
waktu terus berlalu dan kini usia kehamilannya sudah memasuki 8 bulan. Papa Arjo yang mengerti pun sering mengambil alih pekerjaan kantor demi memberi waktu kepada sang Putera untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama isterinya.
Maggie juga mulai bergabung di kelas ibu hamil. Roberth dengan setia mendampingi isterinya untuk mengikuti serta menemani sang isteri kemana saja isterinya itu inginkan.
"Sayang, sebaiknya kita pindah kamar untuk sementara ya? kita pindah ke bawa saja" ucap Roberth yang melihat Maggie sedikit kelelahan sehingga di tengah-tengah tangga naik ke kamar mereka ia sempat berhenti untuk mengumpulkan tenaganya.
"Nggak apa-apa ka, kan kata dokter naik-turun tangga juga bisa melancarkan persalinan nanti" ucap Maggie sambil mengusap peluh di dahinya.
"Iya sayang nanti kita pindah kamar ke lantai dasar dan kamu bisa olahraga raga naik turun tangga kalau kamu mau dan aku bisa mendampingi kamu" ucap Roberth yang tetap memaksa untuk pindah kamar karena ia tidak mau sang isteri kelelahan jika ia tidak ada.
"Baiklah, tapi jangan lupa kasih pindah perlengkapan peraalinan nanti ya" ucap Maggie mengalah.
"Iya sayang" jawab Roberth. Keduanya terus melangkah ke atas lebih tepatnya kamar mereka karena Maggie ingin memilih pakaiannya sendiri yang akan dipindahkan serta semua perlengkapannya.
Setibanya di kamar, Maggie langsung duduk di ujung ranjang sambil menarik napasnya tanda bahwa ia sangat kelelahan.
"Anak papa sehat selalu ya, jangan buat mama kesakitan saat lahir ya" ucap Roberth yang tengah duduk di samping Maggie sambil mengusap perut buncit wanita itu.
"Iya papi, papi juga harus selalu jaga aku sama mami ya?" ucap Maggie menurut suara anak kecil.
"Itu pasti sayang, kalian berdua adalah prioritas utama ku. Aku akan mengurangi kerja di kantor sampai kamu lahiran nanti." ucap Roberth sambil menghadiahkan kecupan di perut dan kening isterinya.
"Terimakasih sayang" ucap Maggie dengan senyum tulusnya kepada pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Sepasang suami-istri itu kembali turun setelah memisahkan barang-barag yang harus dipisahkan untuk dipindahkan ke kamar baru mereka di pantai bawah.
"Ayo kita turun biar nanti dipindahkan oleh Asry dan bibi" ucap Roberth kembali menuntun sang isteri keluar dari kamar utama mereka.
Menjelang dekatnya hari lahiran walaupun masih sebulan lagi namun Roberth sudah sangat posesif dan menjadi suami siaga, apalagi itu adalah cucu pertama bagi kelurga Mike dan Adipaty yang sangat dinantikan oleh dua keluarga besar itu.
Mey bahkan sudah mengurus kepulangannya ke Indonesia karena ia akan tinggal lebih lama di negara ini hingga cucunya lahir.
"Ma, Asry sudah pulang kuliah?" tanya Roberth saat mereka tiba di ruang keluarga dan mendapati sang mama tengah beraantai di sana.
"Belum sayang, kenapa? apa kalian butuh sesuatu?" tanya mama.
"Tidak ma, aku mau minta dia pindahkan barang-barag Maggie ke kamar di pantai bawah saja, kasihan isteriku harus kelelahan naik-turun tangga" ucap Roberth kembali menuntun Maggie untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan sang mama. Perut Maggie yang cukup besar seperti orang yang hamil anak kembar membuatnya susah gerak.
"Iya, sebaiknya kalian tempati kamar di lantai ini saja sampai habis lahiran." ucap mama yang mendukung.
Asry sudah mulai kuliah dua bulan kemarin, ia akan bekerja jika pulang kuliah atau saat liburan serta waktu senggang.
