
Di tengah penerbangan, Novi terbangun dan merasa aneh walaupun matanya belum bisa terbuka dengan sempurnah.
"Ka, sudah pulang?" tanya Novi yang masih antara sadar dan tidak sadar.
"Kita sudah di atas pesawat sayang. Tidurlah jika masih ngantuk" jawab Reno.
"Hah? di pesawat?" ucap Novi kaget dan matanya langsung terbuka dengan sempurnah, tubuhnya yang tadi setengah terbaring sontak langsung duduk.
"Hei kalau bangun pake persaan sayang, kasihan calon anakku" ucap Reno membuat Novi kembali terkejut dan langsung meraba perutnya.
"Ka,,," wanita itu baru sadar kalau ternyata dia dikerjain.
"Kenapa sayang" jawab Reno selembut mungkin.
"Aku belum hamil, lagian kita baru melakukan semalam" ucap Novi polos.
"Nanti kita membuat lagi sampai jadi begitu kita sampai" ucap Reno menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menang karena berhasil menjahili sang isteri yang sudah sangat malu.
Novi kembali mengingat tujuan awalnya yang ingin bertanya soal sang ayah.
"Ka, lalu ayah gimana? terus bunda kenapa tidak ikut?" tanya Novi.
"Biarkan ayah menyelesaikan masalahnya sama bunda, lagian ada Arjo yang bersama mereka karena kita harus fokus memberi Maggie keponakan" ucap Reno membawa-bawa gadis kecil itu.
"Ka, jangan mesum" ucap Novi geram.
"Mesum apanya? kan kita lagi bahas masa depan sayang" jawab Reno santai.
"ihhh malas bicara sama ka Reno" ucap Novi sambil kembali berbaring.
"Bisa tidak kamu rubah panggilan ke aku?" tanya Reno serius membuat Novi kembali menegakan tubuhnya.
"Panggil apa emangnya?" tanya balik Novi dengan tampang polosnya.
"Apa kamu pernah mendengar orang memanggil suaminya dengan sebutan kaka?" tanya Reno membuat Novi seperti robot yang menggeleng kepalanya dengan wajah polos.
"Terus?" tanya Reno.
"Terus?" beo Novi dengan tampangnya yang tetap polos.
"Huh, isteriku selain polos ternyata bodoh juga ya?" gerutu Reno yang frustrasi.
Betul-betul menguji kesabaranku. Jika di rumah sudah aku hukum dia di ranjang. batin Reno sambil menatap isterinya yang bahkan menunjukan wajahnya seperti orang yang lagi memikirkan sesuatu.
"Apa aku panggil mas saja ya? iihhh kedengaran tua banget. Atau suamiku? tidak tidak, atau cintaku? iih kaya anak labil. Sayang, iya sayang aja biar sama kaya dia manggil aku" gumam Novi memutuskan panggilan yang cocok untuk suaminya.
Tanpa dia sadari ternyata sejak tadi Reno tengah memperhatikan gerak geriknya serta mendengar gumamannya.
Reno merasa lucu dengan isterinya itu namun sekuat tenaga ia menahan agar tidak tertawa lepas.
"Sa..."
"Apa..."
Novi terpotong karena bertepatan denngan Reno yang juga akan berbicara dengannya.
"ihhh dengar dulu, aku belajar memanggilmu?" ucap Novi sewot karena paggilan pertamanya tadi terpotong.
"Hah? memangnya kamu mau panggil aku dengan sebutan apa?" tanya Reno pura-pura tidak tahu padahal sudah mendengar tadi.
"Sayang, boleh ya? biar kita sama, iya kan?" ucapnya bernego.
"Ahhh terserah deh" ucap Reno pura-pura ngambek padahal hatinya berbunga-bunga.
"Sayang,," ucap Novi manja membuat Reno gemas hingga menariknya ke dalam pelukannya.
Keesokan harinya
Sepulang sekolah, Maggie dijemput oleh kedua orang tuanya. Mey sudah kembali bekerja, tapi Alfa hanya mengijinkannya bekerja setengah hari.
Alfa menjemput isterinya terlebih dahulu baru sekalian puterinya yang pulang sekolah pukul 1 siang.
