Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Pertemuan di Bandara



karena ini hari minggu, Maggie datang ke kontrakan masih pagi-pagi sekali karena ingin mencicipi masakan bu Lusi yang menurutnya sangat enak.


"Mau ke mana bu?" tanya Maggie saat tiba di depan kontrakan dan melihat bu Lusi yang sudah siap dengan keranjang belanjaannya.


"Mau ke pasar nak, bahan masakannya habis jadi tunggu ibu pulang ya kalau mau sarapan" jawab bu Lusi.


"Aku ikut ya bu?" ucap Maggie menawarkan diri.


"Jangan nak, di sana kotor dan bau" ucap bu Lusi tidak ingin anak gadis itu ikut karena pasat tradisional yang tidak seperti tempat-tempat belanja orang kaya seperti keluarga Maggie.


"Nggak apa-apa bu, aku pengen ikut berelanja" paksa Maggie yang akhirnya diiyakan oleh bu Lusi.


"Baiklah nak" jawab wanita paruh baya itu mengalah.


Maggie akhirnya menghubungi ojek andalannya dan mereka pun berangkat bersama dengan bu Lusi yang sudah memesan ojek online sebelumnya.


Perjalanan yang cukup lama hampir memakan waktu dua puluh menit, akhirnya tibalah mereka di sebuat lampu merah yang sudah dekat dengan pasar.


Motor yang ditumpangi oleh Maggie berhenti tepat di samping mobil mewah yang juga berhenti tepat di lampu merah tersebut. Seorang pria muda yang sedang duduk dibalik kemudi mobil tersebut tak sengaja memandang keluar dan menangkap sosok gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.


"Mau ke mana gadis ini?" gumam pria itu sambil terus menatap ke arah gadis yang ada di atas motor tersebut. Hingga lampu kembali warna hijau.


Maggie berlalu begitu saja dari pandangannya sehingga membuatnya tersadar bersama bunyi bel mobil lain yang ada di belakang mobilnya.


Roberth yang penasaran dengan tujuan gadis itu akhirnya melajukan mobilnya sengan kecepatan yang sedikit tinggi dari sebelumnya.


"Oh rupanya dia ke pasar" gumam Roberth lagi saat melihat Maggie yang baru turun dari motor dan melepaskan helmnya lalu memberikannya kepada si tukang ojek tersebut.


"Tapi kenapa malam itu aku mimpi dia bersamaan dengan maggie kecilku? apa hubungan mereka?" gumam Roberth lagi yang masih ada di parkiran hingga gadis itu hilang dari pandangannya.


Anak muda itu kembali melajukan mobilnya untuk menjemput kedua opa dan omanya yang baru kembali dari luar negeri. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan keanehan yang terjadi pada dirinya sejak memeluk gadis tersebut malam itu, jantungnya yang bergejolak seolah merasakan sesuatu yan lama hilang dan kini ada tepat di depannya malam itu.


Roberth tiba di bandara karena setengah jam lagi kedua orang tua papanya tiba jadi ia masih punya waktu bersantai sebentar.


Sedang asyik dengan benda pipihnya, roberth kembali dikejutkan dengan satu keluarga yang juga baru keluar dari bandara menuju ke area parkiran. Ia mencoba untuk mengingat kembali wajah-wajah yang dulu pernah ia temui waktu kecil, walaupun sebagian besar sudah ia lupakan tapi samar-samar masih ada beberapa memory yang masih melekat di sana.


"Loh bukannya itu orang tua Maggie kecilku? iya aku ingat betul itu wajah mereka yang ada dalam album fotoku waktu Maggie kecilku berulang tahun" ucap Roberth meyakinkan diri karena memang diulang tahun yang dia hadiri malam di mana gadis kecil itu membawanya naik ke atas panggung, di sana sempat diabadikan dirinya bersama kedua orang tua gadis kecil itu.


