
"Hai om Leno, apa kabal?" tanya Mey yang baru tiba di ruang tamu dan lamgsung duduk di sofa tepat di samping Reno.
"Sudah lama tidak ketemu tapi ternyata kaka masih saja salah kalau sebut nama om" ucap Reno.
"Cih, pengeltian sedikit kenapa sih?" gerutu Maggie membuat Reno terkekelh.
****
Keluarga itu akhirnya menikmati makan malam bersama Reno dan Novi.
"Ka Ren, apa yang kamu rencanakan setelah ini?" tanya Mey di sela makan mereka.
"Aku akan memulainya karena mereka sudah melangkah terlalu jauh dan sepertinya merwka sudah menyadari keberadaanku sehingga mereka berusaha untuk membuat perusahaan kedua orang tuaku bangkrut karena mereka sudah membangun salah satu perusahaan yang menggunaka nama lain" jelas Reno sambil berhenti memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Hah? jadi mereka menggunakan uang perusahaan itu untuk membangun perusahaan baru atas nama mereka?" tanya Mey dengan nada tidak puas.
"Iya betul sekali dan untungnya aku punya salinan dari semua uang yang mereka cairkan dari perusahaan dan sangat besar jumlahnya." Jawab Reno sambil menerawang.
"Huh, olang begitu tu halus dibantai om Leno, bila pellu kalo om Leno mau kaka bisa bantu loh" ucap Maggie yang sejak tadi diam menikmati makannya dan ternyata ia sedang menyimak juga apa yang dibicarakan para orang tua itu.
Ucapan gadis kecil itu mengalihkan semua perhatian para orang tua yang ada di meja makan itu. Sedangkan yang berbicara malah asyik melanjutkan makannya tanpa beban.
"Kaka serius mau bantu om?" tanya Reno memancing.
"Mau lah?" ucapnya santai.
"Kalau begitu om setuju, tapi ada syaratnya. Kaka hanya bantu om untuk menyusun strategi" ucap Reno serius karena ia tahu betul watak gadis kecil itu dan liciknya dia.
"Aghh ta selu kalo kaka hanya susun stlategi. Asyiknya kalo kaka ikut bantai" jawabnya santai membua semua orang ikut melotot bahkan ada yang tanpa sadar membuka mulut lebar saking kagetnya.
"Tidak bisa" ucap Mey cepat karena ia tidak mau puterinya berurusan dengan darah manusia.
"Please Mey, aku butuh bantuannya karena aku yakin dia bisa" ucap Reno memohon.
"No, aku tidak akan membiarkan anakku terlibat dalam masalah yanh sulit Ren," bantah Mey tetap pada pendiriannya.
Reno akhirnya mengalah karena induk dari gadis kecil itu tidak mengijinkannya.
Setelah makan malam, mereka berbincang sebentar dan keluarga Reno akhirnya pamit pulang ke apartemen mereka.
****
Hubungan bunda Nur dan suaminya akhirnya membaik, dan walaupun sudah dipaksa oleh puteranya untuk tinggal di Mansion tapi bunda Nur memilih tinggal di apartemen untuk sementara karena mereka berencana akan kembali rumah lama mereka yang ada di pinggir pantai. Mengingat usaha mereka yang mulai berkembang karena campur tangan tuan Devid dan mereka juga harus kembali karena di beri kepercayaan oleh Alfa untuk menjaga salah satu hotel yang dibangun khusus untuk puterinya Maggie.
"Bunda, kapan kita pulang kampung?" tanya ayah veron pada isterinya.
"Kalau ayah sudah bisa jalan lagi" jawab bunda. Ayah sudah bisa berjalan tapi untuk sementara masih bergantung pada tongkat.
"Terima kasih bunda, sudah mau menerimaku kembali walaupun aku banyak mengecewakan bunda" ucap Ayah.
"Ini semua demi puteriku" ucap bunda santai dan ayah pun sadar jika ia b3lum sepenuhnya dimaafkan.
