
Seperti janji oma Ratna kepada cucunya Maggie bahwa ia akan meminta ijin pada Mey untuk membawa gadis kecil itu ke London. Dan benar saja, baru semalam mereka sepakat namun hari ini oma sudah tiba di negara ini letika hari menjelang malam kembali.
Saat ini oma sudah berada di depan gerbang mansion keluarga Smith. Penjaga cepat-cepat membuka gerbang kepada mertua nyonya muda rumah itu.
"Silahkan nyonya" ucap pak penjaga itu mempersilahkan oma Ratna masuk.
"Terima kasih. Apa tuan rumah semuanya ada?" tanya oma Ratna.
"Semua ada di dalam nyonya" jawabnya.
"Baiklah" ucap oma sebelum meninggalkan pria itu. Dengan santainya wanita yang sudah berstatus oma itu melangkah menuju mansion tempat tinggal puteranya dan keluarganya.
Ting tong, ting tong
"Bi, tolong buka pintunya" seru Maggie dari tempat bermain bersama twins di depan tv.
"Iya non" jawab bi Lina sambil melangkah pergi ke pintu depan.
Oma Ani dan Mey tengah sibuk dengan alat-alat dapur untuk mempersiapkan makan malam dan opa Devid lagi santai di depan tv sambil menonton ketiga cucunya bermain.
.
"Eh nyonya Ratna, silahkan masuk nya' semuanya ada di dalam" ucap bi Lina mempersilahkan oma Ratna masuk.
.
"Selamat malam semua, wahhh cucu-cucu oma lagi buat apa" seru oma dengan bahagiannya.
"Selamat malam" jawab Maggie santai tanpa melihat siapa yang datang. Jangankan melihat, bahkan ia belum menyadari jika sang oma kesayangannya sudah ada didepannya.
"Selamat malam, loh kog datangnya sendiri?" ucap opa Devid.
"Ahhh sahabat kamu tu, diajak katanya malas mulu, encok kelamaan di pesawat, banyak kerjaan, semuanya jadi masul dalam agenda alasannya" ucap oma sambil duduk di sofa tunggal yang ada di ruang tv.
"Hah? oma?" ucapnya baru sadar dan langsung belompat ke atas pangkuan omanya.
"Emang kamu pikir siapa? malin kundang?" ucap oma sewot.
"Yee oma waktu sekolah SD lulus mulni apa sogokan sih? Malin kundang tempatnya di laut, kalo di sini namanya maling tak diundang" ucap Maggie sambil mencium seluruh wajah omanya.
"Kamu pikir oma miskin? makanya mau jadi maling di rumah ini?" ucap oma mulai ngegas.
"Emang oma miskin, halta oma kan sudah di tangan kaka" jawab gadis kecil itu santai.
"Hah? Devid kenapa makin hari cucuku semakin pintar aja sih?" gerutu oma Ratna mempersalahkan besannya itu.
"Bukannya kamu bilang cucumu itu pintarnya nurun dari kamu? lalu kenapa sekarang aku yang ditanya?" balas opa Devid tidak mau disalahkan.
"Kan kamu yang siang hari malam sama dia" balas oma tidak mau kalah.
"Mana aku tahu? namanua juga orang pintar ya pasti belajar sendirilah" ucap opa.
"Stop, kenapa sih pala olang tua? pintal salah, bodoh apalagi?" gerutu Maggie yang pusing dengar perdebatan kedua oma opa itu.
"Kenapa kamu datang ke sini? jangan bilang kamu lagi berantam sama suami kamu." tanya opa merasa curiga.
"Mana berani dia marah isterinya yang cantik sejagat raya ini" ucap oma dengan sombongnya.
"Lalu karena apa kamu datang, aku tahu siapa kamu kalau tidak ada yang penting mana mau kamu buang waktu" lanjut opa.
"Mana isterimu sama menantuku?" ucap oma mengalihkan pembicaraan.
"Jawab Ratna" desak opa.