Sedangkan Rockzy dan Ria juga sudah menikah sebulan yang lalu dan saat ini mereka sedang menikmati bulan madu di beberapa negara.
*****
waktu terus berlalu dan kini Maggie mulai merasakan kontraksi. Dua wanita yang paling heboh diantara semua orang itu sudah siaga hingga membuat posisi Roberth sebagai suami siaga bergeser, siapa lagi kalau bukan Mey dan besannya, isteri Arjo.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya?" ucap Mey yang sudah tidak sabaran melihat sang Puteri sesekali meringis karena kontraksi.
"Mom, nanti aja kalau sudah lebih sering kontraksi nya" ucap Maggie sambil berjalan di ruang keluarga mengitari sofa yang terletak di ruangan itu sambil menopang pinggulnya dengan kedua tangannya.
"Tapi sayang..." ucap Via isteri Arjo terputus.
"Sayang, kamu duduk saja ya jangan banyak gerak nanti kesakitan" ucap Roberth sambil mendekat ke arah sang isteri dan malah mendapt plototan dari dua wanita itu.
"Bicara apa kau hah? Justru Maggie harus banyak gerak biar lebih cepat lahirnya" gerutu sang mama.
"Sebaiknya kamu siapkan semua barang bawaan Maggie sama baby ke rumah sakit nanti" usir sang mama.
"Semuanya sudah ma, jangan ngegas" gerutu balik Roberth karena tidak diberi kesempatan untuk menenangkan sang isteri.
"Akhhh mom!!" teriak Maggie begitu melihat ada cairan yang merembes di sela kedua kakinya.
"Sayang?" pekik Mey panik melihat keadaan puterinya.
"Roberth, cepat kita ke rumah sakit sekarang" perintah mama Via. Roberth langsung menggendong isterinya menuju ke mobilnya yang sudah terparkir sejak tadi tepat di depan pintu utama mansion itu.
Roberth semakin panik saat melihat wajah Maggie yang mengeluarkan keringat serta sudah kelihatan pucat.
"Ma lebih cepat ma?" ucap Roberth, ia duduk bersama isterinya di kursi belakang sedangkan Mey duduk di samping Via yang sedang menyetir.
"Aku nggak apa-apa ko?" ucap Maggie yang melihat Roberth semakin panik.
Setelah 20 menit perjalanan karena mansion Mike lebih dekat dengan rumah sakit sehingga mereka lebih cepat tiba.
Mey yang sudah menghubungi pihak rumah sakit sehingga mereka sudah siaga untuk menunggu cucu pertama pemilik rumah sakit itu.
Roberth langsung menggendong isterinya dan membaringkan nya di atas bed rumah sakit itu.
Para perawat langsung mendorong lnya menuju ke ruangan persalinan.
"Mana mom?" tanya Maggie dengan nafas yang tidak beraturan.
"Di luar sayang" jawab Roberth yang sedang menenangkan sang isteri sambil menanti dokter mempersiapkan alat-alat persalinan.
"Panggil mommy" rengek Maggie karena selain suaminya ia juga mengharapkan sang mommy untuk menemaninya melewati persalinan.
Dokter dan perawat hanya menurut karena yang memberi perintah adalah pemilik rumah sakit.
Mama Via harap-harap cemas setelah Mey menyusul masuk untuk menemani maggie.
"Bagaimana sayang?" tanya Arjo yang meninggalkan pekerjaan kantornya setelah mendapat telepon dari isterinya jika menantunya akan melahirkan.
"Mereka masih di dalam pa," ucap mama Via yang sangat kelihatan jika ia sangat panik.
"Sudah dari tadi?" tanya papa Arjo.
"Belum lama pa, tapi aku takut soalnya bayinya kegedean" mama via malah takut jika Maggie tidak bisa melahirkan dengan normal karena kondisi perutnya yang lebih dari ibu hamil pada umumnya.
"Kita doakan saja, dokter pasti lebih tahu jadi jika memang tidak bisa lahir normal pasti dianjurkan untuk oprasi" jelas papa Arjo menenangkan sang isteri.
BERSAMBUNG