
Kali ini perusahaan besar Macquarie-Group kembali melakukan pertemuan besar-besaran yang akan dihadiri oleh seluruh pemegang saham untuk membahas soal pembangunan Macquarie-University yang sudah dalam proses pembangunan.
Alfa yang berat untuk menghadiri pertemuan karena ia tahu perusahaan besar yang mengadakan pertemuan itu dipegang oleh mantan isterinya. Ia berniat meminta bantuan dari papa Alberth untuk menggantinya namun, papa yang akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani mama Ratna menjalani pengobatannya karena mama sering sakit-sakitan sekarang.
(Apakah aku harus datang? aku hanya tidak ingin dia merasa tidak nyaman denganku yang ada disana dan aku juga yang belum siap untuk kembali berhadapan dengan orang yang pernah aku kecewakan) batin Alfa yang mengganggu pikirannya sampai tidak bisa tidur malam ini, sementara esok dia harus berangkat bersama asistennya.
Malam berlalu begitu saja, Alfa yang benyak beban pikiran dan kelelahan akhirnya tertidur membawa semua perasaannya yang campur aduk.
Alfa sudah bersiap untuk datang ke negara dimana mantan isterinya dan puterinya tinggal.
Setelah semuanya selesai akhirnya mereka berangkat. Sepanjang penerbangan Alfa tersenyum jika esok ia akan melihat wanita yang pernah singgah dihatinya walaupun cuma sekedar dari jauh.
Kedua pria itu akhirnya mendarat di negara yang mereka datangi. Mereka yang langsung dijemput oleh orang-orang Alfa yang ada di sana untuk membawa mereka ke salah satu hotel yang sering mereka booking jika ada di negara ini.
"Tuan, kita sudah sampai di hotel" ucap Roky yang melihat tuan mudanya belum bergerak untuk turun.
"Hmmm" jawabnya hanya daheman sambil turun dari mobil yang pintunya sudah dibuka oleh salah satu pengawalnya.
Keduanya melangkah masuk menuju kamar dengan Roky yang membawa koper keduanya. Setibanya di kamar dan tuan mudanya masuk, Roky beralih ke kamarnya.
Siang ini mereka hanya memesan makan dari kamar.
Malam harinya Alfa dan Roky keluar mencari makan di Restoran yang dekat hotel itu.
Keduanya memilih tempat yang agak sepi yaitu berada di sudut restoran.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Alfa pamit ke toilet. Saat hendak masuk ke toilet pria ada suara yang berseru dari arah belakangnya.
"Daddyyyy..." teriak seorang anak kecil yang mengganggu perhatiannya.
Deg
Saat Alfa berbalik gadis kecil yang memanggilnya daddy itu sudah dibawa pergi oleh seorang pria bertopeng.
(Bukannya itu suara puteriku?) batin Alfa sambil mengejar anak kecil itu, namun suara yang memanggilnya daddy semakin jauh dan semakin menghilang digelapnya malam. Tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis kecil itu, Alfa terus mengejar namu baru beberapa langkah ada yang menghantamnya dengan benda keras ditengkuknya sehingga ia terjatuh ditempat itu.
"Maggie!!... Maggie..." teriak Alfa
Alfa kaget dan langsung terbangun dari tidurnya.
"Mimpi apa ini? kenapa terasa sangat nyata?" gumam Alfa sambil menatap jam yang menunjuk pukul 4 subuh.
Alfa yang gelisah tadak ingin tidur lagi, iq memilih duduk dan larut dalam pikirannya yang berkelana ke mana-mana.
(Semoga tidak terjadi apa-apa dengan puteriku) batin Alfa berharap.
*****
Tok tok tok
"Masuk" ucap suara dari dalam
Seorang pria melangkah masuk ke dalam kamar yang ditempati wanita itu.
