
Riko dan Lili tiba di kediaman orang tua Lili.
"Mau mampir?" tawar Lili.
"Iya" jawabnya cepat.
Keduanya beriringan masuk dan mendapati kedua orang tuanya sedang bersantai di ruangan tengah.
"Papa, mama... ini Lili bawakan pesanan mama." ucap Gadis itu sambil menunjukkan paperbag yang ia bawa kepada sang mama.
"Papa, mama ini Riko" ucapnya lagi memperkenalkan pria itu kepada kedua orang tuanya.
"Duduklah dulu, aku akan menyimpan pesanan mama terlebih dahulu." ucap Lili.
"Om... tante.... " sapa Riko sambil bersalaman dengan kedua orang tua itu.
"Seperti om pernah melihat, tapi dimana ya?" ucap papa Lili yang bingung dengan wajahnya pria itu yang tidak asing baginya.
"Aku adalah asisten nyonya Mey Smith" jelas Riko.
"Oh iya om ingat, kamu juga yang dulu ikut dalam misi penyelamatan keluarga kita kan?" tanya ayah Lili.
"Betul om" jawabnya. Mereka terus berbincang hingga Lili kembali dan bergabung dengan mereka setelah menggantikan pakaian kantornya.
"Maaf om, tante, Aku datang ke sini untuk berkenalan sekaligus ingin mempersunting Puteri om dan tante. Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku rasa usia kami berdua sudah cukup matang untuk membangun sebuah bahtera rumah tangga jadi aku datang untuk minta restu dari om sama tante" ucap Riko penuh keberanian.
Baik Lili, sang ayah dan mamanya pun terkejut. Soalnya tadi dalam perjalanan Riko tidak membahas soal ini jadi tentu membuat Lili cukup terkejut.
"Ya om sih maunya begitu, jangan kelamaan soalnya Puteri om terlalu sibuk sama pekerjaan sampai lupa sama pasangan hidupnya" jelas papa Lili yang begitu senang.
"Mama juga merestui kalian berdua, sudah saatnya Lili dijaga sama suaminya, kan kasihan Reno harus mengurus perusahaan dan keluarganya" jelas mama.
"Terima kasih ma, aku akan segera mengurus semuanya." ucap Riko penuh syukur.
.
.
.
Semua persiapan sudah selesai, baik Keluarga dari Australia maupun dari London sudah tiba di Indonesia sejak kemarin.
Alfa akhirnya bisa bersantai bersama keluarganya setelah beberapa hari sibuk dengan persiapan pernikahan puterinya. Tidak dengan Daffa yang kini malah keluyuran di mansion keluarga kaka iparnya. Mau apalagi kalau bukan bertemu dengan kekasihnya. Maggie sedikit merasakan curiga karena ternyata orang tuanya dan adik-adiknya juga sudah tiba di Indonesia.
"Kenapa semua pada kumpul di Indo?" tanya Maggie saat mereka sedang makan malam.
"Ya kan kita baru saja melewati musibah yang hampir merenggut nyawa opa mulai jadi karena itu kita memilih bertemu di disini untuk merayakan sedikit syukurlah. Selama ini kita selalu bekerja dan sibuk dengan tugas masing-masing sampai lupa waktu untuk bersama apalagi esok akan valentine, jadi apa salahnya kita rayakan bersama-sama" jelas Maggie panjang lebar untuk memberi pengertian kepada sang Puteri.
Maggie hanya manggut-manggut mendengar penjelasan mommynya. Benar juga apa yang disampaikan sang mommy. Mereka tidak pernah ada waktu bersama untuk saling berbagi.
Setelah makan malam, Alfa mengajak semuanya untuk segera beristirahat karena esok adalah waktu yang cukup melelahkan dan spesial untuk keluarga mereka.
"Baiklah sebaiknya kita istirahat sekarang biar esoknya kita bisa menikmati harinya dengan baik" ajak Alfa untuk keluarga besarnya.
"Mom, ko abang belum pulang sih?" tanya Daffi yang penasaran karena sejak sore, Daffa belum pulang.
"Ya masih pacaran kali?" ucap Alfa.
