
"Butuh juga kamu sama bantuan daddy. Kanapa tidak beru tahu opa sama omamu itu?" ucap Alfa ngambek karena anaknya hanya berbicara normal bersamanya jika ada maunya.
"Yeee lalu apa gunanya kaka punya daddy?" ucap Maggie sewot.
Pembicaraan terus berlanjut, bahkan Daffi sudah kepanasan karena ponselnya berkeliling ke opa, oma dan semua orang dalam ruangan itu.
*****
"Halo tuan" tanya seorang pria dari balik sambungan ponsel.
"Carikan salah satu kontrakan yang sederhana atau bila perlu kosan saja untuk puteriku, segera!" ucap Alfa tegas kepada pria itu.
"Baik. siap laksanakan." jawabnya.
Alfa tidak meragukan kemampuan puterinya hanya sebagai seorang daddy, ia terus memantau puteri semata wayangnya bahkan tanpa sepengetahuan puterinya sendiri.
"Kamu adalah puteri kecil daddy yang selalu ceria saat bersama keluarga, tetap sehat sayangnya daddy" gumam Alfa yang tengah duduk dibalik meja kerjanya.
Pria itu bahkan terlihat konyol jika bersama puterinya karena ia sangat mencintai gadis kecil yang dulu ia sia-siakan. Gadis kecil yang lebih banyak kesamaan pribadi dengannya ketimbang isterinya.
Tok tok tok
"Pa, kok belum tidur sih?" ucap Mey yang setelah mengetok pintu langsung membukanya da masuk mendapati sang suami yang masih betah di ruangannya.
"Kenapa, kangen sama daddy?" ucap Alfa terkekeh, isterinya yang dulunya adalah wanita tangguh, kini menjadi manja setelah anak-anaknya mulai beranjak remaja.
"Tidak bisa tidur kalau sendiri pa" ucap Mey polos membuat sang suami langsung menarinya dan duduk di pangkuan sang suami.
Keduanya mengobrol banyak hal dengan posisi yang tetap seperti semula. Mulai dari obrolan soal perusahaan hingga musu-h-musuh dan sampai kepada keadaan anak-anak.
"Kenapa daddy hanya diam saja di sini?" tanya Mey karena saat masuk tadi, suaminya kelihatan memikirkan sesuatu.
"Daddy baru saja menelepon anak buah daddy yang ada di Indonesia untuk mencari kontrakan buat kaka" jelas Alfa.
"Tumben dia butuh bantuan daddy" ucap Mey.
"Puteri kita memang tidak berubah sejak dulu, semua yang sebenarnya bisa dia buat dengan sendiri atau bahkan bisa meminta para anak buahnya untuk melakukan tapi tidak dia lakukan. Itu tandanya dia ingin bergantung pada kkita sebagai orang tuanya" ucap Alfa dengan mata berkaca-kaca.
"Iya pa, aku merasa baru kemarin menggendongnya dan meneladani kekocakannya tapi kini dia sudah tumbuh jadi gadis yang cantik dan mandiri" ucap Mey ikut merasa terharu karena sampai saat ini belum bisa bertemu dengan sang anak secara langsung.
"Tunggulah sedikit lebih lama sampai tugas dari paman benar-benar selesai. Daddy rasa paman tidak sengaja mengirimnya ke Indonesia, tapi paman juga tahu soal pertemanannya dulu dengan keponakan tiri Novi" jelas Alfa.
"Mommy takut jika mereka bertemu dan pria itu tidak menganggap lagi kaka seperti dulu maka puteriku akan tersakiti" ucap Mey takut anaknya terluka karena cowok.
"Itu konsekuensi yang harus dia terima sayang. Tapi yakin kalau puteri kita tidak akan terpuruk hanya karena pria. Jika itu terjadi berarti mereka tidak berjodoh apalagi puteri kita masih sangat mudah. Yuk kembali ke kamar, sudah larut" ajak Alfa kepada sang isterinya karena jam sudah menunjuk pukul 23.00.
****
Di Indonesia
Saat ini waktu Indosesia sudah menunjuk pukul 20.00, seorang gadis tengah bercermin di layar kaca yang ada di kamarnya. Berpakaian serba hitam lalu turun ke lantai bawah, di sana sudah ada motor kesayangannya yang tersimpan manis di parkiran entah siapa yang menyimpannya di sana, hanya Maggie yang tahu.
