Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Makan Bersama



Maggie baru bangun saat alarm yang disetel berbunyi. Saat ini sudah pukul tujuh pagi dan ia akan kuliah jam delapan nanti. Dengan malas gadis itu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena semalam ia datang ke apartemennya.


Setelah bersiap diri, Maggie langsung menelepon ojek andalannya untuk mengantarnya ke kampus. Maggie bahkan tidak sarapan pagi ini padahal ARTnya sudah menyiapkan sarapan untuknya.


"Non, sarapannya sudah siap" ucap sang ART.


"Nanti di kampus saja bi, sudah terlambat ni" jawab Maggie sambil melangkah pergi dari sana.


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, Maggie akhir tiba di gerbang kampus, ia langsung turun dan berlari masuk ke area kampus karena waktu untuk memulai pelajaran tinggal dua menit.


"Terima kasih" ucapnyakepada sang ojek sebelum pergi.


Dengan ngos-ngosan gadis itu terus berlari hingga tiba di depan kelas dan ternyata belum ada dosennya.


Maggie akhirnya mengatur nafasnya sebentar di depan kelas sebelum masuk ke sana. Setelah beberapa menit, ia merapikan penampilannya dan masuk ke dalam kelas dengan aura yang sulit diartikan, ia melangkah masuk dengan tatapan yang menyapu semua orang-orang yang membicarakannya tempo hari.


Semua seperti terhipnotis dengan aura mematikannya sehingga tak seorangpun yang berani bersuara hingga ia tiba di tempat duduknya dan duduk.


"Selamat datang beb" sapa Ria kepada Maggie namun dengan nada hati-hati karena sebenarnya ia juga segan dengan aura sahabatnya pagi ini.


"Selamat pagi Maria" ucap Maggie tenang.


Deg


Gadis itu terkejut dengan sebutan yang diucap oleh Maggie karena yang biasa menyapanya Masia hanya teman masa kecilnya dulu.


"Apakah kamu Maggie, teman masa kecilku?" tanya Ria dengan suara bergetar saking senangnya gadis itu hampir meneteskan air mata.


"Mungkin" ucap Maggie sambil tersenyum membuat Ria patah semangat karena sudah terlalu berharap.


"Tak apalah jika itu bukan kamu, tapi aku sangat merindukan masa-masa itu untuk kembali bertemu dengan mereka" ucapnya sedih karena sampai hari ini ia belum menemukan orang yang tepat untuk berbagi penderitaan hidupnya semenjak sang ibu meninggal.


"Jika dia adalah orang yang ada di depanmu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Maggie lagi.


"Aku akan bercerita bahwa ternyata hidup tanpa salah satu dari orang tua kita itu sangat tidak enak, karena dulu dia juga hidup tanpa ayah seperti aku yang sekarang hidup tanpa ibu" ucap gadis itu sambil memalingkan wajahnya dari Maggie.


Maggie merasa teriris mendengar ungkapan hati sahabat masa kecilnya, ia semakin sedih karena keadaan hidupnya di masa sekarang.


Seandainya kamu tahu kalau aku sudah hidup berkelimpahan harta dan aku juga punya seorang Daddy yang begitu mencintaiku, sayangnya sekalipun aku punya orang tua yang lengkap tapi aku serasa hidup sebagai anak yatim-piatu yang jauh dari mereka. Batin Maggie sedih.


Saat masing-masing larut dalam pikirannya, tiba-tiba dosen masuk membuyarkan lamunan mereka. Dan ternyata sejak tadi ada seorang pria yang menatapnya tanpa berpaling. Ada rasa ingin tahu saat melihat gadis itu yang berpenampilan sangat sederhana seperti biasanya padahal saat bertemu di pantai kemarin, gadis itu mengenakan pakaian yang berlebel branded.


Apa yang sedang kamu sembunyikan? Batin Roberth yang bahkan tidak peduli dengan dosen yang sudah memulai pelajaran saat ini.


Jam pelajaran pun dimulai dengan baik, semua fokus pada materi hari ini kecuali dua orang berbeda jenis yang sejak tadi tidak sungguh-sungguh menyimak materi, siapa lagi kalau bukan Roberth dan Sela.