Hari ini, karena Mey dan Maggie berencana memasak untuk makan malam. Dan karena malam ini akan ada tamu, yaitu sepasang suami isteri yang baru menikah. siapa lagi kalau bukan Reno dan Novi.
Karena itu, untuk menghemat biaya, kedua wanita beda usia itu memanfaatkan sang daddy untuk menemani mereka belanja bahan masakan nanti.
"Mom" bisik Maggie dari bagian belakang tepat di telinga sang mommy.
"Hmmm" jawab Mey yang duduk di samping suaminya yang sedang menyetir.
"Belanjanya sama daddy aja, bial balang-balangnya diangkat daddy dan belanjaannya dibayal sama daddy" ucap Maggie membuat Mey tersenyum menyetujui akal licik puterinya.
Itulah otak Maggie yang sudah membisikan sesuatu kepada Mey.
"Pasti kamu lagi gosipin daddy, iyakan?" tanya Alfa yang sejak tadi diam memperhatikan gerak-gerik dua wanita kesayangannya.
"ihhh nalsis, emang daddy altis?" cibir Maggie pada daddynya.
"Terus kenapa bisik-bisik kalau bukan omongin daddy" Ucap Alfa tidak mau kalah dengan puterinya.
"Lahasia kaum wanita kenapa daddy kepo?" sambung Maggie membuat Momnynya terawa lepas sementara daddynya ngambek.
"Stop...!!!" teriak Maggie. Kebiasaan gadis kecil yang sering buat orang jantungan.
"Kenapa ka?" tanya Mey bingung.
"Tuh, lihat tuh" ucapnya sambil menunjukkan jari kecilnya ke arah yang dia maksud.
"Apa?" tanya Alfa.
"Itu namanya Mall" ucapnya santai.
"Iya yang bilang itu kuburan siapa?" ucap Alfa gemas dengan puterinya.
"Itu tahu. Belalti kita tulun belanja, lets go tunggu apa lagi" ucapnya membuat kedua orang tuanya saling menatap dan sama-sama menggeleng kepalanya.
"Iya tunggu nyonya ratu, ini bukan parkiran main turun-turun aja" gerutu Alfa saat puterinya sudah ancang-ancang membuka pintu untuk turun padahal mereka masih di jalan umum.
"Makanya gelakan cepat. Putal mobilnya" perintah Maggie.
Alfa akhirnya memutar mobinya ke arah parkiran dan mematikan mesin mobil. Maggie langsung keluar dari mobil dan memasang kaca mata hitam yang dia ambil dari tas sekolahnya sebelum turun tadi.
"Sayang, waktu hamil kamu makan apa aja?" tanya Alfa. Sepertinya tingkah dan otak puterinya tidak bisa lagi dijangkau dengan akal sehat manusia.
"Makan apaan. Dia aneh karena kebanyakan jalan sama mama" ucap Mey santai.
"Wah, masalah ni. Aku harus lapor sama papa biar ajarin isterinya agar jangan menghasut puteriku" gerutu Alfa membuat Mey heran.
Aneh, apa dia tidak sadar kalau puterinya bukan cuma duplikat oma Ratna tapi nurun dari dia juaga? cih barusan dia bertingkah kaya puterinya yang suka lapor. Batin Mey yang menilai jika puterinya memang persis kaya daddynya cuma bedanya, antara mereka berdua adalah musuh buyutan sementara dengan oma Ratna mereka adalah patner.
"Cih olang dewasa suka lelet. Apa sih susahnya tulun dali mobil? tinggal buka sabuk pengaman, buka pintu, lalu tulun, kenapa lama sekali sampai kaki kaka semutan nunggu" gerutu Maggie yang menunggu kedua orang tuanya belum saja turun dari mobil.
Alfa dan Mey akhirnya turun dari mobil dan mengajak puteri mereka masuk ke dalam. Alfa bingun karena apa yang mau dibelanjakan oleh anak gadisnya itu sehingga semangatnya minta ampun.
Dengan saling bergadengan tangan dan tentunya puteri mereka ada di tengah keduanya. Kehadiran mereka di Mall itu mengalihkan banyak mata yang menatap ke arah mereka. Bukan karena para orang tuanya tapi karena Maggie yang banyak bertanya dengan kecerdasannya membuat Alfa dan Mey hampir menyerah untuk menjawab semua pertanyaannya.
BERSAMBUNG