
Reno terus mendesak gadis kecil itu untuk memberinya solusi agar bisa masuk dan menyelamatkan adiknya, namun sepertinya otak gadis kecil itu sedang tumpul dan belum bisa mendapat jalan keluar untuk para orang tua itu bertindak.
"Kaka, apa yang harus om Reno lakukan?" tanya Reno melalui benda kecil yang menempel di telinganya yang terhubung ke Maggie.
"Akkhh jangan ganggu, kaka masih belpikil." protes maggie karena suara berisik Reno yang mengganggu hayalannya.
"Tapi sekarang kita dalam keadaan darurat sayang?" ucap Reno gemas sekaligus panik.
"Cih ada maunya panggil sayang. Santai dong, kan ka Lili sehat-sehat aja di dalam" gerutunya karena Reno yang terus mendesaknya.
"Ayo sekarang kaka cepat berpikir dan kasih tahu om Reno supaya segera bertindak" ucap Reno mengalah.
"Cih dali tadi ke'." cibir gadis kecil itu yang masih bisa di dengar oleh semua telinga yang memakai alat di telinga itu.
(Keadaan lagi darurat tapi kenapa mereka malah debat?) batin Alfa yang sejak tadi ikut mendengar perdebatan Reno dan puteri kecilnya itu.
Di tempat lain
"Apakah kamu sudah menemukan jalan keluarnya?" tanya seorang wanita paruh baya dengan nada tegasnya.
"Masih belpikil, kenapa sih ganggu mulu?" protes Maggie tanpa melihat kearah wanita yang sedang berbicara tadi.
"Kalau sampai kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini maka warisan akan oma pindahkan kepada Daffa atau Daffi" ucap oma Ratna menantang gadis kecil itu.
(Cih enak aja, kaka yang kelja kenapa kalutuk beldua itu yang menikmati hasilnya? semangat kaka demi mendapat walisan singa London) batin Maggie menyemangati dirinya sendiri.
"Iya nyonya latu" jawabnya yang juga tegas.
Oma setia duduk di sofa tak jauh dari cucunya yang berada di atas ranjang dengan laptop dan beberapa alat canggih lainnya yang berserakan di atas ranjang tersebut. Ya keduanya saat ini berada di hotel biasa tempat oma menginap jika datang ke negara tersebut.
Otak kecil itu terus berpikir untuk mendapatkan sebuah ide yang bisa menyelamatkan adik Reno yang kini masih ada di tempat penyekapan.
"Apa om Leno siap untuk sedikit telluka? kita tidak punya cala lain lagi jika tidak dengan cala ini" ucap Maggie tiba-tiba membuat semua orang panik termasuk oma yang sejak tadi serius mengotak-atik ponselnya.
"Apa yang harus om Reno lakukan?" tanya Reno hati-hati.
"... ... ..."
Reno terpaksa mengiyakan apa yang diperintahkan gadis kecil itu walaupun ia sendiri merasa sedikit ragu dengan usulan gadis kecil itu.
Reno melangkah dengan penuh hati-hati agar tidak menimbulkan suara meninggalkan beberapa temannya tadi yang sudah dia perintahkan untuk berpencar agar dapat memantau keamanan di tempat tersebut. Setelah tiba di belakang gudang tempat penyekapan itu, Reno akhirnya mendaparti sebuah kontener tua yang tersimpan di sana.
Reno berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa naik dan sampai keatas. Beberapa kali ia jatuh tapi ia kembali berusaha untuk bisa sampai ke atas.
Setelah beberapa saat kemudian Reno sudah berhasil dan sampai di atas kontener tersebut.
Reno kembali berusaha masuk melalui cela yang hampir mencapai atap gedung itu, dengan penuh kerja keras pria itu berusaha sendirian untuk menyelamatkan adik kecil yang sangat ia sayangi itu.
"Mmmm mmmm mmm" Lili berusaha untuk berteriak saat mendengar ada suara berisik di bagian atas kepalanya, lebih tepat bunyi suara seperti ada sesuatu yang berusaha mendobrak plafon gedung tersebut. Gadis itu semakin ketakutan jika ada binatang menakutkan yang masuk ke sana.
"Ade, jangan takut ini abang, bersabarlah sebentar ya?" ucap Reno dengan ngos-ngosan.
Reno terpaksa melompat dari atas plafon hingga turun ke lantai ruangan itu.
"Ade" ucap Reno setelah sampai di sana, pria itu langsung memeluk adik kecilnya dengan penuh sayang, lalu membuka lakban yang ada dimulutnya serta membuka semua ikatan dari tangan dan kaki gadis itu.
"Kita harus segera pergi dari sini" ucap Reno pada adiknya.
"Apakah tidak ada orang di luar sana?" tanya Lili adi Reno.
"Ada, tapi kita tidak akan keluar melalui pintu ini karena mereka lagi berjaga di depan" jelas Reno membuat adiknya bingung.
"Lalu kita keluar dari mana abang? kan pintunya cuma satu" tanya Lili penasaran.
"Kita kembali keluar lewat jalur yang tadi abang lewati" jawab Reno.
"Hah? bagamana caranya bang, ini sangat tinggi dan tidak ada alat bantu satupun yang kita pakai untuk kembali naik lewat sini" ucap Lili yang mulai panik karena ide gila abang kesayangannya itu. Memang mustahil jika mereka harus memanjat tembok yang begitu tinggi untuk bisa sampai kembali ke atas atap di mana tadi Reno melewatinya.
"Kaka apa yang harus kami lakukan?" tanya Reno meminta solusi dari Maggie.
"Makanya tadi ke sana itu ikat talinya dulu, kesusahankan sekalang?" gerutu gadis kecil itu karena emosi dengan kebodohan Reno yang tidak punya otak.
"Tuh pakai tali yang tadi dipakai untuk mengikat ka Lili" perintah Maggie.
Reno yang menyadari kebodohannya langsung bertindak. Pria itu mengambil tali yang tadi dipakai untuk mengikat adiknya dan mulai menyusun beberapa barang bekas yang ada di sana sebagai tempat untuk bisa menjangkau plafon gedung tersebut.
Setelah semuanya terpasang, Reno kembali turun untuk menuntun adiknya keluar lebih dahulu.
"De, ayo keluar dan jangan sampai ketahuan oke?" pesan sang abang kepada adiknya.
"Iya bang, tapi aku takut" jawab Lili sambil bergelidik ngerih melihat tali yang tergantung dari atas itu.
"Ayo cepat kita tidak punya banyak waktu de" ucap Reno frustrasi.
Dengan hati-hati Lili mulai memegang ujung tali yang ada dan perlahan-lahan mulai naik. Ia sedikit kesusahan karena tali itu sangat halus sehingga membuat tangannya lumayan sakit namun ia berusaha menahan rasa sakit yang ada. Reno dengan sabar menunggu adiknya hingga tiba di atas baru ia pun menyusul sang adik.
Reno merasa lega saat mereka sudah sama-sama di atas atap dan ia terus menuntun sang adik untuk melompat ke arah kontener yang tak jauh dari atap tersebut.
"Aku akan berhitung sampai tiga dan kita melompat ke atas kontener itu oke?" ajak sang abang.
"Tapi aku tidak sampai, kontenernya terlalu jauh bang" ucap Lili yang merasa takut untuk kesekian kalinya.
"Kamu tetap pada genggaman abang, kamu tidak akan jatuh." ucap Reno menguatkan sang adik.
Reno menggenggam tangan adiknya dan dan mulai berhitung.
"Satu, dua,... ti.. ga"
BERSAMBUNG