
"Cih kau pikir bisa pergi begitu saja dariku?" gumam Maggie dan langsung menelepon seseorang untuk menangani pria yang baru saja melarikan diri itu.
Maggie memutuskan untuk pulang ke rumah sakit karena kondisi sang opa yang lagi tidak baik-baik saja.
Sebelum mata hari terbit, kau sudah kembali ada dalam tanganku. Batin gadis itu yang langsung melajukan mobilnya pergi dari sana.
.
.
"Bagaimana keadaan opa, dad?" tanya Maggie yang baru saja tiba dan semuanya tengah tegang di depan ruang operasi.
"Opa kritis dan tidak bisa bertahan untuk dioperasi esok pagi" jelas Alfa kepada sang Puteri yang kelihatan syok.
"Semoga opa baik-baik dad, kaka takut terjadi sesuatu sama opa" ucapnya yang sudah mulai sesugukan. Gadis yang terkenal dengan keganasannya itu bisa berubah mellow dalam waktu singkat jika itu berhubungan dengan orang-orang tercintanya.
"Iya sayang. Kita doakan biar opa baik-baik saja" ucap Alfa menenangkan sang Puteri. Sedangkan yang lain dalam posisi Masing-masing dan lagi harap-harap cemas.
Kau sudah salah mencari lawan. Aku pastikan kau akan menderita sebelum maut menjemputmu. Tekad Maggie yang geram dengan pria yang sudah membuat sang opa menderita.
Nona, beliau sudah kami amankan di tempat yang nona perintahkan. Apa yang harus kami lakukan?
Satu pesan singkat masuk di ponsel gadis yang tengah mellow itu dan seketika wajahnya kembali berubah dan menampilkan senyum menakutkan.
Apa yang sedang terjadi nak? tentu ini bukan hal yang biasa saja. Batin Alfa yang melihat mood puterinya berubah-ubah.
Baiklah. Jangan apa-apakan dia sebelum aku datang ke sana. Tunggu saja, setelah operasi opa selesai, aku akan segera datang.
Balas Maggie kepada anak buahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Roberth merasa kesal dengan kebiasaan Maggie yang tidak pernah pamit jika bepergian. sudah dua hari gadis itu bahkan tidak peka untuk menghubunginya. Walaupun Roberth mengerti dengan tugas yang dipikul gadis itu tapi setidaknya ia menghubunginya untuk memberitahukan jika pergi ke suatu tempat.
Hari ini arobeeth fokus dengan pekerjaan kantornya karena ia sudah berencana untuk menikahi sang gadis pujaannya dalam waktu dekat. Oleh karena itu, ia harus mengerjakan pekerjaannya dari sekarang agar tidak menumpuk nanti.
"Ahhh sayang kemu selalu menjungkirbalikkan duniaku, apa susahnya sih beritahu aku jika hendak pergi?" gumam Roberth sambil merenggangkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Tring tring Tring
Dengan cepat Roberth membuka matanya yang sempat tertutup tadi dan langsung mengambil ponselnya yang berdering di atas meja.
"Huh, aku pikir dia yang menelepon" gumamnya putus asa karena ternyata bukan sang kekasih yang meneleponnya.
📞Halo de
📞Ka, aku dijemput apa nggak nih (Ucap Ike yang merajuk di seberang telepon)
📞Iya kaka ke sana sekarang.
Ucap Roberth yang langsung memutuskan telepon dan langsung bergegas keluar meninggalkan ruangannya. Ia pun meninggalkan pesan kepada sang asisten untuk menghendel pekerjaan yang masih tersisa.
Roberth tidak pernah absen mengantar atau menjemput sang adik karena ia tahu bahwa sejak malam perayaan ulang tahun kantor kala itu, Ike menjadi sorotan bahkan incaran banyak oknum karena mengira bahwa dia adalah gadis yang disebut sebagai tunangan Roberth.
Pria itu mendiamkan persoalan tersebut tanpa mengklarifikasinya karena ada sesuatu yang dia rencanakan ke depannya.
