
Keesokan harinya keluarga Smith telah bersiap untuk kembali ke negara mereka. Namun seorang gadis kecil yang belum melihat kehadiran daddynya menjadi uring-uringan dan tidak mau untuk berganti pakaiannya. Gadis kecil itu yang sudah janjian dengan daddynya untuk mengantar mereka ke bandara pagi ini namun sepertinya daddynya tidak menepati janjinya.
Alfa yang baru muncul saat mereka hampir menyelesaikan sarapan pagi ini, membuat puterinya yang tadi sedih seketika menjadi semangat lagi.
"Hole daddy datang" seru Maggie yang sedang berdiri di atas kursi ruang makab sambil bergoyang ria menyambut kedatagan daddynya. Gadis kecil itu juga sudah merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan sang daddy.
"Daddy tenapa lama cetali" ucapnya mengungkapkan kekesalannya.
"Maaf sayang" ucap sang daddy yang juga melangkah ke arah puterinya untuk memeluk puterinya itu.
"Makan dulu nak" ucap ayah Devid pada mantan menantunya.
"Tidak usah om, aku baru sarapan dari rumah tadi" balas Alfa menolak karena tadi ia baru sarapan sekalian minum obatnya yang diberikan oleh dokter saat keluar dari Rumah sakit kemarin.
"Baiklah kalau begitu kita segera bersiap untuk berangkat ke bandara" ajak ayah Devid pada semuanya yang memang sudah selesai bersiap.
"Ade belum ganti pataian opa!" Seru gadis kecil itu.
"Siapa suruh tidak mau ganti?" ucap Novi menimpali
"Ta Novi nebelin" teriak Maggie namun yang diteriaki tidak merespon.
Maggie yang menjadi manja jika ada di dekat daddynya, menuntut agar sang daddy yang menemaninya untuk bertukar pakaian sehingga mau tidak mau Alfa harus membawanya masuk ke kamar Mey dan Maggie.
Alfa merasa canggung karena baru kali ini ia masuk ke kamar wanita yang pernah berstatus sebagai isterinya, padahal dulu tidak pernah walaupun mereka berstatus sebagai suami isteri.
Mey hanya mengikuti mereka dari belakang dan setelah tiba di kamar, Mey menuju ke lemari pakaian untuk mengambil baju yang akan dipakai oleh puterinya.
"Mom, ade mau celana umpan ya" perintah gadis kecil itu pada mommynya.
"Iya ibu negara" jawab Mey malas.
Wanita beranak satu itu akhirnya dengan cekatan menyiapkan semua perlengkapan puterinya yang akan dipakainya sesuai keinginannya.
"Oke beles, cetalang tita letc go" ucap gadis kecil itu saat sudah selesai bersiap.
Mereka bertiga kembali melangkah keluar dari kamar itu beriringan seperti keluarga bahagia dan akur.
"Sudah selesai?" tanya Ayah Devid saat melihat ketiga orang itu keluar dari kamar.
""Cudah opa" jawab Maggie
"Oke kita berangkat sekarang" ucap sang opa yang langsung bagun dari duduknya dan melangkah keluar dari sana.
Mereka akhirnya menuju ke parkiran dan di sana mereka berbagi, Maggie dan Mey ikut mobil mobil Alfa sedangkan Novi dan ayah Devid ikut mobil anak buah tuan Devid.
Dengan setia mobil opa mengikuti mereka dari belakang. Perjalanan yang mereka tempuh tidak begitu jauh dan karena sebenarnya hanya memakan waktu sekitar setengah jam.
Sepertinya ada yang ikut dari belakang. Semoga dugaanku tidak benar. Batin Maggie yang mulai Mengeluarkan senjata apinya dari balik jaket levis yang ia kenakan.
"Ayah, waspadalah karena sepertinya ada mobil mencurigakan yang mengikuti mobil ayah dari belakang" ucap Mey saat sambungan telepon dengan ayahnya tersambung.
"Baik nak, lindungi cucuku" ucap opa
"Ayah juga jaga diri dengan Novi" ucap Mey memberi peringatan.
