
Lima tahun Kemudian
Maggie berusia 11 tahun sedangkan kedua adiknya sudah berusia 7 tahu. Namun bedanya, kedua adiknya tidak cadel seperti Maggie dulu. Sejak berusia tiga tahun, keduanya sudah bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.
"Mom, kenapa tidak ada paha ayamnya sih?" teriak Daffi dari ruang makan karena di atas meja makan tidak tersedia menu andalan kesukaannya.
Bukan cuma Daffi tapi juga Maggie yang setiap kali makan selalu heboh jika tidak ada di sana.
"Apa bedanya paha sama dada atau lainnya?" ucap Daffa dengan nada yang dingin.
"Ya bedalah, abang itu ga tahu aja gimana nikmatnya makan paha ayam kaya di iklan-iklan itu loh" ucap Daffi memanasi sang abang.
Daffa malas berdebat sama adik kembarnya yang cerewet dan banyak maunya. Keduanya yang sudah mengenakan seragam lengkap dan lebih dulu ada di sana.
"Selamat pagi" ucap Maggie yang juga baru bergabung karena baru selesai bersiap.
"Pagi kakaku yang cantiknya sejagat raya Indonesia raya" jawab Daffi mengada-ada.
"Cih lebay" cibir Maggie sambil menyimpan tasnya dan duduk berhadapan dengan kedua adiknya.
"Woiii bang, jawab dong! tu kaka lagi kasih selamat" protes Daffi karena kembarannya hanya mengangguk saat dipin mommyucapkan selamat oleh sang kaka.
"Dede, mana paha ayamnya" tanya Maggie karena tidak menemukan lauk andalannya. Karena hanya mereka berdualah yang wajib makan paha ayam jadi jika tidak ada maka otomatis salah satnya yang sudah menghabiskan.
"Mana aku tahu emang ga ada disiapin mommy." jawab Daffi sewot.
"Kenapa sih kalian, dari tadi ribut Mulu cuma karena paha ayam doang. Emang ga bisa ya kalau ga ada paha ayam" gerutu Daffa pada lembaran dan kakanya.
"Ga bisa!!" ucap Maggie dan Daffi bersamaan.
"Cih," cibir Daffa pada dua orang yang selalu kompak dalam berbicara maupun makanan.
"Hei anak-anak Daddy kenapa ribut pagi-pagi hmm" ucap Alfa yang baru turun bersama istrinya.
"Selamat pagi anak-anak mommy" ucap Mey memberi salam.
"Selamat pagi dad, mom" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Loh kenapa mukanya ditekuk gitu sayang?" tanya Mey yang melihat Maggie dan Daffi tidak bersemangat pagi ini.
"Tuh gara-gara paha ayam dunianya mereka runtuh mom" ucap Daffa mengadu.
"Oh jadi karena paha ayam ni sampai mukanya ditekuk gitu. Mommy tidak lupa kok, tuh masih di dalam pemanas" jelas Mey membuat wajah mereka langsung berseri kembali. Mey melangkah ke dapur untuk mengeluarkannya dari pemanas atas bantuan seorang asisten.
Kenapa aku rasa jadi flash back lagi ya! mereka betul-betul foto copy aku bangat. Waktu kecil tidak ada paha ayam di meja makan pasti sama mama perang seharian. Batin Alfa mengingat masa lalu ketika ia masih kecil.
Pria itu melihat dirinya sendiri dalam diri kedua anaknya itu. Beda dengan Daffa yang pendiam walaupun kadang agak rese.
Mereka makan dengan damai pagi itu, sebelum berangkat kerja dan anak-anak berangkat ke sekolah.
Ketiga anaknya bersekolah di sekolah yang berbeda karena sampai dengan saat ini, Maggie seolah menghilang dari keluarga Adipaty dan Smith walaupun dulu sempat tampil di publik, namanya sengaja dihilangkan bagian terakhir, walaupun begitu masih ada barang-barang branded yang melekat di tubuhnya, tapi tidak mengenalnya sebagai cucu atau anak dari orang terkaya itu. Beda dengan Daffa dan Daffi yang dikenal semua orang kalau mereka adalah cucu dan anak dari pengusaha kaya raya di kota itu.