"Maaf" lirihnya.
****
Sudah seminggu, Reno dan isterinya datang ke Australia dan merekapun sudah mengunjungi keluarga angkat Reno dan ternyata mereka menerima Novi dengan baik seperti pertama bertemu di acara nikahan waktu itu.
Tepat jam dua tengah malam, ponsel Reno berbunyi, pria itu membuka mata dan melihat ke arah samping. Isterinya yang kelelahan karena mereka baru saja selesai olah raga malam beberapa menit yang lalu.
Dengan perlahan-lahan ia bangun dari tidurnya dan kembali mengenakan pakaiannya yang baru ia pungut di lantai, lalu melangkah keluar dari kamar untuk menerima telepon dari anak buahnya.
📱Malam tuan, keadaan semakin mendesak dan kita harus bergerak sekarang sebelum terlambat.
📱Baik lakukan dengan baik, aku akan sampai 10 menit lagi.
📱Baik tuan.
Seorang mata-mata Reno yang selama ini ia tempatkan untuk memantau keadaan di perusahaan keluarganya, dan ternyata orang-orang itu sudah mulai melakukan aksi mereka.
Setelah menelepon Reno, salah satu anak buah itu langsung mempersiapkan diri untuk dan juga teman-temannya untuk mulai bergerak sebelum para orang-orang itu semakin jauh bertindak.
Reno kembali ke kamar ternyata isterinya masih pulas dan tidak terganggu sama sekali.
"Maaf sayang, tidurlah sampai pagi" ucap Reno dan akhirnya mendaratkan kecupan di kedua mata isterinya yang tertutup rapat, kening, pipi, hidung dan berakhir dibibir. Setelah melakukan ritual tersebut, Reno melangkah masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bertukar pakaian.
Reno kembali melangkah keluar dan ternyata isterinya masih dengan posisi yang sama. Setelah membenarkan selimut untuk menutup tubuh polos isterunya, Reno akhirnya pergi dan menutup pintu dengan benar.
"Jaga isteriku jangan sampai terjadi sesuatu padanya" ucap Reno pada dua pria berbadan tegap yang kini berada tepat dipintu apartemen itu.
"Baik tuan" jawab mereka serentak.
"Ingat! nyawa kalian taruhannya.
"Siap" jawab mereka lagi.
Reno akhirnya benar-benar pergi dari sana menuju tempat di mana anak buahnya sudah menunggu karena malam ini mereka harus menjalankan misi mereka. Walaupun mendadak tapi mereka sudah merencanakan semuanya jauh sebelumnya.
Sebenarnya Reno tidak tega meninggalkan isterinya sendiri apalagi tanpa pesan tapi demi mengambil kembali harta orang tuanya, ia terpaksa melakukanannya.
Pagi menjelang, Novi terbangun dari tidurnya tepat jam 8 pagi.
Ka Reno pasti sudah ke kantor, uhhh kenapa jadi isteri nggak berbobot bangat sih? mana ada suami bangun pagi ke kantor isteri malah masih ngorok. Akhh sudah ah, pasti dia ngerti sama aku, kan dia yang buat aku kelelahan sampai bangun kesiangan. Batin Novi berperang.
Wanita itu akhirnya bangun dan masuk ke kamar mandi karena ia yakin suaminya sudah berangkat kantor jadi dia harus bangun untuk masak karena sejak menikah, Reno lebih memilih makan siang di rumah.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian santainya dan langsung menuju ke dapur.
"Masak apa ya?" gumam Novi sambil mengabsen isi kulkas yang sudah ia buka.
"Aghhh apa aja deh, dia orangnya tidak pemilih. Lagian katanya dia suka semua masakanku" lanjut Novi sambil mengeluarkan beberapa ikat sayur, wortel, kentang dan beberapa bahan masakan lainnya.
Dengan semangat, wanita itu berperang dengan alat-alat dapur untuk menyiapkan makan siang.
BERSAMBUNG