
Alfa kembali ke mansion utama yang ada di London. Setibanya di sana, mama Ratna sudah duduk manis bersama papa di ruang keluarga sambil mengopi sore ini.
“Bagaimana boy, apa kamu sudah merasa legah?” tanya sang papa yang melihat puteranya baru masuk dan langsung membuang dirinya ke atas sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.
“Belum begitu lega pah, tapi setelah ini aku yakin keluarga Aldrich tidak akan tinggal diam. Apalagi keluarga Nina sudah mulai bereaksi” ucap Alfa yang tahu bahwa beban hidupnya masih sangat panjang.
“Itulah hidup boy, kamu harus betul-betul bisa bertanggung jawab untuk semua yang terjadi jika kamu mau membawa mereka kembali masuk dalam hidupmu.” Nasehat papa.
“Dulu dia hanya dianggap sebuah sampah yang dengan mudah kamu buang, padahal kamu mendapatnya dengan cara yang sangat gampang. Tapi sekarang, setelah dia dipoles menjadi mutiara, maka kamu akan semakin susah mendapatkannya. Selain banyak yang menginginkannya, nilainya juga semakin tinggi. Jika kamu belum bersungguh-sungguh sebaiknya biarkan mereka hidup dan bahagia dengan cara mereka sendiri” sindiran mama Ratna telak menembus sum-sum Alfa.
Pria itu tercekat dengan ucapan sang mama yang seolah emberi peringatan keras karena jika ia membawa Mey dan Maggie kembali ke kehidupannya maka ia juga harus siap melindungi mereka karena akan semakin banyak musuh yang akan menjatuhkannya melalui kedua orang berharga itu.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya papa Alberth.
“Apapun yang terjadi aku akan menikahi Mey dalam waktu dekat. Aku tidak mau untuk menyesal nantinya, kalaupun harus dengan nyawaku sendiri aku akan melindungi mereka.” ucap Alfa penuh keyakinan.
“Kalau itu tekad kamu, mama sama papa akan mendukungmu asal jangan ulangi lagi kesalahan yang sama, karena papa yakin jika Mey menerimamu itu bukan seutuhnya keinginannya tapi ia hanya ingin membahagiakan anak kalian. Tapi jauh dilubuk hatinya ia masih terluka. Wanita manapun tidak menerima jika suaminya membawa wanita lain masuk ke dalam rumah dan menggeser posisinya sebagai isteri sah” ucap mama Ratna telak. Dan kata-kata itu untuk pertama kalinya membuat Alfa meneteskan air mata.
Pria itu menyadari jika selama ini Mey menjadi luluh karena puteri mereka yang terus menuntut mereka untuk kembali bersama.
“Maafkan Alfa ma,” ucap Alfa sedih karena sejak dulu mamanya sudah memberi banyak nasehat padanya tapi tak jarang juga ia membantah wanita yang telah melahirkannya hanya demi mempertahankan seorang wanita yang hanya memanfaatkan kekayaannya dan yang lebih menyakitkan, dia kehilangan banyak kenangan mengasuh anaknya dan lebih mengutamakan anak dari pria lain.
“Dudah, kamu istirahat dulu karena kamu harus kembali sebelum gadis kecil itu mengibarkan bendera perang padamu yang ingkar janji lagi.” Ucap papa membayangkan wajah imut cucunya yang bisa menghabiskan siapa saja yang berani mengganggu kehidupannya.
Alfa ikut terkekeh membayangkan kekocakan puterinya yang selalu berubah-ubah tingkahnya.
“Terima kasih pa, ma… sudah menerimaku kembali walaupun banyak kali aku tidak mendengar kalian” ucap Alfa kembali merasa sedih.
“Sudah jangan cengeng sebelum papa menelepon Maggie untuk membujukmu” ucap papa dengan terkekeh lagi,
Alfa melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.
******
Hari ini Maggie kembali bersekolah seperti biasa setelah sekian lama menjalani proses belajar dari rumah sesuai permintaan opanya.