Alfa yang sejak tadi hanya memperhatikan tingkah puterinya, dikagetkan dengan ucapan Mey barusan dan senjata api yang sudah ada dalam genggaman tangan mantan isterinya itu.
Pria itu melihat ke belakang melalui kaca spion ternyata betul apa yang dilihatnya, dua buah mobil yang berusaha menghimpit mobil opa Devid.
"Mom, ade mau pegang pitcol" ucap anak kecil itu yang senang sekali memegang benda keramat itu, seolah ia melihat barang mainan yang begitu menggiurkan.
"Jangan ade, kita dalam bahaya, sekarang ade tunduk ya" ucap Mey sambil menekan kepala puterinya untuk menunduk.
"Ade mau lihat olang jahat mom" rengek anak kecil itu tidak mau menunduk dan kembali mengangkat kepalanya sambil menatap ke belakang.
Alfa yang tahu jika puterinya bakat dalam hal beginian langsung mengeluarkan beberapa senjata api dari balik tempat duduknya dan dengan semangat gadis kecil itu mengambil salah satunya. Mey menatap Alfa dengan tajam karena berani mengajarkan puterinya untuk hal yang tidak seharusnya.
Sementara mobil opa yang sudah diapit oleh dua mobil sekaligus, sang sopir opa hanya melaju dengan tenang dan belum mengambil tindakan.
Mobil-mobil itu terus berkejaran dan mobil yang satunya kini sudah sejajar dengan mobil Alfa. Mey yang panik kembali menenggelamkan kepala puterinya ke pangkuannya. Maggie akhirnya mengalah dan menunduk. Alfa yang sudah membaca peluang karena arenanya sudah cukup bebas dang tidak mengganggu orang lain mulai beraksi.
"Mey, sambungkan telepon ke ayah atau Novi" ucap Alfa. Mey kembali menghubungi nomor ayah, setelah tersambung Mey langsung membuat loudspeacer sehingga dengan mudah Alfa memberi instruksi.
"Om, jika aku hitung sampai yang ketiga langsung tancap remnya ya dan langsung putar arah" ucap Alfa
"Untuk apa, kita lagi dalam bahaya Alfa" ucap opa tegas Sambil mengaktifkan speakcer teleponnya.
"Om ikut saja apa yang aku katakan, siap dari sekarang, 1 ... 2 ... 3" dua mobil baik mobil Alfa maupun mobil Ayah Devid seretak menancapkan remnya, dan kedua mobil itu langsung putar balik ke arah berlawanan.
"Maju" perintah Alfa pada ayah Devid sehingga posisi sekarang mobil Alfa yang berada di bagian belakang kembali beriringan melewati jalur yang tadi mereka lewati. Merasa dikerjai, kedua mobil yang tadi mengejar mereka kembali memutar haluan juga untuk mengejar lagi keluarga Smith.
tiba-tiba terdengar satu kali letusan senjata api. Salah satu mobil yang baru saja beriringan dengan mobil Alfa tiba-tiba terbalik dan jatuh ke jurang yang ada di samping mereka.
Alfa dan Mey sama-sama terkejut saat mendapati kaca samping bagian tempat duduk Mey dan puterinya terbuka lebar, entah sejak kapan kaca itu terbuka sebab mereka tengah fokus ke jalan. Mey melihat kearah pangkuannya yang tengah memangku sebagian tubuh gadis kecil itu bahkan separuh badan puterinya yang berjongkok seperti orang bertiarap.
Mey lebih terkejut lagi saat melihat ujung senjata api yang dipegang puterinya masih tersimpan rapi tepat di atas pintu mobil dengan kaca yang terbuka lebar itu.
Dengan cepat Mey menekan tombol yang ada di pintu itu sehingga kaca kembali tertutup. Mey tidak habis pikir dengan tindakan puterinya yang selalu mengambil tindakan tanpa kompromi. Ia ingin menceramahi puterinya tapi posisi mereka masih saling kejar-kejaran dengan mobil yang satunya.
-Bersambung-