
Melihat puterinya yang sudah pergi, bunda Nur juga ikut berlari keluar menyusul puterinya, namun bunda kehilangan jejak anaknya.
Buda terduduk di bangku panjang di halamat rumah sakit sambil menangis menyesali semua yang sudah dia katakan dan tentu itu sangat menggoncang jiwa anak kesayangannya.
"Nak, pulanglah. Jangan tinggalkan bunda sendirian" lirih wanita itu sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kita akan hidup berdua tanpanya, hanya ada kamu dan bunda. Maaf bunda sudah mengecewakanmu sayang. Pulanglah, bunda menunggumu nak." ucap bunda Nur dalam tangisnya.
Di dalam ruang rawat ayah Veron
"Akhhhh...." rintih ayah saat akan turun dari rumah ranjang rumah sakit untuk mengejar puteri dan isterinya itu.
"Ayah, jangan ayah... ayah masih sakit" ucap Arjo kembali membantu sang ayah untuk kembali naik ke ranjang, namun pria tua itu tidak mau.
"Ayah harus mencari adik kamu nak, pasti dia sangat terpukul dengan kenyataan ini" ucap ayah dalam tangisnya.
"Tapi ayah masih sakit. Nanti kita akan cari bersama-sama tapi mohon ayah tenang dulu." nasehat Arjo.
"Nak, ayah tahu watak adikmu. Ayah tidak mau anak ayah yang satu kembali dan satu pergi lagi" ucap pria tua itu sambik terisak.
"Baiklah aku akan membantu mrmbawanya kembali, asal ayah janji untuk tenang" ucap Arjo. Pria itu juga merasa bersalah karena kedatangannya membuat orang lain pergi.
Tak terasa ada bercak darah menempel di baju yang melekat di bagian bekas luka operasi ayah.
"Hah? ayah berdarah." ucap Arjo terkejut.
Dengan penuh kepanikan, Arjo memanggil dokter dengan menekan tombol darurat sehingga beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di ruangan itu.
Ayah Veron kembali ditangani dan sebelumnya dia disuntikkan obat penenang agar dengan mudah para dokter dapat menanganinya karena jika dia sadar, maka dia akan ngotot untuk mencari puterinya.
Setelah mrnangani ayah Veron, Para dokter itu kembali keluar meninggalkan Arjo bersama ayahnya.
Maaf jika kedatanganku menghacurkan kebahagiaan banyak orang. Aku mengaku salah, telah menyia-nyiakan banyak hal. Demi memahami aku, ayah malah menyakiti lain hati. Aku harus berusaha menyatuhkan mereka. Batin Arjo sambil melihat raut wajah putera ayahnya yang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit.
Ternyata dia adikku yang pernah aku usir dari rumah waktu itu. pria itu kembali membatin.
*
*
Di tempat lain
Dalam keadaan emosi, kekuatan berlari Novi betul-betul meningkat sehingga membuat Reno kewalahan mengejarnya.
Novi terus berlari di atas trotowar sambil terus menghapus air matanya berulang-ulang.
"Sayang,,,"
"Novi..."
"Hei, cukup larinya" Seru Reno sambil terus mengejar Novi.
"Sayang please jangan lari terus" seru Reno sekali lagi.
Saat melihat ada kesempatan karena mobil yang sedikit sepi berlalu lalang, Reno langsung menambah kecepatan berlarinya hingga berhasil meraih tangan Novi dan langsung membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
"Ini aku sayang" ucap Reno yang dapat merasakan jika tubuh gadisnya benar-benar bergetar.
"Tatap mataku" ucap Reno sekali lagi, namun apa daya. Novi seolah takut membuka mata untuk melihat kenyataan hidupnya.
Novi Mengeratkan pelukannya pada tubuh kekasihnya, seolah dari tubuh tegap pria itulah ia mendapat kekuatan dan kenyamanan.
"Ka, tolong bawa aku pergi sejauhnya" ucap Novi dalam isak tangisnya yang begitu sedih.
"Iya aku akan membawamu ke pelaminan" ucap Reno berusaha mencairkan suasana.