“Ka Novi, telepon om Leno antarin kita deh” ucap Maggie yang sudah kangen dengan om Renonya karena lama tidak datang ke mansion. Pria itu harus menggantikan Mey melakukan tugas keluar negeri karena Mey tidak bisa dibiarkan pergi sendiri mengingat banyak musuh yang mengincarnya.
“Ciehhh ka Novi tahu aja kalo om Leno di Thailan xixixixi” ucap Maggie sambil cekikikan membuat Novi merasa dikerjain sama anak kecil itu.
“Adeeeeee” teriak Novi merasa frustrasi dengan tingkah anak kecil yang dianggapnya adik itu.
Ayah dan Mey hanya tersenyum melihat wajah malu Novi yang sudah memerah itu. Mereka terus melanjutkan sarapan karena Mey dan ayah harus ke kantor dan Novi serta Maggie ke sekolah. Ayah yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kali ini akan menemani sang puteri ke kantor.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka masing-masing mengambil perlengkapan dan keluar menuju ke parkiran. Seperti biasa mereka memakai satu kendaraan karena setelah mengantar Novi dan Maggie ke sekolah baru mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor.
Sepanjang perjalanan keluarga itu dihibur oleh si kecil Maggie yang semakin hari semakin banyak berbicara dan banyak bertanya semua yang ingin dia ketahui. Maggie yang sudah merindukan sekolahnya merasa bersemangat hari ini karena selain bertemu para teman-temannya dia juga merindukan para gurunya yang sangat menyayanginya.
“Belajar yang rajin ya sayang biar cepat pintar” pesan Mey pada puterinya saat tiba di sekolah.
“Ade sudah pintal mom, ade mau naik kelas” protes Maggie.
“Iya nanti ade naik kelas” ucap Mey mengalah.
“Daa ade,” pamin Mey
“Da mommy, da opa… kelja yang benal ya” ucap anak kecil itu membuat Mey memutar bola matanya malas.
Keluarga itu akhirnya berpisah di sana untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
*******
Waktu terus berlalu, hari ini sudah seminggu Alfa pergi dan belum kembali bahkan tak memberi kabar baik kepada Mey, ayah maupun Maggie, membuat gadis kecil itu merasa sangat marah karena sesuai janji yang Alfa pesan lewat sang opa kalau dia hanya pergi tiga hari tapi sekarang sudah seminggu, daddynya belum juga muncul.
Hari ini sepulang sekolah Maggie menghabiskan waktunya untuk bermain di ruang tv, mood anak kecil itu yang tidak stabil karena selain marah pada daddynya ia juga marah pada mommynya yang sudah berapa hari ini selalu pulang malam sehingga tidak punya waktu untuk menemaninya bermain atau belajar.
Gadis kecil itu mengeluarkan semua mainannya baik boneka, alat masak-masak sampai dengan robot dan berbagai jenis mainan berupa mobil, pesawat dan pistol. Ya kesukaan gadis kecil ini memang sangat unik ia bahkan menykai mainan yang seharusnya cocok untuk anak laki-laki. Semua maianan itu ditumpuk di depan tv sehingga ruangan itu bagaikan kapal pecah. Tapi tidak seorangpun yang berani menegurnya termasuk opa yang hanya duduk santai sambil melihat pemandangan yang membuat mata sakit itu.
“Hai, selamat malam” ucap seorang pria yang baru tiba. Namun tidak seperti biasa, gadis kecil itu sangat menghafal suara daddynya jadi setiap kali mendengarnya ia akan langsung melepas semua aktifitasnya untuk menyambut daddynya. Lain hal kali ini, gadis kecil itu seperti tuli tak mendengar siapa-siapa di sana. Ayah terkekeh geli melihat tingkah cucunya yang kali ini mampu bertahan untuk tidak menatap daddynya sama sekali.
-BERSAMBUNG-