Roberth asyik menatap Maggie dengan tatapan mendamba, sedangkan Sela menatap Maggie dengan tatapan kebencian apalagi sejak tadi Roberth terus menatap kearah musuhnya itu.


Setelah jam pelajaran pertama selesai, Roberth yang sudah tidak menahan rasa rindunya terhadap Maggie langsung bangun dari tempat duduknya dan mendekat kearah tempat duduk Maggie dan menggenggam tangan gadis itu.


"Ikut aku!" ucapnya tegas membuat semua orang heran karena sebelumnya kedua orang itu tidak saling mengenal namun saat keduanya sama-sama tidak masuk sekolah dua hari belakangan ini, tiba-tiba keduanya sudah bisa saling berkomunikasi.


"Lepaskan" ucap Maggie tak kalah dinginnya.


Roberh membawa gadis itu hingga parkiran dan lebih tepatnya mereka berhenti di salah satu mobil mewah yang terparkir di sana.


"Masuk" ucap Roberth tenang, setelah membuka pintu mobil bagian penumpang.


"Kamu mau bawa aku ke mana sih?" tanya Maggie mulai dengan nada cengengnya membuat Roberth hampir tidak menahan untuk memeluknya.


"Masuk dan duduk yang tenang, kamu akan tahu nanti" ucap Roberth lagi.


Gadis itu menurut dan masuk lalu duduk dengan manis di dalam mobil mewah itu.


Roberth melingkari mobil dan kembali membuka pintu mobil di bagian kemudi lalu masuk dan duduk lalu menghidupkan mesin mobil lalu melaju pergi meninggalkan area kampus.


.


.


Di sinilah mereka sekarang, berada di salah satu restoran yang ada di kota itu, Roberth memesan semua jenis makanan kesukaan gadis itu waktu kecil, Maggie yang melihat hidangan itu terharu karena pria yang duduk di depannya ini ternyata masih sangat hafal dengan makanan dan minuman kesukaan gadis itu.


Maggie yang dasarnya suka makan makanan enak, langsung menyantap begitu para pelayan ituenghidakannya.


"Apa kamu lapar" tanya Roberth sambil terkekeh.


"Iya karena pagi ini aku bangun terlambat sehingga tidak sempat sarapan" jelasnya dengan mulut penuh dengan makanan.


"Makanlah dulu baru bicara" ucap Roberth sambil mengusap pucuk kepala gadis itu. Ia senang karena gadis itu tidak pernah berubah jika ada di depannya. Padahal sekarang ia sudah gadis tapi tidak pernah ia mengubah kebiasaannya untukenarik perhatian orang lain.


Maggie hanya mengangguk patuh saat mendapat perintah dari pria masa kecilnya itu. Roberth akhirnya ikut makan sambil sesekali menatap cara makan Maggie yang tidak pernah berubah sejak kecil.


Setelah mereka selesai makan, Maggie kembali mengambil jus yang tersedia dan menancapnya hingga tandas.


Roberth menyodorkan tisu kepadanya saat dia hendak membuka mulut untuk bicara.


"Bersihkan dulu mulutmu baru bertanya" Roberth bahkan sudah bisa membaca apa yang ada di otak gadis itu.


"Kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Maggie langsung pada intinya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama teman masa kecilku." jawab Roberth santai.


"Selain itu?" tanya Maggie lagi karena tidak puas dengan jawabannya.


"Tidak ada hal lain" ucap Roberth sambil terkekeh


"Aku rasa waktu kita sudah habis jadi biarkan aku pergi karena sebentar lagi pelajaran berikut akan segera dimulai" ucap Maggie sedikit kecewa karena pertanyaannya dijawab dengan candaan.


Gadis itu langsung berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwana merah dan diletakkan di atas meja lalu pergi.


"Terima kasih sudah membawaku untuk makan di tempat istimewa seperti ini" ucapnya tanpa berbalik.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku sampai adikmu menanyakan soal keseriusanku kepada kamu?" ucap Roberth membuat langkah Maggie yang baru beberapa itu langsung berhenti.


BERSAMBUNG