
"Selamat pagi semuanya" sapa bapa dosen yang baru masuk membuat semua yang berkeliaran tadi kembali ke tempat termasuk Sela.
"Selamat pagi pak" jawab semua serentak.
"Mari kita mulai pelajarannya ...." ucap pak dosen yang mulai dengan penjelasan singkat.
Semua mahasiswa/i menyimak dengan baik tanpa ada yang berkomentar. Namun tidak dengan Maggie yang sejak tadi tangannya berada di dalam tas untuk memantau ponsel cantiknya dan hal itu dapat dilihat oleh pak dosen.
"Hei kamu, anak baru? silahkan maju ke depan untuk menjelaskan kembali apa yang tadi saya jelaskan" ucap pak dosen dengan sedikit marah karena pelajarannya tidak diikuti dengan baik oleh seluruh mahasiswa.
(Salah orang ni dosen, mau coba kecerdasan cucu mama Ratna sama papa Gaston) batin Rockzy sambil terkekeh, karena ia tahu betul kepintaran Maggie sejak kecil yang selalu tahu sesuatu lebih dulu sebelum orang lain tahu.
Maggie dengan santai maju ke depan tanpa ragu padahal semua sedang menertawakan penampilannya yang kusut.
"Perkenalkan nama kamu" ucap pak dosen tegas.
"Walaupun semuanya sudah tahu siapa nama saya tapi karena pak dosen yang memintanya maka saya kembali memperkenalkan nama sekali lagi. Nama saya Maggie Asrian, biasa dipanggil Maggie" ucap Maggie panjang lebar.
Deg
(Bahkan nama pun sama) batin seorang mahasiswa yang sejak tadi memperhatikan Maggie dengan itens.
Maggie kembali menjelaskan materi hari ini tanpa jedah bahkan yang belum dijelaskan oleh sang dosen sekalipun, sehingga hal itu membuat dosen kagum padanya.
"Mari kita beri tepukan tangan buat Maggie yang sudah menjelaskan materi hari ini dengan luar biasa" ujar pak dosen membuat kelas menjadi riuh namun ada beberapa orang yang tidak menyukai gadis itu.
"Silahkan kembali ke tempat" dosen itu kembali berucap, dan Maggie kembali ke tempat duduknya.
"Beb, kamu luar biasa" ucap Ria bangga pada temannya itu.
"Biasa aja" ucapnya santai.
Ada seseorang yang bahkan terus memperhatikannya sejak tadi tanpa berkedip sejak ia kembali dari depan kelas.
(Banyak kemiripan antara kalian berdua, cerewetnya, bar-barnya, namanya bahkan kecerdasannya. Tapi mungkin kemewahanlah yang membedakan kalian) batin Roberth yang hayalannya sudah jauh ke teman masa kecilnya.
Pelajaran terus berlanjut hingga selesai. Semua mahasiswa mulai berhambur keluar untuk bersantai bahkan mengisi perut mereka di kantin.
"Beb, ke taman belakang yuk? nih aku bawa bekalnya lebih banyak" ucap Ria yang memang pandai memasak.
"Emang kamu mau berbagi sama aku?" tanya Maggie memastikan.
"Ya karena kamu sudah aku anggap sahabat" jawab Ria dengan wajah berseri.
Deg
(Sahaba? semoga kamu orang pertama yang menjadi sahabatku) batin Maggie karena ia baru kembali membuka diri untuk orang lain masuk untuk menjadi sahabatnya.
"Baiklah kita sahabat" ucap Maggie tersenyum manis ke arah sahabat barunya itu.
Keduanya melangkah pergi ke taman untuk menikmati bekal yang dibawa oleh sahabatnya itu, hingga tibalah mereka di salah satu bangku yang ada di bawah salah satu pohon di teman itu.
"Ahhh sejuknya, aku ingin tidur sebentar" ucap Maggie yang langsung terlentang di bangku itu.
"Ehh kalau kamu tidur nanti aku duduknya dimana?" protes Ria.
"Tuh duduk saja di rerumputan itu" ucapnya sambil menutup mata membuat Ria gemas dan langsung menariknya untuk duduk.
"Kamu baru jadi sahabat aja sudah mulai menindas ya, bangun udah lapar nih" ucap Ria sambil mendorong tubuh sahabatnya untuk duduk sengan benar sedangkan yang didorong pura-pura seperti orang yang tidak sadar.
