili terus menatap ke arah pria itu hingga hilang di gelapnya malam. Rombongan papa Sandro dan beberapa anak buah itu akhirnya pergi juga dari sana dan seperti kata Riko bahwa di ujung terowongan itu sudah ada mobil yang ditugaskan untuk menjemput mereka dan ternyata betul.


Riko yang kembali dan mendapati keadaan semakin memanas akhirnya langsung masuk dalam pertarungan panjang itu.


*****


"Cih lama bangat sih? kan cuma kalahin aja kenapa sampai beljam-jam? bikin kaka ngantuk aja" gerutu gadis kecil itu karena melihat pertarungan yang belum saja berakhir.


"Kenapa kamu yang sewot?" cibir oma pada sang cucu karena memang melihat mata gadis kecil itu sudah sayup-sayup karena memang sekarang sudah tengah malam.


"Sewotlah, kaka sudah kasih kemudahan untuk bawa opa Sandlo sama kelualga bebas kenapa hadapi olang jahat aja lama bangat" ucapnya membalas ucapan oma.


Keduanya diam cukup lama hingga suara oma membuat mata cucunya yang sudah merem itu kembali terbuka lebar dan berbinar.


"Bagaimana kalau kita nyusul daddymu dan yang lainnya?" usul sang oma.


"Hah, apakah benal oma?" tanya gadis kecil itu memastikan.


"Iya benar" jawab oma serius.


"Heitsss sebelum pakai jaket, pakai dulu pelindung dari dalam"ucap oma kepada cucunya agar bisa melindungi tubuh kecil cucunya dari peluru-peluru nyasar jika tidak diketahui.


Maggie pun mengambil pelindung itu dan memakainya terlebih dahulu lalu memasang jaketnya serta perlengkapan lain seperti topi, masker dan yang lainnya.


Dua singa betina beda usia itu akhirnya keluar dari hotel tempat mereka menginap dengan perlengkapan lengkap baik itu belati, maupun senjata api dan senjata-senjata jenis lainnya yang sudah disiapkan sang oma.


"Yeee oma hebat bisa balapan sama pembalap intelnasional" puji Maggie saat sang oma menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata. Gadis kecil itu bukannya takut malah bersorak gembira sepanjang perjalanan mereka.


Setelah menempuh perjalan yang cukup jauh dan memakan waktu hampir satu jam lebih dengan kecepatan di atas rata-rata.


Keduanya turun tepat di gerbang masuk karena memang suasana sangat sepi. Semua penjahat masih bertarung di belakang.


Dengan santainya sepasang oma dan cucunya itu melangkah masuk seperti masuk rumah sendiri. Si kecil yang juga menikmati perannya sebagai mafia kecil ikut melangkah masuk dengan gaya yang dibuat sangat mirip dengan sang oma yang tegas dan berwibawah.


Saat tiba di dalam gedung tua itu, ternyata ada seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya yang entah sejak kapa ada di sana dan ditemani oleh beberapa orang anak buah yang siaga dengan senjata mereka.


Melihat ada orang asing yang masuk, mereka semua langsung serentak mengangkat senjata mereka dan menodongkan ke arah oma dan cucu itu.


"Hahaha kaka pikil patung telnyata bisa gelak hahahaha" ucap gadis kecil itu sambil terbahak-bahak karena pria-pria berseragam biru tua itu tadinya berdiri seperti patung yang tidak bergerak tapi begitu melihat mereka langsung bereaksi.


"Diam kamu anak kecil" bentak pria yang duduk di kursi itu.


"Cih makanya jangan buat lucu opa, masa opa betah sih duduk diantala patung-patung ini? liat tuh senjata meleka saja ikut tidak gelak. Eh iya emang senjata benda mati" ucapnya membuat para pangawal itu merasa gemas namun karena posisi mereka lagi dalam tugas jadi mereka tetap siaga.


Oma membiarkan cucunya untuk mengulur waktu dengan bercerita dengan pria yang diyakini adalah bos mereka itu, ia yakin bahwa gadis kecil itu akan sulit ditaklukan jika hanya dengan berdebat.


"Tutup mulutmu anak kecil, atau kau akan berakhir ditempat ini hah?" ancam pria itu semakin geram. oma terus membiarkan namun matanya tengah memantau semua sisi dan membaca kelemahan para musuh itu.


"Opa salah, itu namanya tamat bukan belakhil. Biasanya ade nonton dlakol kalo celitanya udah habis tulisnya tamat bukan belakhil" keritik anak kecil itu membuat pria itu langsung melempat pisau lipatnya ke arah Maggie tapi entah sejak kapan, pisau lipat itu sudah menancap di salah satu papan yang tak jauh dari pria itu duduk.


Para pengawal merinding melihat kejadian tersebut namun tidak dengan Maggie yang malah semakin berbinar melihat aksi omanya yang sekejap mata.


"Cieh hebat benal oma, kaka lasa kaya lagi belmimpi aja deh." pujinya membuat pria itu semakin emosi.


"Siapa kau dan untuk apa ada di sini" tanya pria itu sambil menatap sinis ke arah oma Ratna.


"Dia omaku opa, kalo aku cucu oma" ucap Maggie.


(Cih orang juga tahu kalau aku omamu ya otomatis kau cucuku kenapa harus dijelaskan lagi?) batin oma yang malas berurusan dengan ucapan berbelit cucunya.


BERSAMBUNG


.