
Dua hari kemudian,
Roberth sudah kembali ke Indonesia dan Reno juga sudah kembali ke Australia. Pagi ini juga hari pertama Ike akan masuk sekolah. Arjo sudah menginfokan ke sekolah tempat Ike akan bersekolah dan mereka dengan senang hati menerimanya.
"Ade ke sekolahnya di antar kaka ya?" ucap isteri Arjo sambil melayani sang suami di meja makan.
"Iya tante" jawab Ike yang juga mengambil makan untuk dirinya sendiri setelah Roberth.
Mereka menikmati sarapan sebelum masing-masing melakukan aktifitasnya.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka pergi ke tempat tujuan yang berbeda. Arjo menuju ke kantor karena hari ini Roberth masih harus ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusannya sehingga Asry bisa keluar.
"Kabari kaka ya jika ada yang mengganggumu di sekolah" ucap Roberth saat mereka masih di perjalanan menuju ke sekolah.
"Ike udah gede ka" ucap Ike tidak Terima baik karena ruang geraknya terlalu sempit jika om Arjo dan Roberth harus terus mengawasinya.
"Kamu itu orang baru di sini de, jadi kaka tidak membiarkan siapapun mengganggumu" ucap Roberth tegas.
"ihhh nggak papa, nggak om sekarang kaka lagi" herutu gadis kecil itu sambil menatap keluar melihat bangunan tinggi di sepanjang jalan.
"Ini juga demi kebaikanmu de" ucap Roberth lagi dengan lembut sambil tangan sebelahnya mengusap kepalah sang adik.
"Iya" jawabnya ketus.
"Nanti pulang sekolah kaka jemput sekalian kita jalan-jalan" ucap Roberth berusaha mengembalikan mood sang adik.
"Benar ka? ahhh makin sayaaang dehh sama kaka" seru Ike dengan girang sambil memeluk sang kaka yang sedang mengemudi dari samping.
"Kaka lagi mengemudi de nanti bisa bahaya" ucap Roberth.
"Iya deh" jawab Ike sambil kembali duduk dengan sopan.
Setelah setengah jam, mobil Roberth tiba di parkiran sekolah. Pria itu dan sang adik turun bersamaan membuat semua kaum Adam dan Hawa terpana akan penampilan dia malaikat yang baru keluar dari mobil itu apalagi Roberth dengan penampilan santainya hanya mengenakan kaos putih ketat dibalut jaket kulit dan celana panjang yang membuatnya semakin kelihatan tampan. Ike dengan seragam sekolahnya yang pas badan dan tak lupa tas belakang dan rambutnya yangbtergerai panjang membuat gadis itu sangat menawan.
Ike melangkah ke arah sang kaka dan bergelayut manja di lengan Roberth dan keduanya melangkah pergi mencari ruang kepala sekolah.
Roberth yang kelihatan sangat memanjakan sang adik membuat semua mata yang melihat pada iri namun tidak dipedulikan.
"Posisi inces dan kawan-kawan akan terancam dengan kehadiran gadis tadi. Sepertinya primadona sekolah akan berpindah padanya" ucap seorang anak laki-laki berseragam sekolah itu kepada temn-temannya yang lain.
"Kamu benar kawan sepertinya akan ada persaingan yang semakin tinggi di sekolah ini" ucap salah satu lagi dari antara mereka.
"Dan lebih memprihatinkan adalah gadis tadi akan mendapat musuh lebih awal di sekolah ini" timpal satu lagi.
Dan betul saja kelompok yang mereka sebut dengan Inces the geng itu tengah menatap dengan tajam ke arah Ike dan sang kaka. Mereka terus menatap hingga kedua orang itu hilang dibalik pintu masuk ruang kepala sekolah.
Bagaimana tidak iri? Roberth cukup terkenal di negara ini karena dia adalah putera tinggal dari salah satu pemimpin perushaan yang cukup besar setelah perusahaan keluarga Adipaty.
Dan hari ini Roberth bahkan datang ke sekolah ini dengan menggandeng seorang gadis kecil yang umur mereka terpaut cukup jauh.
Tok tok tok
"Masuk" ucap sang kepala sekolah.
"Oh tuan muda Roberth, silahkan duduk" ucap kepala sekolah sambil mempersilahlan kedua anak muda itu duduk.