"Ahhh beb, kamu kecil-kecil tapi berat bangat" protes Ria sekali lagi.
Maggie akhirnya membetulkan duduknya dan Ria mulai mengeluarkan satu kotak makanan untuk mereka nikmati bersama-sama.
"Kamu tidak racun aku kan?" tanya Maggie sambil menahan senyum karena wajah sahabatnya suda memerah.
"Hei kalau aku mau ngebunuh lo udah aku cekik dari tadi lo tidur" gerutu Ria membuat Maggie tertawa terbahak-bahak. Keduanya akhirnya makan dengan lahap, apalagi lidah Maggie yang biasa makan enak tapi masakan sahabatnya juga tidak kalah enak walaupun kelihatan sangat sedrhana.
Aktivitas mereka tidak lepas dari pandangan seorang pria yang juga sedang menerima telepon di taman yang tidak jauh dari keduanya.
*****
"Halo tuan muda, target sudah kami temukan tempat tinggalnya." ucap seorang pria dari balik telpon yang tersambung ke ponsel putera tuan besarnya.
"Baiklah sharelock ke sini sekarang." ucap Robin yang sedang duduk makan dengan sahabat-sahabatnya termasuk Asaf.
Sambungan telepon terputus dan Robin tersenyum bahagia.
"Sudah ketemu tempat tinggalnya" ucap Robin bangga.
"Serius kamu bro?" tanya Asaf.
"Seriuslah" jawabnya dan kembali melanjutkan makannya.
"Eh tapi tunggu dulu, kenapa kamu sampai meminta bantuan aku segala untuk menemukan tempat tinggal gadis itu?" tanya Robin kepada Asaf.
"Kamu akan tahu nantinya, kamu lihatkan penampilannya yang begitu? aku yakin jika aku menawarkan sedikit kemewahan, ia akan langsung menjadi peliharaanku" ujar Asaf yang memang seorang anak konglomerat di kampus itu.
"Lalu bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Robin.
"Aman, asal kamu tidak membuka mulut" ucap Asaf tegas.
Perbincangan mereka ditangkap dengan jelas oleh seorang pria yang tengah makan di sudut kantin itu.
(Hahaha apa yang akan terjadi jika singa muda itu melihat video ini) batin Rockzy sambil menekan tombol kirim pada Video yang siap dikirim ke nomor Maggie.
Rockzy bahkan mengasihani nasib para anak muda itu karena sudah salah mencari mangsa, yang ada mereka yang akan menjadi mangsa gadis itu.
Rockzy pun tertawa dalam diam membayangkan wajah gadis itu jika sudah menonton video tersebut.
****
"Yuk, kembali ke kelas" ajak Ria sedangkan Maggie tengah penasaran dengan getaran ponselnya yang sudah beberapa kali.
"Kamu duluan ya, aku ke toilet sebentar" ucap Maggie dan diiyakan oleh sahabatnya.
Maggie buru-buru pergi namun bukan ke toilet, ia meghindar agak jauh dari jangkauan orang-orang lalu mengeluarkan ponsel cantiknya dan melihat setiap pesan yang masuk.
Ada satu pesan berupa video yang menarik perhatiannya dari Rockzy. Dengan cepat ia membuka dan menontonnya hingga selesai. Maggie bahkan sudah gemetar dingin karena ditargetkan sebagai pemuas bagi para manusia bejat itu.
"Kurang ajar, aku bahkan bisa membeli hidupmu sekalian. Mau cari mati kalian" ucapnya geram. Maggie kembali memasukan ponselnya ke dalam tasnya dan melangkah masuk ke dalam kelas dengan raut wajah yang susah ditebak.
Maggie diam sepanjang pelajaran berikutnya hingga waktu pulang kuliah.
"Ria, aku duluan ya? aku ada kesibukan di rumah" pamitnya begitu jam pelajaran selesai.
"Baiklah, hati-hati ya?" pesan Ria kepada sahabatnya.
Tanpa menjawab ia langsung pergi begitu saja mendahului semua orang di dalam kelas yang masih sibuk merapikan buku di dalam tas masing-masing.
(Permainan dimulai) batin Rockzy sambil terkekeh.
BERSAMBUNG