Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
123. Penyesalan Arjo



"Jangan menangis, aku menjemputmu karena bunda dan ayahmu sudah berada di atas pesawat. Kita akan pergi ke Jepang untuk proses operasi ayahmu." ucap Reno lembut sambil mengulurkan tangannya agar Novi mendekat.


"Apa?"


.


.


.


"Jadi ka Reno yang ngelakuin ini semua?" tanya Novi memastikan.


"Sudah, nanti aku jelasin tapi sekarang kita dahulukan ayah untuk bisa operasi secepatnya." ucap Reno mengakhiri rasa penasaran Novi karena ayah Veron lebih penting sekarang.


Novi akhirnya menurut saja karena jet pesawat sebentar lagi akan lepas landas.


Reno membawa keluarga Novi menuju menuju negara Jepang untuk melakukan oprasi pada ayahnya.


Perjalanan yang cukup melelahkan tapi demi kesembuhan ayah Veron, sehingga apapun mereka lakukan. Setibanya di salah satu bandara yang ada di jepang, mereka langsung di jemput oleh orang suruhan yang di tempatkan Reno di negara ini untuk memantau perusahaan ayah Devid yang berkembang di sana.


"Bagaimana, semua aman?" tanya Reno pada salah seorang yang menjemput mereka.


"Aman tuan, semua sudah di steril bahkan sampai di ruang operasi" jawab pria itu mantap.


"Baiklah, segara antarkan kami ke Rumah Sakit sekarang" ucap Reno.


"Siap tuan" jawab pria itu sambil melangkah ke mobil untuk mengambil alih kemudi yang ada keluarga Novi. Mereka akhirnya meninggalkan bandara menuju ke salah satu Rumah sakit terbaik yang ada di negara ini.


.


.


"Pasien segera dipersiapkan untuk operasi esok jam 10 pagi nanti" ucap salah seorang dokter yang dipercayakan untuk menangani ayah Veron.


Mereka hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. Setelah itu dokterpun keluar karena sekarang sudah hampir larut malam.


"Istirahatlah di tempat tidur sana bersama ibu, aku akan menjaga ayah sementara" ucap Reno ke arah Novi yang terlihat sangat lelah ketika menempuh penerbangan kurang lebih 11 jam.


"Ka, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Novi dengan lirih pada Reno.


"Istirahatlah, karena esok akan mengurah tenaga dan pikiranmu. Jika semua sudah beres, kamu bisa bicara kapan saja yah?" ucap Reno dengan nada lembut sambil megusap kepala Novi dengan sayang.


Walaupun tidak mendapat kesempatan untuk menjawab semua rasa penasarannya, tapi ia harus menahan hingga operasi ayahnya selesai.


Setelah melewati drama paksa memaksa yang cukup lama, Novi akhirnya menuju tempat tidur yang disiapkan di sana kusus untuknya dan sang ibu.


Kedua wanita beda usia itu akhirnya tidur malam ini karena Renolah yang menjaga sang ayah sambil memantau pekerjaannya lewat laptop.


Pagi-pagi sekali Novi dan sang ibu sudah bangun dan mendapati Reno masih stay dengan laptop dipangkuannya dengan kaca mata yang masih bertengger di atas hidung mancungnya.


"Ka, tidurlah sebentar" ucap Novi yang baru bangun dengan muka bantalnya.


"Sudah bangun sayang?" ucap Reno santai.


Deg


Novi merasa aneh dengan panggilan yang sudah lama tidak ia dengar.


"Iya ka, tidurlah sebentar. Aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya operasi." ucap Novi sedikit memaksa pria itu untuk istirahat.


"Ka' kamu itu bukan robot yang aktif 24 jam. Kalau kamu tidak mau istirahat ya kamu pergi dari sini" ucap Novi sedikit membentak Reno.


Uhh imut sekali kalau lagi marah. Tapi aku senang karena dia masih perhatian sama aku. Batin Reno dengan tersenyum bahagia.


"Kenapa senyum-senyum? jangan bilang karena semalam tidak tidur otak kamu langsung koslet." ucap Novi ketus.


