Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
149. Masak Bersama



Maggie menarik kedua orang tuanya menuju ke tempat belanjaan yang dia inginkan dan membawa mereka lagi ke tempat belanjaan untuk semua perlengkapan masak mereka sore ini.


Alfa yang tidak kira-kira menjadi bodyguard mereka sekalian membayar dan membawa barang-barang mereka. Setelah selesai belanja mereka kembali ke parkiran dan masing-masing masuk ke dalam mobil sambil menunggu Alfa menyimpan barang belanjaan mereka di mobil.


"Kaka, kalau mau belanja begituan kasih tahu daddy supaya tunggu di mobil saja" protes Alfa yang baru masuk ke dalam mobil.


"Bagamana bisa gitu dad, kita kan lagi butuh tenaga daddy sama uangnya daddy" ucap Maggie polos membuat sang daddy hanya bisa menatapnya tajam.


"Lain kali kasih tahu ya?" ucap Alfa penuh penekanan.


"Iya kalau kaka ingat" ucapnya lagi membuat Alfa melototkan matanya.


"Biasa aja kali" cibir Maggie.


Alfa mulai menjalankan mobilnya dengan perasaan dongkolnya. Sedangkan Mey sejak tadi melihat keluar untuk menyembunyikan senyumnya karena Alfa yang selalu kalah jika berdebat dengan puterinya.


Setibanya di rumah, Maggi yang ketiduran di tempat duduk belakang membuat Alfa tak tega untuk membangunkan. Pria itu akhirnya menggendong puterinya keluar dari mobil dan membawanya ke kamar.


"Uhh singa kecil daddy berat juga ya?" ucap Alfa sambil menaiki anak tangga.


"Kakakaka" seru Daffa dan Daffi yang lagi main di ruang keluarga.


"Sttt jangan ribut, singanya bangun" ucap Alfa pada kedua puteranya padahal mereka tidak mengerti.


"Kenapa di nak?" tanya oma Ani yang datang dengan membawa dua botol susu si kembar.


"Kecapean belanja bu" ucap Alfa yang berhenti sejenak di tengah-tengah tangga.


Pria itu melanjutkan langkahnya hingga tiba di kamar dan meletakan puterinya di atas tempat tidur.


"Tetap jadi puteri kecil daddy ya? tetap menjadi gadis kecil daddy yang bawel, yang licik, yang pintar. Daddy tahu jika kamu mulai beranjak dewasa nanti, kamu akan mengalami banyak hal bahkan nyawa kamupun akan menjadi taruhannya. Daddy akan mencari cara untuk melindungi kamu sayang" ucap Alfa dengan suara lemah. Cukup lama dia menatap paras cantik puterinya dan mengecup kening gadis kecil itu sebelum keluar dari kamar itu.


Alfa yang masih di tengah tangga kembali melihat kedua puteranya lagi asyik berteriak minta turun karena tadi oma Ani mendudukan mereka di kursi untuk minum susu.




"Oh anak-anakku, kalian memang luar biasa" ucap Alfa sambil mendekat ke arah baby twins.


"Tapi kenapa semua pada mirip mommy ya, padahal daddy yang kerja keras. Akhhh" ucap Alfa terputus karena mendapat cubitan di perut dari arah belakanhnya.


"Kenapa" tanya Mey sambil melototkan mata pada suaminya.


"Kenapa daddy dicubit sayang" ucap Alfa.


"Kenapa ngomong yang sembarangan di depan twins?" rentet Mey.


"Daddy kan curhat sama anak-anak" ucap Alfa membela diri.


"Curhat kamu itu membuat otak anak-anakku jadi pada tidak beres nanti. Lihat tu, si Maggie jadi begitu karena kamu kan?" Mey mengomel panjang lebar.


"Ehh masa aku yang disalahin? kan kamu yang sama dia sejak kecil jadi kamu yang ajarin dia kan sayang?" ucap Alfa membantah tuduhan isterinya.


"Enak saja, sejak dulu anakku tidak sampai begituan tahu?" ucap Mey.


"Emang kamu mau salahin siapa? salahin kaka saja, kenapa sampai dia bisa begitu?" ucap Alfa tetap tidak mau kalah.