Gadis remaja itu akhirnya mengendarai motor kesayangannya dan pergi begitu saja dari apartemennya itu. Sepanjag perjalanan ia bersenandung ria sambil menikmati pemandangan malam kota itu.
Beberapa saat kemudian tibalah Maggie di sebuah gedung peninggalan daddynya dan oma Ratna yang masih awet karena dijaga dengan baik oleh anak buah mereka.
"Selamat malam nona" ucap semua pria yang berjejer dengan pakaian berwarna serba hitam itu sambil sedikit menjongkokan badan mereka sebagai tanda hormat.
"Malam" jawabnya singkat dan langsung melangkah masuk karena sudah ada seseorang yang menunggunya di ruangan kusus.
Tok tok tok
"Masuk" terdengar suara dari dalam.
"Baik kaka, apa kabar juga" tanya balik Roky pada gadis kecil yang sudah dia anggap seperti keponakannya sendiri.
"Baik om. Eh lo udah sampai juga ya?" tanya Maggie yang baru menyadari kalau di ruangan itu ada seseorang lagi. Siapa lagi kalau bukan Rockzy.
"Kamu aja yang kelamaan" ucap Rockzy dengan nada mencibir.
"Yee aku lagi menikmati suasana di malam hari tahu?" protes Maggie.
"Baiklah jangan berdebat lagi" ucap om Roky menengahi pertengkaran dua anak muda itu.
"Kaka, apa yang kamu rencanakan ke depannya?" tanya om Roky.
"Daddy sudah e-mail ke kaka kalau sudah ada kontrakan kecil yang bisa kaka pakai dihari siang" jawab Maggie.
"Apa kamu tahu orang yang membuntuti kamu siang tadi?" tanya Om Roky lagi.
"Aku mengenal mereka" jawab Maggie jujur.
"Mereka?" tanya om Roky kurang mengerti.
"Iya mereka, dua orang cowok dalam kelas yang sama dengan kita" ucap Maggie menjelaskan sekaligus memberitahukan kepada Rockzy.
"Apa kaka tahu tujuan mereka mengikuti kamu?" tanya om Roky mengorek informasi lebih detail.
"Yang pertama pasti mereka penasaran dengan tempat tinggalku, secara aku kan cantik, baik, pintar cuma penampilan aja yang sederhana" ucap Maggie membanggakan diri membuat om Roky terkekeh karena gadis kecil itu masih saja belum berubah, masih suka memuji diri sendiri. Sementara Rockzy malah memutar bola matanya malas jika menghadapi tingkah Maggie yang selalu bercanda di saat serius.
"Makannya rakus" cibir Rockzy.
"Yeee itu kebutuhan pak." ucapnya membela diri.
Keadaan kembali serius saat mereka kembali membahas soal teman kampus mereka yang bahkan sampai nekat membuntuti mereka.
"Sepertinya mereka bukan anak dari orang sembarangan" ucap Maggie serius.
"Maksud kaka?" tanya om Roky penuh selidik.
"Aku sendri yang akan menyelidiki mereka." ucap Maggie kembali melangkah keluar dari ruangan itu membuat dua pria beda usia itu heran.
Maggie kembali melewati para pria bertubuh tegap itu dan keluar menuju tempat dimana motor kesayangannya terparkir.
"Halo nona" ucap seorang pria dibalik telepon yang baru tersambung ke ponselnya Maggie.
"Apa kamu sudah mendapatkan alamat rumah mereka?" tanya Maggie.
"Sudah nona, aku sudah mendapatkan. Mereka tinggal di blok yang sama salah satu perumahan elit yang ada di sebelah timur blok M" jelas pria itu. Siapa lagi kalau bukan tukang ojek anadalannya Maggie.
"Baiklah aku akan menuju ke sana" ucap Maggie.
"Tapi, sebaiknya nona datang ke Club xxx, mereka sedang berada di sini" ucap pria itu cepat sebelum Maggie mematikan ponselnya.
"Baiklah" jawabnya dan langsung memutuskan sambungan telepon lalu kembali memasang helm dan mengendarai motornya pergi meninggalkan lokasi tersebut.
BERSAMBUNG