
"Mmmm aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua" ucap ayah mantap membuat semua mata tertuju kepadanya saat makan malam.
"Apa itu opa?" tanya Maggie yang lebih kepo dari para orang tua.
"Ayah akan menikahi Ani satu minggu lagi" putusnya dengan wajah bahagia, sedangkan wanita yang mau dinikahi sudah memerah wajahnua dan hanya menunduk sejak tadi.
"Hah? jadi selama ini kamu? oh tuan Devid akhirnya kamu move on juga dari sahabat kecilku, tapi kayanya bi Ani seusia Mery loh" nyerocos mama Ratna.
"Seriusan ayah?" tanya Mey memastikan.
"Iya sayang tadi ayah sama ibumu sudah beli cincinnya" ucap ayah.
"Wah rupanya tadi kita lagi pusing nyariin kaka, eh opa sama omanya lagi persiapan." goda Alfa
"Emang kaka kenapa dicaliin?" tanya Maggie.
"Ya elahh anak gue, habis kabur nanya lagi kenapa cariin" gerutu Alfa yang malas karena puterinya tidak pernah normal jika bicara.
"Kaka tidak kabul tapi penuhi undangan oma buat makan-makan" ucapnya sok.
"Cih undangan, emang kaka siapa?" cibir Alfa.
"Daddy mau tahu aja, kaka itu patnel kelja oma tahu?" jelas Maggie santai sekaligus dengan nada mengolok, sedangkan yang lain hanya melongo.
"Sudah sudah, kita itu lagi bahas hari pernikahan ayah dan ibu" ucap Mey jadi penengah.
"Baiklah, ayah mau acaranya yang seperti apa?" tanya Alfa.
"Ayah tidak ingin yang meriah apalagi usia ayah sudah tidak muda lagi jadi..." ucapan opa terputus.
"Tumbenan opa ngaku tua" potong Maggie dengan cekikikan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan, membuat semua melipat bibir menahan tawa semnetara opa sudah menatap tajam cucunya.
"Berarti keluarga aja kan yah?" tanya Alfa memastikan dan untuk nenghindari kekesalan opa dari olokan cucu.
"Iya begitu saja" putus ayah.
"Kalau begitu aku harus pulang London dulu biar minggu depan ke sini lagi. Selamat ya Bu Ani, akhirnya kamu bisa naklukin pria berkarat ini." ucap mama Ratna sekaligus mengolok tuan Devid.
Alberth, mulut isteri kamu disekolahin tidak? suka ngaur. Pantas cucuku otaknya jadi rusak karena punya oma yang tidak berakhlak. Batin opa Devid sambil memutar bola matanya malas.
Makan malam pun berakhir dan masing-masing masuk ke kamar untuk beristirahat. Alfa yang akan menyiapkan semua perlengkapan penikahan mertuanya pun mulai memberi tugas pada oranh-orangnya. Walaupun acaranya hanya melibatkan keluarga tapi Alfa ingin yang terbaik untuk ayah Devid karena waktu menikahi ibu Mery karena sebuah kesalahan jadi tidak sempat ada resepsi.
*****
Reno sempat kaget saat tahu tuan Devid akan menikahi bi Ani. Pria berstatus opa yang tenang-tenang mendayung tapi sudah hampir tiba di tujuan sedangkan Reno belum ada kepastian sama sekali dan hal itu membuatnya semakin semangat berjuang.
Diam-diam, Reno juga sudah mengirimkan dokter terbaik untuk menangani ayah Novi tanpa sepengetahuan gadis itu dan bundanya. Novi sedikit heran karena perawatan sang ayah yanh seharusnya berada di kelas tiga, tiba-tiba di pindahkan ke rumah sakit terbesar di kota dan menempati ruang vip. Gadis itu sempat protes namun para dikter mengatakan jika itu mungkin kekeliruan pihak rumah sakit yang harus dilakukan.
Akhir-akhir ini Reno juga sering pulang ke mansion orang tua angkatnya, karena bagaimanapun ia harus mendapat dukungan dari sang papa yang adalah adik dari ibu kandungnya.
"Hei nak baru pulang?" tanya papa angkat Reno.
