
Bang" panggil Daffi saat keduanya sedang asyik dengan ponsel mereka masing-masing.
"Hmmm" jawab Daffa hanya dengan berdaheman.
"Abang pernah merasa nggak?" tanya Daffi membuat sang abang mengerutkan keningnya saking tidak mengerti arah pembicaraan sang adik.
"Apanya?" tanya Daffa penasaran.
"Nggak jadi deh, takut moodnya abang rusak" jawab Daffi pada akhirnya membuat sang abang naik darah.
"Heh kamu itu kalau mau bicara yang jelas" sungutnya sambil melempar bantal ke arah sang adik.
"Pulang sana, ke kamarmu" usirnya lagi namun yang diusir malas tahu tanpa beban.
.
.
"Benaran nggak mau dengar apa yang mau aku omongin nih?" tanya Daffi memastikan.
"Ahhh kamu kalau mau ngomong yang jelas" ucap Daffi marah karena sebenarnya ia juga penasaran dengan apa yang mau dikatakan oleh sang adik.
"Aku hanya mau bertanya, apa benar kamu nggak punya perasaan sama sekali pada Ike?" tanya Daffi serius membuat Daffa terdiam.
"Nggak penting. Dengar ya, aku tidak pernah punya perasaan sama gadis pecicilan itu. Dia aja yang kelewatan" ucap Daffa berapi-api.
"Benaran ni?" tanya Daffi lagi membuat kening Daffa kembali mengkerut.
"Ya benar lah" jawab Daffa mantap.
"Ahhh akhirnya aku tidak punya saingan untuk menaklukkan hati ayang bebebku" ucap Daffi bersemangat.
Deg
Tak disadari, Daffa tersentak dengan ungkapan sang adik. Yang dia tahu, selama ini Daffi orang yang tidak serius dalam membicarakan sesuatu namun sepertinya dia benar-benar menaruh hatinya kepada Puteri dari sahabat mommy mereka.
"Kamu menyukainya" tanya Daffa.
"Iya, aku sudah lama menyukainya namun sebagai pria yang sejati, aku tidak mau merampas apa yang menjadi milik abang. Tapi mulai hari ini aku akan benar-benar berjuang memilikinya" ucap Daffi mantap membuat sang abang kembali terguncang.
"Jangan, dia adalah Puteri dari sahabat mommy dan kita sudah menganggapnya sebagai adik. Aku tidak mau kamu menyakitinya suatu saat nanti" ucap Daffa tegas.
"Sejak kapan kamu peduli sama perasaannya? yah kalaupun seperti yang abang katakan maka itu artinya kami tidak berjodoh. Tapi abang tenang aja, walaupun aku banyak barcandanya tapi mengenai hati gadis, aku tidak akan pernah main-main" ucap Daffi lagi penuh semangat dan tegas.
Deg
Kenapa perasaanku jadi tidak karuan? apa aku kurang yakin dengan Daffi? mungkin karena nggak punya adik perempuan dan kelamaan jauh dari kaka sampai aku tidak mau dia dikecewain Daffi. Iya mungkin seperti itu. Batin Daffa yang galau.
*****
"Sayang, anak mami" ucap Novi sambil mengguncang tubuh sang Puteri yang masih betah di balik selimut.
"Ade, hei bangun dan makanlah dulu. Kamu tidur siangnya kelamaan sampai hari sudah malam ni." ucap Novi lagi sambil mengusap kepala puterinya. Yang dibabgunkan malah semakin betah dalam tidurnya.
"Sayang, makankah dulu baru lanjut tidurnya. Tuh papi udah nunggu dari tadi loh di meja makan" ucap Novi lagi sambil kembali mengguncang tubuh mungil itu.
"Hmmm iya mi" gadis itu bergumam sambil menggerakkan tubuhnya dan mengucek matanya.
"Ayo, bersihkan dirimu. Mami tunggu di bawa ya" ucap sang mami lalu pergi meninggalkan kamar Puteri cantik itu.
Ike dengan malas mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebenarnya dia bukan tidur sejak siang tadi melainkan ia baru saja tidur disaat sudah sangat sore karena banyak memikirkan hal yang tidak penting.
penolakan demi penolakan yang dilakukan oleh pria pujaan hatinya membuatnya sedikit berpikir untuk terus mengejar pria itu ataukah ia harus menyerah.
Di sekolah Ike ada primadona yang sangat populer. Menuruni kepintaran sang papa ditambah pecicilannya yang menurun dari sang mami membuat Ike dipandang sebagai gadis paket lengkap.
Namun semua kepopuleran dan kecantikannya tidak sepadan dengan cintanya yang selalu di tolak oleh satu orang pria idamannya.
