
"Kaka!!!!" teriak Alfa pada anak sulungnya yang sudah menyiksa putera bungsunya.
Yang diteriaki malah masuk ke kamar sambil cekikikan karena berhasil mengalihkan perhatian daddynya yang cuek itu.
"Lasain, siapa suluh mau main-main sama kaka Maggie Pladania Adipaty" ucapnya bangga sambil melihat bayangannya di dalam cermin.
Gadis kecil itu malah naik ke atas ranjang sambil melompat-lompat dan bernyanyi riang di dalam kamarnya, sedangkan Alfa sudah kesal setengah mati sambil membuka ikatan dari puteranya yang sejak tadi menangis sambil mengadu.
"Papapa kakaka bodo" ucapnya dengan gaya anak kecil.
"Iya boy, nanti daddy marahin kaka" ucap Alfa membujuk puteranya dan mengangkatnya ke dalam gedongannya.
"Mau maya putu ta (Tidak mau marah, pukul saja)" ucap Daffi sambil meronta dalam gendongan sang daddy.
"Iya daddy pukul sekalian ikat kaka kaya tadi dede diikat" ucap Alfa agar anaknya tenang.
"Mauuuu (Tidak mau)" teriaknya sambil menangis semakin keras karena takut daddynya menyiksa sang kaka.
"Loh dede kenapa nangis sayang?" tanya Mey yang baru selesai dari dapur karena ayah sama ibu lagi berkunjung ke keluarga di kota sebelah. Mey sudah terbiasa dengan mengolah makanan sendiri untuk keluarganya sehingga para ART hanya melakukan tugas yang lain.
"Papapapa" ucapnya sambil menangis.
"Loh ko papa? bukannya kaka?" ucap Alfa bingung karena puteranya malah mengadu pada mommy bahwa dirinya yang membuatnya menangis.
"Papapa maya kakaka ( papa marah kaka)" ucapnya dengan masih menangis.
"Kenapa kaka yang selalu diutamakan? jelas-jelas tadi dia disiksa sama kakanya, kenapa aku yang jadi tersangka?" gerutu Alfa tidak terima baik. Pria itu memilih duduk kembali di sofa setelah Mey sudah mengambil alih menggendong sang putera bungsu mereka.
"Kenapa dad?" tanya Mey yang samar-samar mendengar suaminya menggerutu.
"Tidak" jawabnya dingin membuat Mey tersenyum geli.
"Nana nana nana nana nana nana (Dengan nada Burung Kaka Tua)" Magie yang bernyanyi riang sambil menuruni anak tangga satu per satu.
"Cih si biang kerok datang lagi, habis buat masalah aku yang kena getahnya" gumam Alfa menatap sinis puterinya yang baru turun dari kamar tanpa beban.
"Kakakaka" seru Daffi sambil merentangkan tangannya minta dipeluk sama si kaka.
Dengan senyum penuh kemenangan ke arah daddynya, Meggie mendekat dan memeluk adiknya yang bontot itu. Alfa yang melihatnya semakin geram namun apa mau di kata? puteranya lebih memilih kakanya yang sudah jelas-jelas jahat padanya.
"Dede kangen sama kaka ya?" peluk Maggie sambil bertanya.
"Papa maya kaka" lapor Daffi pada kakanya membuat Mey yang sedang memangku anaknya itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba tawa Mey berhenti dan menampilkan tampang bingungnya.
"Dad, abangnya mana?" tanya Mey panik karena sejak tadi tidak melihat putera sulungnya.
"Hah?" Alfa malah ikut panik.
"Tidul kali?" jawab Maggie enteng.
"Abang mana kaka?" tanya Mey.
"Tuh lagi tidul kalena cape belajalnya" ucap Maggie sambil menunjuk ke arah belakang sofa dengan dagunya.
Alfa berlari ke belakang sofa dan ternyata betul. Abang malah tidur bersandar di sofa dengan kedua tangannya masih memegang buku yang terbuka di atas pangkunya.
"Oh my God, anak-anakku kenapa pada aneh semua begini" ucap Alfa sambil menepuk keningnya. Mendengar ucapannya Maggie malas tahu, ia malah asyik bermain bersama si bontot.
