Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Keganasan Maggie



Operasi opa Gaston pun selesai namun tidak mengurangi rasa kawatir dari pihak keluarga karena kondisinya yang masih koma.


Keluarga besarnya akhirnya berniat untuk membawanya kembali ke London untuk mendapat penanganan lebih karena di sana mereka tidak banyak mengenal para dokter sehingga mereka hanya mengikuti aturannya saja.


"Rockzy, segera urus semua administrasi agar kita segera membawa papamu pergi dari negara ini. Kita tidak bisa terus-terusan seperti ini." perintah Oma Ratna kepada anak angkat sang kaka.


"Iya tante." jawab anak muda itu dan langsung pergi melaksanakan perintah sang tante.


Waktu terus bejalan dan kini sudah hampir tengah hari. Maggie yang sejak tadi panitia untuk keluar mencari angin sebentar belum juga pulang.


"Kemana sih anak itu. Kaya jelangkung aja. Sebentar hilang sebentar muncul" gerutu Oma yang sejak tadi belum melihat cucunya menampakan batang hidungnya.


"katanya cari angin ma, " jawab Alfa yang mendengar omelan mamanya.


"Emang angin dikejar ya makanya lama sekali" ucap Oma Ratna lagi yang hanya direspon dengan celengan kepala dari sang Putera.


"Ma, papa tahu soal paman ya?" tanya Alfa yang heran karena sejak sama-sama di sana sang papa tidak pernah menelepon sang istri.


"Tahu lah" jawab Oma santai.


"Lalu kenapa papa belum sekalipun telepon mama sejak kemarin? padahal papa kan posesif bangat sama mama" tanya Alfa.


"Ya gimana mau telepon. Kan mama belum isi Daya di ponsel, alias mati total" jawab wanita tua itu sambil terkekeh membayangkan betapa panik suaminya yang tidak bisa menghubungi sang isteri.


Cih bagaimana aku mau mempersalahkan puteriku yang main pergi-pergi aja tanpa menghubungi tunangannya? omanya saja persis kaya dia, suka buat orang panik aja. Roberth Roberth, rupanya kamu harus banyak belajar menjadi orang sabar dari papa soal menghadapi isteri yang seperti ini. Hmm p**asti sekarang dua pria itu tengah kawatir dengan pasangan mereka masing-masing. Batin Alfa tersenyum geli membayangkan wajah sang papa namun penasaran dengan wajah calon menantunya itu yang baru pertama kali, eh yang kedua kalinya ditinggal Maggie tanpa pesan.


Alfa mengetahuinya dari Reno jika kekasih sang Puteri lagi kesal karena ditinggal tanpa pesan.


"Al, tante, aku kembali ke hotel terlebih dahulu ya? sekretarisku lagi minta data yang harus aku kirimkan" ucap Reno yang baru saja menerima pesan dari sang asisten bahwa sekretarisnya lagi minta data penting untuk memimpin rapat hari ini menggantikannya.


"Ren, makasih ya, sudah mau membantu kita" ucap Alfa serius.


"Tidak apa-apa Al, kaya sama siapa saja. Justru aku banyak bersyukur karena keluargamu sudah menganggapku seperti keluarga sendiri dan telah banyak membantuku" ucap Reno yang memang telah banyak mendapatkan pertolongan dari keluarga Alfa dalam setiap masalahnya bahkan sampai mengambil kembali hak orang tuanya dari para penjahat yang telah membunuh kedua orang tuanya.


"Oke, aku pergi" pamit Reno sekali lagi dan langsung pergi.


Di tempat lain.


"Di mana pria tua itu?" tanya seorang gadis yang baru masuk ke dalam sebuah kontrakan yang cukup mewah walaupun ukurannya sangat kecil. Ya itulah tempat yang dihuni oleh beberapa anak buah Mara Salvatrucha yang menetap di negara itu.


"Di gudang belakang nona" jawab salah seorang dari mereka yang berjumlah sekitar 7 orang.


Gadis itu melangkah pergi ke belakang sesuai yang diinstruksikan oleh bawahannya itu.


Ruangan yang begitu gelap tanpa ada lubang angin bahkan tanpa penerangan sehingga walaupun siang hari tetap terlihat gelap.


"Hai tuan El, kita bertemu lagi" sapa Maggie begitu membuka pintu gudang tersebut.