Ia keluar dari mobil dan melihat-lihat ke segala sisi hingga menemukan sang adik yang juga tengah berlari ke arah mobilnya.
"Anak itu, sudah dewasa tapi masih lari-lari seperti anak kecil saja" gumam Roberth sambil terkekeh saat melihat tingkah sepupunya itu.
"Kenapa senyum-senyum? jangan bilang kaka lagi kepincut sama anak kemarin sore di sekolah ini. Akan aku adukan sama ka Maggie" ancam Ike yang mengira jika sang kaka lagi mengagumi gadis-gadis yang berada di sekolahnya.
"Nggak apa-apa, lagian siapa suruh kakamu itu pergi tanpa pamit" umpan Roberth membuat sang adik langsung mendidih.
"Pulang ka!!" serunya mulai marah dan membuat Roberth semakin semangat untuk menggodanya.
"Kenapa? biar kamu bisa punya kaka ipar yang punya banyak kesibukan" ucap Roberth.
Ike langsung masuk mobil dan menutupnua dengan kasar sampai mengundang perhatian beberapa siswa-siswi yang melintas di sana.
Roberth akhirnya mengalah dan ikut masuk.
"Hei kenapa menangis ha?" tanya Roberth panik saat masuk dan mendapati sang adik tengah mengusap air matanya.
"Kaka jahat, sudah mengkhianati ka Maggie, aku nggak suka" ucapnya merajuk.
"Siapa bilang kaka mengkhianati ka Maggiemu itu?" jawab Roberth santai.
"Tadi kaka bilang. Padahal kaka nggak tahu aja kalau ka Maggie lagi berjuang menyelamatkan nyawa opa Gaston" ucap Ike dengan penuh kesedihan.
"Hah? maksudnya?" tanya Roberth yang terkejut mendengar berita ini.
"Iya tadinya aku nelepon papi tapi ternyata saat ini papi lagi berada di Mexico. Opa Gaston di culik sama ketua Mafia yang bandar narkoba itu" jelas Ike membuat Roberth kembali terkejut.
Ia tahu betul orang yang paling ngeri itu yang ditakuti oleh semua orang karena dia dijuluki sebagai bandar narkoba tingkat dunia dan dia juga dikenal sebagai orang paling sadis karena tidak segan-segan membunuh orang yang menghalangi niatnya.
Kepanikan Roberth benar-benar nyata di depan sang adik.
"Kaka jangan takut karena orang-orang yang ikut bersama ka Maggie adalah orang-orang hebat" ucap Ike menenangkan ketegangan sang kaka.
"Kenapa masalah sebesar ini dia nggak kasih tahu ke aku? Apa aku memang orang yang nggak bisa diandalkan?" gumam Roberth yang bisa di dengar oleh sang adik.
"Kaka jangan berpikiran seperti itu. Ka Maggie cuma nggak mau melibatkan kaka dalam posisi ini" ucap Ike berusaha memberi pengertian.
"Nggak melibatkan bagaimana? om Reno saja ikut, lalu kaka?" ucap pria itu Frustrasi.
"Karena papi berhutang nyawa sama opa Gaston dan kelompok Mara Salvatrucha" jawab Ike.
"Aku juga berhutang nyawa sama mereka de, kalau bukan mereka pasti kaka sudah mati malam itu di acara ulang tahun kantor" ucap Roberth kesal dan merasa bahwa ia memang tidak dianggap oleh sang kekasihnya.
Waduhhh salah lagi aku ngomong. Lagian kaka kenapa sensi bangat sih? gerutu Ike dalam hati.
"Kaka itu pemimpin baru di kantor, dan pasti itu yang membuat ka Maggie nggak mau mengganggu kerjaan kaka" ucap Ike berusaha menjelaskan.
"Tapi setidaknya dia kabari kaka" gerutu Roberth yang merasa tidak Terima dengan semua penjelasan sang adik.
"Ya udah, sekarang tugas kaka adalah mendoakan ka Maggie biar nggak kenapa-napa di sana" putus Ike.
BERSAMBUNG