"Hah? pacaran? sama siapa pa?" tanya Daffi penasaran walaupun hati kecilnya berkata kalau orang itu adalah Ike.
"Mana daddy tahu?" ucap Alfa pura-pura sedangkan oma Ratna dan Maggie yang sudah tahu menatapnya penuh tanya.
"Oke, istirahat nanti juga abang pulang" ucap Alfa dan akhirnya masing-masing masuk ke kamar mereka.
.
.
.
"Bang, kayanya ngga ada yang cocok deh, mendingan kita pulang aja ya? sudah malam nih" ucap Ike yang sudah malas berkeliling. dan hanya sempat membeli sepatu dan satu buah dress yang akan dipakai untuk pemberkatan nanti sedangkan untuk resepsinya belum menemukan yang bagus. Ada yang bagus namun harganya cukup fantastis.
"Bukannya yang tadi bagus ya?" ucap Daffa.
"Bagus sih, tapi udalah. Masih ada gaun yang belum terpakai di rumah ko" ucap Daffa.
"Ambil." ucap Daffa.
"Nggak usah bang" tolak Ike karena sepatu sama baju yang sudah diaa ambil saja sudah cukup mahal harganya.
"Ambil atau tidak pulang malam ini hmm? ka, tolong gaun yang ini disatukan sama yang pertama tadi ya?" ucap Daffa sambil memberikan gaun yang sudah dia ambil dari tempatnya semula.
"Baik tuan" ucap sang pelayan.
Mereka akhirnya keluar setelah Daffa membayar semua belanjaan sang kekasihnya itu.
"Mau cari makan malam fulu?" tawar Daffa.
"Nggak, makan di rumah aja" tolak Ike. Mereka pun pergi meninggalkan mall tersebut dan pulang ke rumah.
"Sepertinya papi sama mami sudah tiba deh" ucap Ike.
"Baguslah kalau mereka sudah tiba" jawab Daffa yang serius menyetir.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di mansion keluarga Arjo dan ternyata keluarga besar merekapun sudah ada di sana.
"Selamat malam semuanya" ucap Daffa yang baru masuk bersama Ike dengan membawa beberapa paperbag membantu sang kekasih.
Oma Nur dan suaminya, Reno dan Novi dan beberapa keluarga Roberth yang lain dari keluarga mamanya.
"Papi, mami" seru Ike yang langsung menghambur ke dalam pelukan sang papi. Reno hanya duduk dan pasrah dengan kelakuan puterinya yang sudah berada di atas pangkuannya. Perpisahan yang terpaksa itu ternyata membuat gadis kecil itu memendam rasa rindu yang cukup besar dan dapat dilihat dari tindakannya begitu melihat kedua orang tuanya malam ini.
"Ckkk kalo begini ceritanya buat apa papi harus memindahkan ade sejauh ini? toh diikuti juga, sok jual mahal sama putriku" sindir Reno kepada abang. Yang disindir merasa enjoy dan duduk santai bergabung sama yang lain.
"Tante Novi, baru tiba ya?" tanya abang.
"Iya nak, tante sama om baru tiba satu jam yang lalu." ucap Novi.
"Oh pantasan" ucap Daffa kembali ke mode dingin.
"Pantasan kenapa?" tanya Novi heran.
"Om Reno kayanya masih mabuk udara tante" ucap Daffa santai sedangkan Reno sudah geram dengan calon menantunya itu.
"Sejak kapan aku mabok udara abang??" tanya Reno tidak Terima baik.
"Ya sejak hari ini" ucap Daffa santai sedangkan yang lain sudah tersenyum-senyum sendiri.
Benar-benar titisan Alfa ni. Batin papa Arjo.
"Bang, apa kaka baik-baik saja?" tanya Roberth yang demi melancarkan rencana mereka semua, ia harus menahan rindu untuk tidak bertemu bahkan menelepon sang kekasih.
"Esok aja sekalian ketemu" jawab Daffa membuat Roberth ikut emosi seperti Reno.
Mereka akhirnya makan malam bersama sebelum Daffa pulang ke rumah.
BERSAMBUNG