"Loh, bukannya kita baru bertemu semalam? masa udah lupa aja sih?" ucap Maggie dengan nada genitnya.


"Oh jadi kau gadis sialan itu!" teriaknya lagi.


"Ahh aku yang sial atau om yang sial sih? Sepertinya dari kemarin-kemarin aku selalu dalam keberuntungan sementara om selalu sial." ejek Maggie kepada pria itu. El yang mendengar ejekan gadis itu, membuatnya semakin geram.


Kembali membayangkan sang opa yang tengah berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit sejak semalam, membuat gadis itu mulai geram apalagi melihat pria itu yang sejak tadi Membentaknyya.


"Kesabaranku sudah cukup sampai di sini" ucap Maggie penuh penekanan dan langsung menarik penutup mata El dengan kasar. Lampu ruangan itupun di nyalahkan dan Maggie mengambil posisi jongkok tepat di hadapan El.


"Lihat wajahku" ucap Maggie sambil memegang kuat kedua sisi rahang El dan mengangkatnya dengan kasar hingga mendongak ke atas dan melihat wajah gadis manis yang saat ini sudah berubah menjadi malaikat maut.


El yang biasanya membunuh orang dan menyiksa orang kini langsung ciut saat wajahnya begitu dekat dengan Maggie.


"Aku Puteri dari keponakan Opa Gaston yang tak lain adalah cucu dari wanita yang berduel denganmu semalam. Dia adalah adik perempuan satu-satunya dari opa Gaston dan putera Satu-satunya adalah daddy ku. Apa kamu bingung dengan penjelasanku barusan?" jelas Maggie sekaligus bertanya.


Ya jelas bingunglah nona, pejelasanmu saja membuat isi kepalaku berputar-putar seperti mabuk kapal. Batin salah seorang anak buahnya yang ikut bingung mendengar pembicaraan gadis itu.


"Jika selama ini kau penasaran dengan siapa sebenarnya orang yang menggantikan posisi opa sebagai pemimpin Mara Salvatrucha maka saat ini dia ada tepat di depanmu. Aku Maggie Pradania Adipaty yang telah dinobatkan sebagai pemimpin Mara Salvatrucha menggantikan opaku" ucap Maggie membuat El terkejut.


"Keren kan aku?" ucap Maggie membanggakan dirinya.


Jadi benarkah gadis ini yang menggantikan pria tua itu? aura mafiannya sangat kelihatan bahkan aku saja kewalahan mengimbangi ilmu bela dirinya. Batin El


"Kenapa diam? belum percaya? ohh aku lupa, kemarin kan om masih bilang aku anak kecil kan?" ucap Maggie diiringi dengan bunyi patah tulang sekaligus teriakan El. Semua anak buahnya pun ikut terkejut menyaksikan gadis imut itu bahkan mematahkan kaki pria itu seperti mematahkan tulang kaki ayam.


Belum juga sadar dari keterkejutan orang orang itu. Gadis itu kembali mematahkan kaki El yang sebelahnya lagi.


"Sebenarnya aku ingin menyelesaikanmu tapi kata mommy, membunuh itu dosa jadi aku takut dosa, walaupun aku sudah membunuh orang dari usiaku 4 tahun" jelas Maggie pura-pura takut dan hal itu membuat El semakin gemetar dan mengeluh kesakitan.


"Karena aku anak baik dan takut dosa jadi aku akan mengirimkanmu ke tempat yang seharusnya. Dan yang akan menghabisimu adalah opaku karena dia bersahabat sama dosa" ucap gadis itu dan berdiri lalu meninggalkan El di sana.


"Bye om sampai ketemu lagi" ujarnya sambil melangkah keluar dari ruangan itu.


"Dasar wanita iblis" ucap El penuh emosi membuat Maggie yang belum menjangkau pintu keluar menghentikan langkahnya tanpa berbalik.


"Cih,, iblis teriak iblis" gerutunya sambil kembali melangkah.


"Kalian tahu kan, apa yang harus kalian lakukan?" ucap Maggie kepada ke 7 orang pria itu.


"Iya nona" jawab mereka serentak. Mereka bahkan masih merinding dengan aksi pemimpin baru mereka yang masih sangat muda namun menakutkan.


Maggie pun melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit.


Bersambung