"Ahhh rasanya segar" gumamnya saat tubuhnya diguyur air shower.
Setelah membersihkan diri dan mengatakan pakaian santai, gadis itu keluar dari kamar menuju ke meja makan yang sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya.
"Ade kecapaian pi" rengek gadis kecil itu.
"Loh, emang ade seharian kerja apa sampai kecapaian gitu" tanya Reno.
"Pi mikir aja kerja berat loh" sungutnya sambil menerima piring yang berisi makanan dari sang mami.
"Oke kalau begitu makan yang banyak terus tidur lagi" bujuk Reno yang sebenarnya tahu suasana hati puterinya. Apalagi weekend kemarin, puterinya tidak bersemangat sejak hari itu. Mungkin saja Daffa kembali membuatnya kecewa padahal ia dengan semangat datang ke sana.
Ketiganya pun akhirnya menikmati makan malam itu tanpa membuat mood puterinya kembali rusak.
*****
Di Indonesia
Hari ini adalah jadwal operasi gadis korban ornabrakan tersebut. Roberth sudah menceritakan kejadian itu kepada kedua orang tuanya sehingga hari ini mereka pun datang ke rumah sakit untuk melihat gadis itu sekaligus mengikuti proses operasi nanti.
"Boy, sebenarnya tabrakan seperti apa sampai ia harus kritis berhari-hari dan harus dioperasi lagi?" tanya Arjo kepada puteranya.
"Aku juga nggak tahu pah, karena saat kejadian itu aku sedang tertidur. Aku tahu saat sudah terjadi" jelas Roberth jujur.
Apakah orang tuanya sudah tahu?" tanya Arjo lagi karena selain mereka tidak ada lagi orang baru yang berada di sana.
"Kami bahkan tidak tahu siapa keluarganya karena setelah kecelakaan itu kami langsung membawanya pergi untuk mendapatkan pertolongan" jelas Roberth lagi.
"Semoga tidak terjadi Apa-apa dengan anak gadis orang. Setelah ini, kamu harus kembali ke desa itu untuk mencari siapa keluarganya. Mereka harus tahu soal ini" perintah Arjo.
"Baik pa" jawabnya Roberth lesu.
"Proses operasi pun mulai berlangsung. Di luar ruangan, para penunggu harap-harap cemas. Isteri Arjo berharap semuanya baik-baik agar tidak menjadi beban puteranya walaupun bukan dia yang menabrak tapi ia sebagai penanggung jawabnya.
*****
Setelah makan malam, Reno mengajak isterinya dan Puteri mereka satu-satunya untuk berbincang dan bersantai sebentar di ruang keluarga.
Ike merebahkan tubuhnya di sofa dan kepalanya ia letakkan di kedua paha papinya.
" Dasar manja" cibir Reno kepada sang anak.
"Biarin lah, kalau besok-besok aku sudah menikah kan, aku nggak kaya gini lagi" ucapnya membuat kedua orang tuanya sedih.
Aku harus melakukan rencanaku ini walaupun aku sendiri tidak rela. Batin Reno.
"Sayang, papi mau beri tahu sesuatu kepada kalian berdua" ucap Reno mengawali pembahasan.
"Apa sayang?"
"Apa itu pi?"
Jawab kedua wanita beda usia itu serentak dan penuh penasaran.
"Kemarin, om Arjo telepon papi" ucapnya menjeda.
"Bilang apa pi?"
"Bilang apa pi?"
Lagi dan lagi keduanya serentak bertanya.
"Om Arjo minta Ade pindah ke sana karena tantemu kesepian. Roberth jarang pulang ke rumah" jelas Reno.
"Tidak bisa, enak saja pi. Anak kita itu cuma satu yaitu Ade sendiri. kalau dia sudah pergi, emang papi tega mama kesepian di rumah sebesar ini?" cecar Novi penuh kekesalan.
"Pa, Ade nggak mau jauh dari papi sama mami. Emang papi sudah nggak sayang lagi sama Ade makanya papi mau ngusir Ade gitu?" ucap Ike sedih.
"Siapa bilang papi nggak sayang? kan tadi papi cuma ceritakan kembali tentang om Arjo dibtelepon kemarin dan belum tentu jadi kalau Ade sendiri nggak mau. Papi juga tidak mau pisah sama Puteri papi yang cantik ini." ucap Reno menenangkan kedua wanita beda usia itu.
Sebenarnya Renolah yang menghubungi kaka tiri isterinya untuk memisahkan puterinya sementara sampai ia benar-benar lupa dengan cintanya yang bertepuj sebelah tangan. Ia sedih puterinya yang sejak kecil nemplok terus sama Daffa tapi sampai dengan hari ini tidak ada perubahan.
BERSAMBUNG