Alfa mengangkat puteranya dan membawa ke kamar untuk menidurkannya.
"Mauuuu" jawab Daffi yang membuat bibirnya maju ke depan.
"Mas, ayo turun makan siang dulu" teriak Mey dari bawa tangga menuju lantai atas. Ya hari ini weekend tapi karena semua kecapaian baru pulang dari Indo sehingga memilih bersantai di rumah.
"Yess makan" seru Maggie sambil pergi meninggalkan Daffi sendiri.
"Cihh, anak gadis ko rakus. Giliran makan, semangatnya ampun deh" gumam Mey yang melihat puterinya sudah pergi lebih dahulu ke ruang makan.
"Bi tolong jaga Daffi ya, kami makan dulu. Bi sudah makan?" ucap Mey saat melihat seorang ART ada di dekat sana.
"Belum. Nanti, setelah nyonya dan lainnya" ucap sang ART sambil mendekat ke arah Daffi yang asyik memainkan robotnya.
*****
Jika bunda belum bisa hidup bersama ayah, maka jangan cari ayah sampai bunda benar-benar mau iklas menjalani hidup bersama suatu saat nanti. Ayah akan baik-baik saja, Ayah pamit ya! tolong sampaikan salam ayah pada kedua anak kita. I love u all.
*Ayah*
Arjo akhirnya sadar, keegoisan yang dia pertahankan selama ini akhirnya jadi bumerang untuk hubungan keluarganya sendiri.
"Maaf" lirih Arjo sekali lagi.
"Jangan mengalahkan diri sendiri. Sekarang yang terpenting kita cari tahu keberadaan ayah saja" ucap Reno yang melihat iparnya menyesal.
"Ka' bukannya kamu punya banyak kerjaan? katanya malam harus berangkat kan?" tanya Novi pada suaminya.
"Apakah aku harus meninggalkan masalah ini begitu saja?" tanya balik Reno.
"Kita akan tunda jika semuanya sudah beres. Kamu tinggal sama bunda di sini dan jangan ke mana-mana." lanjut Reno.
"Ayo kita berangkat" ajaknya pada Arjo.
Kedua pria yang berstatus ipar itu pun pergi meninggalkan apartemen dan juga dua wanita tersebut.
"Kita akan ke mana?" tanya Arjo karena rupanya mobil yang dibawa Reno sudah mengarah keluar dari jalan kota.
"Ikut saja. Ayah sudah kembali ke rumah yang dulu mereka tempati untuk membesarkan Novi" jawab Reno santai.
Arjo tahu karena ia pernah ke tempat itu walaupun tidak sampai di rumah yang dimaksud.
Suasana dalam mobil kembali sepi. Baik Reno maupun Arjo sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Di Apartemen
"Maafkan bunda" ucap bunda Nur.
"Tidak perlu bunda minta maaf. Novi tahu bunda sudah menderita cukup lama. Novi mau minta trima kasih sama bunda yang sudah menjadi wanita kuat demi melindungiku dari bullyan anak-anak lain." ucap Novi berkaca-kaca.
Gadis itu mengerti perasaan sang bunda yang sangat luar biasa itu.
Wanita yang bertahan demi puteri kecilnya. Wanita yang berusaha memberi kasih sayang yang sempurnah bagi anak satu-satunya. Walaupun dia yang menderita.
"Apa bunda sudah rela untuk lepas dari ayah?" tanya Novi.
.....
"Jika bunda bahagia hidup tanpa ayah, Novi akan menjelaskannya kepada ayah agar tidak ada kesalah pahaman" lanjut Novi.
.....
"Semua tergantung pada bunda. Ayah pasti akan mengerti jika keputusan bunda adalah hidup sendiri." ucap Novi panjang lebar tapi tidak ada sepatah katapun yang dijawab bunda.
"Bunda takut, takut kalau ayah hanya menebus kesalahannya karena tidak memberi status yang jelas kepada kamu. Bunda hanya wanita yang dipilih karena kebetulan mengandung kamu anaknya." lirih bunda.
BERSAMBUNG