
Hai pembaca setiaku, sehat selalu ya dan jangan bosan-bosan untuk mengikuti karya-karyaku.
Sedikit pemberitahuan kepada kalian semua, beberapa capter lagi novel ini akan tamat dan akan dilanjutkan ke season 2 yang kusus menceritakan tentang puteri Alfa dan Mey yakni Maggie Pradania Adipaty.
Ceritanya akan menyambung di judul ini jadi jangan lupa like, komen, dan vote serta tekan jantungnya.
*
*
*
"Aku akan berhitung sampai tiga dan kita melompat ke atas kontener itu oke?" ajak sang abang.
"Tapi aku tidak sampai, kontenernya terlalu jauh bang" ucap Lili yang merasa takut untuk kesekian kalinya.
"Kamu tetap pada genggaman abang, kamu tidak akan jatuh." ucap Reno menguatkan sang adik.
Reno menggenggam tangan adiknya dan dan mulai berhitung.
"Satu, dua,... ti.. ga" ucap Reno dan langsung membawa sang adi melompat tepat di atas kontener walaupun sedikit kesulitan karena adiknya hampir jatu ke bawah.
"Ahkkk" teriak Lili yang dalam posisi bergantung di sisi kontener tersebut, sedangkan Reno sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan itu.
""Ayo de, pegangan yang kuat kaka akan mengangkatmu ke atas." seru Reno dengan suara yang sangat pelan namun bisa di dengar oleh sang adik yang langsung merespon dengan menambah satu tangannya lagi untuk memegang tangan abangnya.
Dengan susah payah, Reno berhasil mengangkat adiknya ke atas. Lili yang gemetaran karena panik hampir jatuh tadi membuat sang abang memeluknya erat untuk mengurangi rasa takutnya.
"Jangan bergerak" ucap beberapa pria yang menodongkan senjata mereka ke arah Reno dan Lili.
"Akhirnya kau datang dengan sendirinya untuk membebaskan adik tercinta itu kan?" ucap pria yang pernah debat dengan Reno di rumah orang tuanya kemarin malam.
"Aku tidak tahu, alasan apa kau menculik keluargaku" jawab Reno dengan tegas dan dingin.
"Jangan pura-pura tidak tahu anak muda." ucap pria itu geram.
Lili yang tadi memeluk abangnya dari depan, kini sudah berpindah ke belakang dengan tubuh kecilnya yang kembali gemetar karena ketakutan.
"Oh ya, aku tidak tahu kita pernah bersama sebelumnya atau tidak sehingga kau begitu membenciku tanpa alasan" ucap Reno mengumpan pria itu untuk mengatakan sesuatu.
"Anak ingusan, kau tidak perlu tahu kenapa aku membencimu" jawabnya semakin panas.
"Hahaha aku tahu, kau hanya menjalani rencana seseorang yang berlindung dibalik ini semua, dasar pecundang" ucap Reno dengan suara yang sedikit melengking.
"Kurang ajar, berani-beraninya kau meneriakiku hah?" teriak pria itu langsung menekan pelatuk senjatanya membuat Reno berbalik dan memeluk sang adinya dengan sangat erat.
Setelah bunyi senjata api itu berlalu, baik Reno maupun Lili tidak merasakan sakit apa-apa, ternyata pergelangan tangan pria itu sudah tertantap pisau yang entah datangnya dari mana.
Acara baku hantam pun terjadi di di lorong kontener yang bersusun agak jauh dari sana. Reno kembali membawa sang adi melompat turun ke bawa dan terus menggenggam tangannya sambil berlari ke arah susunan kontener yang jauh sekitar 100 meter dari tempat mereka berada tadi.
Hujan peluru terus mengejar mereka namun dengan cekatan Reno mampu membawa adiknya untuk menghindari peluru-peluru itu. Setelah berhasil masuk ke lorong kontener-kontener itu, Reno memberi waktu sejenak pada sang adik untuk berhenti sejenak mengumpulkan nyawanya yang tadi melayang karena ketakutan.
"Bang, aku takut. Aku takut kita tidak bisa bertemu sama papa mama lagi" ucap Lili dengan sudah meneteskan air mata.