"Aku harus samparin mereka" ucap Roberth langsung turun dari mobilnya sebelum keluarga itu pergi lagi.


Dengan langkah panjangnya, anak muda itu melangkah hingga mendekat ke arah keluarga gadis kecil yang terus ada dalam bayangannya selama ini.


.


.


"Siapa ya?" tanya balik Alfa dengan wajah bingungnya karena anak muda itu begitu percaya diri menyapa keluarga mereka yang tidak biasa bagi semua orang yang mengenal siapa mereka.


"Aku teman masa kecil puteri om" ucap Roberth langsung pada intinya.


"Siapa bilang aku punya anak perempuan?" ucap Alfa dibuat sebiasa mungkin karena jati diri puterinya yang disembunyikan. Roberth sempat kecewa namun ia kembali meyakinkan keluarga itu. Mey yang tadi sempat hendak masuk ke dalam mobil akhirnya mengurungkan niatnya begitu juga opa Alberth dan oma Ratna yang jiwa keponya melebihi kaum muda.


"Aku Roberth om, aku teman sekolah Maggie dulu di australia saat masih usia empat tahunan" jelas anak muda itu membuat jiwa jahil Alfa muncul karena ia sudah mengingat siapa anak muda itu. Anak lelaki kecil yang begitu diidamkan oleh sang puteri bahkan sampai saat ini karea belum ada laporan bahwa puterinya dekat dengan pria manapun.


"Oh baiklah nak. Apa yang mau kamu sampaikan untuknya? biar om sampaikan saja kepadanya karena dia sudah menikah tahun kemarin dan memiliki seorang anak" ucap Alfa sambil memperhatikan raut wajah anak mudah itu yang langsung berubah drastis. Sedangkan opa, oma serta Mey terkejut membuka mulut mereka lebar karena pria ini memfitnah anaknya sendiri.


Deg


"Begitu ya om? Baiklah om sampaikan salamku saja kepadanya dan berbahagialah" ucap Roberth dengan nada yang begitu sedih dan hampir tidak kedengaran membuat mereka yang melihatnya turut sedih kecuali Alfa yang tersenyum puas bisa mengerjai anak muda itu.


"Kalau begitu aku ke dalam dulu om, tante semuanya, pasti oma dan opaku sudah mendarat" pamit Roberth dengan tidak semangat. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan keluarga itu dengan hati yang hancur.


Mey menatap suaminya dengan mata yang melotot karena menahan emosi sedangkan sang suami belum menyadarinya karena masih menikmati kegalauan anak muda itu dengan senyum gelinya.


"Hei anak muda, apa kamu yakin cucuku sudah menikah?" ucap oma dengan lantang saat Roberth sudah agak jauh dari jangkauan mereka, kira-kira sepuluh meter jaraknya.


Langkah Roberth terhenti mendengar kalimat tersebut yang dia yakini berasal dari keluarga gadis itu. Ia kembali berbalik dan menatap mereka dengan wajah bingungnya sedangkan keluarga Maggie sudah tersenyum ke arahnya.


"Apa kamu menyukai kaka?" tanya Daffi saat Roberth kembali melangkah mendekati mereka.


"Kamu anaknya tuan Arjo?" tanya Mey.


"Iya tante" jawab Roberth cepat. Ia ingin mendengar lagi sebuah kenyataan yang seperti baru saja ia dengar.


"Kamu mau menjemput siapa?" tanya oma Ratna.


"Oma dan opaku" jawab Roberth.


"Baiklah jika kamu ingin tahu lebih banyak soal cucuku maka temui kami malam ini di Restoran xxx" ucap oma tegas.


"Iya o oma" jawab Roberth kaku karena bingung mau memanggil wanita tua itu dengan sebutan apa.


"Ayo kita pergi" ajak oma pada anggota keluarganya. Merekapun akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan anak muda itu yang masih belum sadar dari keterkejutannya karena diajak bertemu malam ini.


BERSAMBUNG