"Ka, aku mohon. Bawalah aku sejauh-jauhnya sampai aku lupa dari mana aku datang. Aku rapuh ka" ucapnya kembali sesugukan.
Reno menengok ke bawah melihat menatap wajah kekasihnya yang dipenuhi air mata dan matanya yang masih terpejam.
"Apa kamu juga jijik karena aku seorang anak haram?" ucap Novi sedih. Kedua tangan yang tadi melingkar di pinggang Reno, perlahan mulai terlepas.
Gadis itu mulai minder dengan kekasihnya itu saat tidak ada jawaban ketika ia bertanya.
"Apa yang kamu pikirkan dalam otak kecilmu ini? apakah kamu tidak lelah memikirkan masalah orang dewasa?" ucap Reno sambil menahan tangan gadisnya untuk kembali memeluknya.
"Jadi aku hanya seorang anak kecil di matamu? pantas saja aku tidak pernah dihargai sedikitpun selama ini" ucap Novi yang sangat sensitif.
Lah, salah lagi. Apakah masalahnya merusak sarafnya semua? Siapapun kamu, sekali aku mencintaimu maka akan terus mecintaimu sampai raga ini terpisah dari nyawanya. Batin Reno.
Renobwa Novi untuk duduk di rumput hijau yang tidak terlalu jauh dipinggir jalan
"Karena aku mencintai anak kecil itu makanya aku tidak mau dia tahu soal semua masalah yang aku jalani, aku tidak mau membuat otak kecilnya koslet. Aku mau, otaknya hanya dipakai untuk memikirkan aku dan merindukan aku" jelas Reno panjang lebar membuat Novi bersemu merah. Ia baru sadah jika pria ini sangat menjaganya seperti sebutir telur yang tidak dibiarkan pecah.
Melihat gadisnya sudah sedikit membaik, Reno mengajaknya untuk pulang ke rumah sakit.
"Ayo, kita pulang" ajak Reno.
"Aku tidak mau pulang, aku mau pergi dari sini. Tolong bawa aku pergi jauh" ucap Novi yang kembali berkaca-kaca.
"Apakah kamu akan pergi meninggalkan bunda?" tanya Reno.
"Aku sumber masalahnya mereka, jadi bawa aku pergi sejauh mungkin agar mereka bahagia. Aku yang menghambat kebahagiaan mereka." ucap Novi kembali menangis.
"Apa kamu yakin bunda bahagia jika kamu meninggalkannya? hati wanita siapa yang baik-baik saja jika hidup bersama tanpa status jika bukan karena pengirbanannya demi buah hatinya? Jangan egois, jika kamu mau pergi, jangan lupa membawa bunda juga, dia lebih sakit, lebih derita. Apakah dia pernah berbagi rasa sakitnya dengan kamu? bayangkan, kamu yang baru tahu kenyataan hari ini saja sudah sesakit ini, apalagi dia yang sudah menyimpan luka itu puluhan tahun, mungkin juga luka itu sudah membusuk dan akan membahayakan dirinya" nasehat Reno panjang lebar supaya gadis kecil itu tidak menyalahkan wanita yanh sudah melahirkannya.
"Bunda" lirih Novi.
"Ayo, jika kamu mau pergi maka kita menjemput bunda terlebih dahulu.
"Terima kasih ka' " ucap Novi.
"Ayo, jangan banyak bicara lagi, kasihan bunda" ucap Reno.
Reno yang tahu jika keberadaan mereka saat ini audah sangat jauh dari Rumah sakit, memilih untuk menunggu taksi untuk mengantar mereka pulang ke sana.
Setelah beberapa menit kemudia, mereka mendapat kendaraan yang bisa membawa mereka pulang.
Sepanjang pulang ke Rumah Sakit, kedua-duanya sama-sama diam. Novi yang mereng akan nasib hidupnya sedangkan Reno merenung bagaimana caranya mejelaskan kepada ayah Veron dam Arjo untuk membawa Novi dan bundanya pergi sebentar.
Diamnya mereka hingga tiba di gerbang Rumah sakit.
BERSAMBUNG