"Berita apa yang kau bawa?" ucap wanita itu
"Nyonya, pria itu sudah ada disebuah gudang yang ada dipinggiran kota" ucap salah seorang pria yang tengah berdiri di belakang seorang wanita yang sedang menarik rokoknya.
"Siap nyonya" ucap pria itu sambil membungkuk walaupun tidak dilihat oleh wanita itu.
Pria itu melangkah pergi dari kamar itu dan beberapa menit kemudian wanita itupun keluar setelah berganti pakaian.
"Di mana Lexi?" tanya wanita itu kepada pria yang akan membawanya pergi.
"Bos sudah menunggu kita di sana" ucap pria itu.
"Baiklah, ayo kita berangkat" ucap Nina.
Ya Lexi adalah pria yang membawa Nina kabur dari penjara waktu itu, dia adalah seorang kepercayaan kepala mafia yang juga patnerranjang Nina waktu masih di Paris. Saat ini dia berada di Indonesia karena ada tugas yang diberikan oleh atasanya untuk mencari tahu seauatu.
Kedua orang itu pergi dengan mobil mereka yang menghantar sampai keluar kota dan di sana terdapat sebuah gudang tua yang sudah tidak terpakai.
Nina mengikuti pria itu sampai ke dalam gudang yang paling dalam dan ada sebuah ruang yang sedikit terang karena ada cahaya lampu di sana. Berbeda dengan ruangan lain yang sangat gelap.
Setibanya Nina disana, ia langsung tersenyum sinis saat melihat seorang pria paruh baya yang sudah babak belur dan sedang terikat dengan kursi yang didudukinya.
"Sayang, sudah datang?" ucap pria yang tidak lain adalah Lexi. Pria itu bertanya sambil melangkah mendekati Nina sambil menertawakan pria tua itu.
Pak Radit hanya bisa menatap dua manusia di depannya dengan penuh emosi.
"Hai ayah, apa kabar?" tanya Nina dengan nada sinis.
"Apa yang kau harapkan?" tanya pak Radit to the point
"Ayahku tercinta pasti tahu apa yang aku harapkan?" ucap Nina tersenyum senang
"Mengharapkan akan kebodohanmu itu? cuihhh" ucap Pak Radit sambil meludah ke arah Nina
"Apa maksudmu?" ucap Nina mulai emosi
"Kau pikir usahamu itu sudah berhasil? justru kau sudah masuk dalam perangkap Alfa dan orang tuanya. Berkas warisan yang kau curi adalah palsu karena warisan itu sudah 100% atas nama cucu kandung mereka, puteri kandung Alfa dari mantan isterinya" jelas pak Radit dengan sinis.
"Apa? Omong kosong, jangan kamu mau mengelabuiku" ucap Nina tidak menerima kenyataan.
"Silahkan kau pergi mengambil berkas tidak berharga itu untuk cari tahu keasliannya. Jika itu asli lalu kenapa aku tidak memakai uang itu untuk mengeluarkanmu dari penjara?" ucap pak Radit lagi
"Kurang ajar Alfa, rupanya sia sudah membaca semua gerak-gerikku. Pantas dia pura-pura baik denganku sejak kembali dari orang tuanya" geram Nina
"Kamu pikir Alfa akan menanda tangani berkas peralihan warisan hanya karena kamu ditodong? Ciuhh" ucap Pak Radit meremehkan
(Jangan main-main denganku Alfa, jika tidak mau puterimu jadi korbannya. Dan wanita kampungan itu, kamu akan menyesal karena telah menjadi penghalang semua rencanaku) batin Nina yang semakin emosi.
"Lepaskan dia" ucap Nina pada pria yang bersamanya tadi untuk melepas ayah tirinya
"Jika kamu ketahuan menipuku, maka tamatlah riwayat hidupmu" ucap Nina ke arah ayah tirinya.
"Ayo sayang, mari kita pulang karena masih ada yang harus kita bicarakan" ucap Nina pada Lexi.
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak ya!
Like, Comen n Vote 🙏