"Iya sayang, iya aku tidur tapi bangunkan aku kalau ayah akan masuk ruang oprasi. Cup" ucap Reno dengan menjatuhkan satu kecupan di kening gadis kecilnya.


Deg


Untuk kedua kalinya pria itu membuat jantungnya bermasalah.


Reno naik ke tempat tidur yang di tempati Novi dan bundanya semalam. Pria itu tudur tengkurap dan tak lama kemudian terdengar nafas tetaturnya bertanda ia sudah nyenyak.


.


.


*****


Di belahan bumi yang lain. Seorang pria tengah berlari keluar dari mansion yang telah menampungnya sejak kecil. Dengan air mata yang membasahi pipinya ia terus berlari hingga di mana mobilnya terparkir di depan mansion.


"Maafkan aku ayah. Maafkan aku terlambat mengetahui kebenarannya. Tunggu aku menjemputmu, aku akan berusaha sampai kamu sembuh" gumam Arjo sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


flasback


Arjo baru kembali bersama isteri dan anak laki-lakinya beberapa hari yang lalu dari Australia. Beberapa tahun yang lalu, saat puteranya masih bayi, ia terpaksa membawa isteri anaknya kesana karena sang opa yang terus memaksanya untuk menerima ayahnya kembali. Dengan keras kepala dan hasutan dari adik omanya, Arjo memilih tidak mau mendengar penjelasan opa dan oma kandungnya.


Hingga akhirnya setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri, mereka kembali karena opa dan oma yang sudah semakin tua.


.


"Opa, sebenarnya apa yang terjadi sama ayah?" tanya Arjo yang merasa terganggu dengan kata-kata gadis yang dia sebut miskin itu.


"Apa kamu sudah ingin mendengarnya? apa kamu tidak kecewa jika baru sekarang kamu mau mendenharnya. Lebik tidak usah." ucap opa yang sebenarnya kecewa pada cucunya.


"Apapun itu aku mauendengarnya sekarang." ucap Arjo tegas.


"Apa yang kamu dengar dari adiknya oma itu salah. Dia berusaha menjodohkan ayahmu sama puteri tertuanya, tapi ayahmu yang begitu mencintai mendiang ibumu memilih untuk menolak. Hal itu membuatnya membenci ayahmu sehingga ia memanfaatkan seorang gadis desa yang bertugas di hotel kala itu, ia menjebak ayahmu sehingga semua terjadi seperti yang kamu lihat malam itu.


Kamu tahu, ayahmu seorang pria baik hati yang tidak mau mengorbankan orang lain, sehingga ia memilih bertanggung jawab pada wanita itu. Gadis yang datang menemuimu kemarin adalah puteri ayahmu dari wanita itu.


Dan asal kamu tahu? untuk mempertahankan kamu dalam hidupnya, karena kasih sayangnya yang begitu besar untukmu, ia melukai wanita dan gadis yang menjadi puterinya. Ia tidak pernah memberi keluarga yang jelas kepada mereka, ia tidak menikahi wanita itu walaupun mereka hidup bersama. Apakah adik tirimu harus menanggung itu semua? dalam diri kalian, mengalir darah yang sama, hargailah dia" ucap opa panjang lebar dan ada penekanan untuk menyadarkan cucunya agar tidak egois.


Off


Arjo terus mengelilingi kota itu, sudah tiga rumah sakit ia datangi namun tidak ada pasien yang bernama Veron.


Arjo betul-betul menyesal, egonya yang selama ini ia bangun sebagai benteng kebencian kepada ayahnya, runtuh begitu saja.


"Maafkan aku gadis kecil. Benar katamu, aku orang yang jahat, orang yang buruk, orang yang egois. Aku hanya melihat dari sisiku saja tanpa melihat dari sisi orang lain" gumam Arjo mengenang raut wajah gadis kecil yang datang kepadanya tempo hari.


Pria itu terus berputar mencari rumah sakit lain yang belum ia datangi.


BERSAMBUNG