"Tuan Arjo sudah menelepon ke sini tentang maksud kedatangan kalian" ucap sang kepala sekolah. Bahkan Rakyat suga sudah menghubungi kepala sekolah jika akan ada keluarga Adipaty yang akan masuk ke sekolah ini, karena Reno sudah menhubunginya.
"Iya Pak, adik saya akn bersekolah di sini dan Terima kasih sudah bersedia menerimanya" ucap Roberth yang selalu sopan dengan siapapun dan itulah sikap yang sangat disukai oleh Maggie.
"Mari nona" ucap salah seorang ibu guru muda yang baru saja masuk ke ruangan kepala sekolah.
"Ka, ade ke kelas dulu ya, kaka hati-hati di jalan" ucap Ike sebelum pergi dari ruangan itu.
"Iya nanti tunggu kaka jemput jika sudah keluar, dan jangan lupa hubungi kaka ya?" pesanan Roberth yang juga ikut pamit untuk pergi.
Ike dan ibu guru tadi tiba di depan kelas dan dengan senyum manisnya gadis itu melangkah masuk mengekor sang ibu guru.
"Halo semuanya, seperti yang kalian lihat, kalau kelas ini kedatangan murid baru yang pindah dari luar negeri, negara mana?" tanya ibu guru kepada Ike.
"Australia bu" ucap Ike dengan senyum yang tidak pernah pudar.
"Perkenalkan dirimu kepada Teman-teman" Perintah guru.
"Hai semuanya, perkenalkan nama saya Eunike dan bisa dipanggil Ike. Saya siswa pindahan dari Negara Australia, dan pasti ada yang bertanya kenapa saya bisa berbahasa Indonesia, karena mama saya orang Indonesia. Senang berkenalan dengan semuanya dan mohon kerja samanya ya?" ucap Ike membuat kelas riuh dengan suara tepukan tangan, sepertinya mereka menerimanya dengan sangat baik namun tidak dengan beberapa gadis yang merasakan tersaingi.
"Silahkan duduk di sana Ike" perintah bu guru sambil menunjuk ke arah bangku yang kosong.
Dengan ragu gadis itu melangkah ke arah tempat duduk yang ditunjuk oleh bu guru karena memang cuma tempat itu yang kosong.
"Permisi, boleh aku duduk di sini?" tanya Ike kepada seorang anak laki-laki yang terlihat tidak tahu senyum.
"Boleh aku duduk?" tanya Ike sekali lagi.
"Terserah" jawab pria itu ketus.
"Cihh kenapa aku harus berurusan dengan para pria yang ke mana-mana selalu membawa kulkas ya?" gerutu Ike sambil duduk di tempat tersebut. Ternyata ucapannya tadi terdengar oleh orang yang bersangkutan.
Jackson adalah seorang anak sekolah yang sama dengan Ike saat ini, mereka adalah teman kelas bahkan duduk di bangku yang sama. Jackson pria terpintar di kelas ini namun sayang orangnya dingin persis seperti Daffa. Namun bukan Ike namanya jika ia akan mengalah dengan orang-orang seperti itu. Gadis yang cerewet dan sedikit nakal itu punya banyak akal untuk menaklukkan siapa saja yang kaku, kecuali Daffa yang mengalahkan usahanya.
"Ka, kenalan dong?" ucap Ike memelas sambil mengajukan telapak tangannya minta berkenalan.
Jackson menatapnya dengan tajam bergantian dengan tangannya yang masih mengudara di sana.
"Masa iya, duduk sebangku tapi tidak saling mengenal nama?" ucap Ike tersenyum ke arah Jackson yang masih menatapnya.
"Ayolah" lanjut Ike sambil menggoyangkan telapak tangannya.
"Aku sudah tahu namamu" jawab Jackson ketus.
"Tapi aku kan belum mengenalmu" ucap Ike memelas.
"Jackson" ucapnya singkat.
"Siapa?" tanya Ike agar diulangin sekali lagi.
"Jackson" ucapnya lagi.
"Siapa, aku nggak dengar" ucap Ike pura-pura tuli membuat Jackson emosi.
"Jangan memancingku" ucapnya penuh penekanan.
"Santai aja kali? tegang amat sih" jawab Ike santai membuat semua mata pada menatap ke arahnya karena hanya dia yang berani berdebat dengan pria di sampingnya itu.
Kenapa Jackson tidak memiliki teman sebangku? itu karena dia orang yang dingin dan tidak mudah berinteraksi dengan teman lainnya.
BERSAMBUNG