"Iya pah, tadi mash ke kantor tuan Smith dulu" ucap Reno sambil melangkah ke arah sofa lalu duduk di sana denga tububnya sedikit terbaring karena capek.
"Bagaimana, apa semuanya baik saat rapat tadi?" tanya papa.
"Baik papa, hanya aku sedikit terkejut saat besangnya tuan Smith memberi kejutan untuk pria brengsek itu." ucap Reno.
" Ternyata tante Ratna memegang video tentang pria itu yang membuat pengakuan kalau dia yang membunuh ayah sama ibu" ucap Reno geram.
"Hah? kog bisa? lalu apa yang kamu lakukan?" tanya papa.
"Aku ditekan oleh cucu tuan Devid untuk jangan dulu ambil tindakan" jelas Reno.
"Pasti masih ada sesuatu sehingga lami dilarang untuk diam" ucap papa Sandro memprediksi.
"Sepertinya pah" ucap Reno.
Pembahasan dua pria beda usia itu akhirnya berlanjut hingga isteri dan anak perempuannya datang.
"Abang...." teriak sang adik saat masuk rumah dan mendapati kakanya pulang.
"Cempreng." gerutu Rono karena suara Oca yang membuat gendang telinga bisa hancur.
"Abang, sesekali ajak Oca jalan-jalan dong, siapa tahu teman-teman abang ada yang naksir sama Oca" ucap gadis itu memohon.
"Mana ada yang mau naksir kalau kamu pemborosan begini?" ucap Reno mengejek sang adik.
"Ihhh dari pada uang yang kaka transfer setiap bulan menganggur di tabungan ade, apa salahnya ade pakai.
"Dasar" ucap sambil menoyor kepala adiknya yang mengambil ancang-ancang mau tidur di pangkuan Reno.
Keakraban keduanya membuat orang tua mereka bahagia.
*****
"Bunda, aku merasa kaya ada yang aneh, masa sih ayah bisa dipindah kan ke Rumah Sakit kota ini dan di tempatkan di ruang vip lagi" tanya Novi yang belum menemukan jawaban dari semua bentuk kebetulan yang terjadi pada ayahnya.
"Bunda juga heran nak, tapi yang perlu kita fokuskan adalah kesembuhan ayahmu. Siapapun orang yang ada dibalik ini, biar Tuhan yang membalas kebaikannya" ucap bunda.
Deg
Apa dia yang melakukan ini? akhhh tidak mungkin. Orangnya saja pergi pergi tanpa pamit bahkan menghilang tanpa kabar. Pokoknya aku tidak mau untuk jatuh ke jurang yang sama lagi karena aku sudah berjuang menutupi itu semua.
"Bun, apa ka Mey tahu soal ayah lalu dia yang melakukan ya?" tebak Novi.
"Ya bisa jadi nak, ayahnya orang yang berpengaruh" jawab bunda.
"Oh betul, dulu aku di sana, selain ayah Devid membantu perekonomian kita, mereka juga menempatkan orang untuk menjaga ayah dan bunda, jadi pasti orang suruhan ayah sudah memberi tahukan. Aku akan menelepon ka Mey untuk berterima kasih tapi aku takut ka Mey marah karena aku tidak kembali lagi." ucap Novi sedih.
"Biarlah dulu, jika ayahmu sudah sembuh kamu boleh ke sana untuk minta terima kasih secara langsung." jelas bunda.
"No, aku tidak mau ke sana karena aku tidak mau bertemu lagi sama pria rese itu" bantah Novi yang tidak ingin ke sana lagi karena tidak mau lukanya yang sudah mengering basah lagi.
"Pasti dia sudah menikah, lagian tujuan kamu pergi ke nak Mey bukan ke dia" ucap bunda.
Deg
Kenapa hatiku sakit sekali saat bunda bilang dia sudah menikah? Novi, kamu harus move on, dia bukan jodohmu dan kamu bukan levelnya dia. Batin Novi.
Gadis itu mendadak melow, padahal ia sudah berusaha namun seolah hatinya terlanjur hancur karena pria itu.
BERSAMBUNG