"Kasih aku makan dulu, baru aku jawab biar ada tenaganya" jawab wanita itu santai, membuat opa menarik nafas panjang.
"Kenapa sayang??" tanya oma tak kalah teriakannya.
"Mana twins?" tanya Maggie, obrolan mereka sampai lupa dua manusia kecil itu sudah menghilang dari tempat bermain tadi.
"Hah?" ucap opa dan oma bersamaan. Ketiga orang itu mulai heboh mencari Daffa dan Daffi.
Ternyata yang satu berada di kolong meja dan yang satu sudah merayap menuju dapur.
"Salah oma sama opa ni, debat aja telus sampai lupa cucu meleka" marah Maggie sambil menarik kaki Daffa untuk keluar dari kolong meja. Sedangkan opa sudah membawa kembali Daffi yang hampir menjangkau pintu dapur.
"Loh kenapa salah oma sayang?" tanya oma.
"Pokoknya salah oma, titik." balas Maggie tegas membuat dua orang tua itu diam.
.
"Mama, kog mama datang? sama papa?" tanya Mey yang baru selesai menata makanan di atas meja makan dan keluar hendak memanggil yang lain untuk makan malam. Wanita yang berstatus menantu itu mencium punggung tangan mertuanya.
"Tidak, mama sendiri. Mama mau minta ijin sama kamu untuk membawa Maggie temani mama liburan untuk beberapa hari. Kamu tidak keberatankan?" ucap mama Ratna.
"Mmm aku sih tidak masalah ma, tapi telepon dulu mas Alfanya" ucap Mey yang sebenarnya merasa curiga.
"Aman kalau si tua itu" jawan mam Ratna santai.
"Ayo kita mak dulu, Twins biar di jaga sama bi Lina dulu, bisakan bi?" tanya Mey.
"Terlalu bisa dong nyonya" ucap bi Lina dengan gaya genitnya.
Mereka akhirnya menuju ke meja makan.
.
Setelah makan malam, oma minta untuk tidur bersama sang cucu dan tentu sekalian mereka menyusun rencana. Apalagi tadi saat di meja makan, Mey meghubungi sang suami untuk memberitahukan soal oma yang minta waktu untuk Maggie menemaninya dan Alfa memberi ijin tapi hanya satu minggu karena Alfa tidak mau puterinya meninggalkan sekolah terlalu lama.
"Bagamana ceritanya?" tanya oma.
"Celita apaan, dali tadi kita tidak celita cuma main ponsel" protes Maggie karena sejak tadi masuk kamar, ia dan sang oma sama-sama menatap ke ponsel masing-masing tanpa suara.
"Cerita kenapa daddymu sampai digoda ular keket itu?" tanya oma.
"Oh bilang dong kalau maksud oma ya itu" jawab Maggie dengan tampang begonya.
"Lalu apa yang mau kamu buat?" tanya oma, kali ini dia mau melatih cucunya yang berusia 5 tahun lebih itu untuk memecahkan masalah ini.
"Aku mau....." ucap Maggie mulai menjelaskan apa yang akan dia lakukan nanti.
"Baiklah, oma mau kamu juga harus bisa membasmi manusia parasit itu." ucap oma.
Mereka akhirnya tidur untuk menunggu pagi agar cepat pergi sebelum penggoda itu bertindak leih jauh.
*
*
Reno bahagia karena berhasil membujuk gadis itu dan bundanya untuk menikah secepatnya.
"Sayang, aku kembali ke apartemen. Kamu sama bunda jangan ke mana-mana ya?"ucap Teno.
Reno kembali ke aparten keluarga Smit dengan hati berbunga-bunga.
Aku janji akan membahagiakan kamu dan membuatmu menjadi permata. Jika ayahmu tidak mampu memberi status yang jelas padamu maka biar aku yang membuat semuanya jelas. Mulailah tersenyum sejak sekarang ya beb. Batin Reno bertekat untuk membahagiakan gadisnya. Sudah cukup dia menderita selama dua puluh empat tahun.
BERSAMBUNG