Seperti biasa, Maggie pergi diantar oleh om Bedi yang sudah bekerja dan menjadi sopir pribadi gadis kecil itu hampir enam tahun dan seperti biasa pula jika diluar mereka akan berakting selayaknya adak papa.
"Om Bedi, ade ikut mobil ka Maggie aja ya?" pinta Daffi.
"No..!" bantah Maggie yang tidak ingin jalan bersama si kembar. Biasanya jika mereka keluar rumah bersama maka gadis kecil itu akan memakai topi, kaca mata hitam dan masker.
"Please ka sekali aja" ucap Daffi memohon.
"De cepat udah terlambat ni" seru Daffa pada kembarannya yang malah asyik di dekat mobil kakanya.
"Tuh jalan sana. Jangan aneh-aneh de" gerutu Maggie sambil masuk ke dalam mobil, sedangkan Daffi dengan tidak bersemangatnya mendekat ke mobil daddy-nya.
"Anak itu, sudah tahu kalau dekat sama kakanya pasti ga bakalan aku tapi mau aja ke sana" ucap Alfa sambil memperhatikan wajah sayu putera bungsunya.
"Mereka itu saling menyayangi dan membutuhkan tapi mereka saja yang tidak tahu mengekspresikan nya" jelas Mey yang tahu kalau anak-anaknya walaupun selalu berdebat tapi sebenarnya saling menyayangi.
"Kenapa, Kaka ga mau sama kamu ya?" tanya Alfa pada putera bungsunya yang hanya diam.
"Kamu tenang aja boy, nanti Daddy culik dia biar kalian jalan-jalan sampai puas sama Kaka oke?" ucap Alfa memberi semangat pada puteranya.
"Iya dad" jawab Daffi tapi masih dengan wajah sedih.
Daffa kasihan dengan kembarannya tapi memang mereka hanya bisa bersama di rumah saja karena jika ke taman bermain atau tempat umum seperti Mall pasti tidak bisa bersama-sama.
Alfa akhirnya mengantar si kembar ke sekolah mereka dan mengantar juga sang isteri ke kantornya dan itulah yang dilakukan Alfa setiap hari karena ia tidak mau meribetkan Riko yang dalam proses juga mau menikah dengan Lili.
"Belajar yang semangat ya anak-anak mommy" ucap Mey memberi semangat kepada anak-anaknya.
"Iya mom" jawab si kembar serentak.
"Bila perlu ya, kalian kalahkan otak cerdasnya Kaka kamu tu" ucap Alfa memanasi si kembar.
"Mana ada Kaka bisa dikalahkan begitu saja. Daddy aja kalah sama Kaka" cibir Mey pada suaminya membuat Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dijatuhkan di depan kedua puteranya.
"Sudah, sana masuk" ucap Alfa pada kedua puteranya yang masih berdiri sambil tersenyum ke arahnya seolah ikut mengejek.
"Iya mom, dad" ucap keduanya lagi sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Dad jangan lupa nyulik Kaka weekend nanti ya" seru Daffi sambil berbalik dan menatap sang Daddy.
"Oke boy," jawab Alfa sambil membalikkan badan dan mengekori sang isteri kembali ke mobil.
"Mom, siang nanti aku jemput ya? kita makan siangnya bareng" ucap Alfa sambil memasang pengaman.
"Tumben Daddy ngajak makan siang bareng" ucap Mey pada suaminya.
"Anak-anak sudah besar malah kita jarang punya waktu bareng" ucap Alfa memelas.
"Iya deh, nanti mommy telpon saat makan siang" ucap Mey membuat sang suami kembali semangat dan menjalankan mobilnya.
BERSAMBUNG