"Akkhh tidak nyambung bicara sama kamu. Anak sama daddy, sama saja. Tuh jaga anak-anak" ucap Mey pergi meninggalkan Alfa dan anak-anaknya.


"Boy menurut kamu daddy benar apa salah? masa mommy kamu nyalahin daddy gara-gara singa kecil itu" tanya Alfa pada kedua puteranya yang malah tertawa semakin kuat.


"Loh ko daddy diketawain?" ucap Alfa pergi meninggalkan dua anak itu yang serentak histeris karena belum diturunkan dari kursi.


"Cih, pantas saja kaka kaya begitu karena nurun darinya" gerutu Mey yang baru kembali dari dapur dan mendapati anak-anaknya lagi berteriak seperti minta pertolongan.


Mey menurunkan anak-anaknya lalu memanggil bi Lina untuk menjaga twins karena mereka akan makan.


"Dad, makan dulu" panggil Mey pada suaminya.


Saat Alfa melewati kedua puteranya sambil mencibirkan bibirnya, Daffa malah menatapnya sinis.


"Cih, kecil-kecil sudah arogan" gerutu Alfa.


Satu keluarga itu akhirnya makan bersama kecuali Maggie yang masih tidur.


Setelah makan Alfa masuk ke kamar sedangkan Mey bersama anak-anaknya bermain di ruang keluarga.


Maggie yang baru turun dengan muka bantalnya sambil menguap lebar-lebar.


"Mom, kaka lapal" seru gadis kecil itu yang masih di tengah tangga.


"Bi jaga twins ya" ucap Mey pada asistennya.


"Iya nyonya" jawabnya sopan.


"Ayo kaka, makan dulu" ajak Mey yang sudah berdiri di lantai tepat di tangga terakhir untuk menunggu puterinya.


Keduanya menuju meja makan dan Mey dengan sabar menunggu puterinya makan.



Gadis kecil itu makan hingga kenyang dan mulai bergabung dengan kedua adiknya.


"Mom, daddy mana sih?" tanya Maggie yang sejak tadi tidak melihat daddynya.


"Di kamar sayang. Sepertinya daddy kecapaian jadi tidur" jelas Mey pada puteri semata wayangnya.


"Jangan-jangan daddy lindu sama oma Latna dan opa Albelth ya mom" ucap Maggie sembarang.


"Tidak sayang, daddy itu sudah ditakhdirkan untuk bunda sama kaka, abang sama dede. Kalau daddy rindu bisa telepon atau kunjung oma opa sebentar" ucap Mey.


"Kaka sayang mommy, daddy, abang sama dede" ucap gadis kecil itu sambil memeluk mommynya.


"Terima kasih sayang. Jadi kaka yang baik buat daddy, mommy sama twins ya? i love my baby girl" ucap Mey penuh haru.


Kedua wanita beda usia itu akhirnya mulai dengan masak-masak yang sudah direncanakan karena malam ini mereka akan kedatangan tamu yakni Reno dan Novi.


"Saatnya masak, ayo kaka?" keduanya bersemangat untuk ke dapur. Setiba di dapur, keduanya mulai berperang dengan alat-alat yang ada di sana.


"Kaka kupas bawangnya ya? terus rendam wortel, ambil di kulkas yang kecil ya?" perintah Mey pada puterinya.


"Siap nyonya Alfa" jawab Maggie membuat Mey terkekeh.


Keduanya mulai melakukan tugas masing-masing. Mey memotong daging dan sayur-sayuran sedangkan Maggie melakukan sesuai tugas yang di kasih Mey.


"Mom, cape juga ya kelja di dapul" ucap Mey yang baru selesai merendam wortel dan lanjut kupas bawang.


"Iya, ibu dapur itu juga cape nak." jawab Mey.


"Kalau begitu kaka mau kaya oma Latna aja, tak pelnah masuk dapul" ucap Maggie santai sedangkan Mey hanya melotot, sedangkan seseorang yang sejak tadi berdiri di pintu dapur hanya menggeleng kepala.


BERSAMBUNG