Sementara di lorong lain, baik Alfa dan anggota serta Riko dan anggota tengah beradu kekuatan dengan para anak buah dari penjahar itu.
*****
"Kaka, jadi ini yang kamu bilang sedikit terluka?" tanya oma tidak habis pikir dengan solusi yang diberikan cucunya pada para orang tua di medan perang tersebut.
"Iyalah" jawabnya santai dengan berbaring di tempat tidur sambil mengemil makanan ringan yang tadi dipesan oleh oma Ratna.
"Ini namanya bukan sedikit terluka tapi bisa korban nyawa, kamu tahu tidak?" ucap oma yang mulai frustrasi saat melihat keadaan di lokasi semakin memanas dan para penjahat itu semakin lama semakin banyak jumlahnya entah datangnya dari mana.
"Cih, katanya ketua mafia tapi kenapa takut?" cibir Maggie pada sang oma yang tengah panik karena orang-orang yang dia utus untuk menemani Alfa, Reno dan Riko hanya sekitar lima belas orang saja.
"Tapi daddymu bawa anggota tidak banyak kaka" ucap oma gemas bercampur geram.
"Yee oma hidup di jaman apa sih? tinggal telepon aja yang lain nyusul kenapa lepot bangat kaya halus kilim sulat dan tunggu balasan aja" ucap gadis kecil itu yang tidak kalah geram.
Oma Ratna sibuk menghubungi para pemimpin kelompok yang ia tempatkan di setiap sisi kota itu untuk menyusul Alfa dan lainnya sedangkan Maggie terus ngemil sambil menonton film action yang tengah berlangsung di beberapa layar yang ada di dalam kamar itu. Siapa lagi kalau bukan Alfa, Reno dan Riko yang tengah bertarung di lorong yang berbeda yang tertangkap oleh kamera.
"Cih kenapa daddy masih main-main sih? dibunuh aja kali?" gerutu Maggie yang melihat sang daddy pergi begitu saja saat berhasik mematahkan kaki dan tangan penjahat terakhir yang ia hadapi di lorong itu.
"Ciehhh om Liko pasti lagi suka nih sama ka Lili" ucapnya sambil menutup matanya dengan tangan sebelah saat melihat Riko yang dengan sigap menghadang para penjahat yang berusaha untuk menjangkau tubuh Lili.
"Kenapa ka" tanya oma sambil ikut melihat ke arah layar yang ada di sana.
"Tuh oma lihat, om Liko dali tadi ga jauh dali ka Lili" ucap Maggie sambil menunjuk ke arah layar tersebut.
"Kaka, dalam keadaan begini kamu masih berpikir yang aneh-aneh? om Riko itu berusaha menjaga ka Lili supaya jangan terluka, lihat tuh banyak orang jahat sehingga om Riko melindunginya" jelas oma Ratna yang sebenarnya juga merasa seperti yang dikatakan cucunya tapi tidak mau mengotori otak kecil itu untuk semakin memikirkan hal dewasa.
"Kenapa tidak om Leno saja yang jagain ka Lili?" protesnya karena tidak mendapat dukungan dari sang oma.
"Tuh kamu lihat om Reno lagi kewalahan hadapi musuh" jawab oma pada sang cucu.
"Cih oma kenapa sih ga sepikilan sama pendapat kaka? bial bisa gangguin om Liko nantinya" gerutunya sambil mengunyah makanan ringan itu dengan kasar sehingga menimbulkan suara berisik.
FLASH BACK
"Roky, siapkan orang untuk memasang CCTV tersembunyi ditempat ade diculik kemarin " ucap oma Ratna dari balik telepon saat ada di Rumah Sakit menjaga puteranya yang sedang koma.
"Untuk apa ma?" tanya papa Albaerth
"Pasti mereka akan datang ke sana untuk mengangkat mayat orang-orang mereka, supaya kita tahu siapa dalang dibalik ini semua" jawab mama Ratna santai.
"Baiklah, terserah mama saja" ucap papa Alberth yang turut mengiyakan keputusan isterinya.
Sejak saat itulah kamera terpasang di setiap ruangan bahkan di lhalaman gedung tua itu dan ternyata kamera-kamera itu berfungsi juga di saat-saat seperti ini.
Off
bersambung