
Hai semuanya, maaf akhir-akhir ini Author sering bermasalah dengan kesehatan sehingga bolong-bolong upnya. Semoga tidak bosan menunggu ya? Author akan berusaha up setiap hari nantinya.
******
Mey pun tiba di tempat penyekapan nIna. wanita beranak tiga itu masuk dengan beberapa pengawal termasuk dua orang pengawal yang tadi menjemputnya.
Mey dapat merasakan bahwa tempat ini sangatlah seram dan ungkin inilah tempat yang dipakai keluaega suaminya untuk menyekap orang-orang tawanan mereka.
"Selamat datang menantuku" ucap opa Gaston tenang saat melihat seorang wanita yang masih sangat cantik dan muda karena memang dia baru berusia 30-an.
"Iya opa, apa kabar?" balas Mey sambil melangkah mendekat ke arah opa Gaston lalu menciu punggung tangan pria tua itu.
"Baik nak, apa yang membuat menantu cantikku ini nekad terbang dari Australia sampai Indonesia sendirian?" tanya opa Gaston mulai mengumpan isteri dari keponakannya itu.
"Apa opa punya mainan bagus? aku ingin mengunjungi kaka tapi aku dengar opa lagi ada di Indonesia. Karena selama ini Mey belum pernah bertemu secara langsung dengan opa dan hanya sekedar via vc jadi Mey mampir dulu ke sini" jelasMey panjang lebar. Ia bahkan memanggil saudara dari mertuanya dengan panggilan anak-anaknya, OPA.
"Hahaha kamu memang puteri Devid yang polos tapi mengerihkan" ucap opa Gaston dengan tawa candanya.
"Apa kamu mau menemaniku ke ruang sebelah?" tanya opa Gaston.
"Apakah boleh?" tanya Mey.
"Sangat boleh" jawab opa Gaston sambil menuntun sang menantu menuju ke ruang di mana Nina disekap.
Mey melangkah masuk sambil kedua bola matanya menatap ke sana ke mari untuk melihat dinding-dinding gedung tua itu yang menurutnya sangat angker.
"Apakah kamu takut nak?" tanya opa Gaston.
"Seikit" ucap Mey cengengesan.
(Alfa benar-benar brengsek pernah membuat wanita yang berhati mulia ini menderita. Walaupun puteri pertamanya sudah gadis tapi sifat manja dan kekanak-kanakannya masih saja melekat) batin opa yang melihat tingkah Mey seperti anak usia remaja yang manja.
Mereka akhirnya tiba di ruangan yang mereka tuju. Mey yang melihat Nina langsung panas dingin namun ia bisa menahan emosinya agar tidak meledak saat itu juga.
Tanpa opa Gaston sadari, senjata api yang melekat di pinggangnya sudah berpindah tempat dan lebih tepatnya saat ini benda itu sudah ada di tangan Mey.
Opa Gaston kembali kalah cepat dengan bunyi tembakan yang bergea di ruangan itu bahkan sebanyak dua kali tembakan.
"Nak..." opa Gaston tidak meneruskan ucapannya karena bersamamaan dengan teriakan Nina yang menjerit kesakitan.
"Mey..." teriak seorang pria yang juga baru sampai di pintu ruangan itu, menyaksikan sendiri isterinya melepas tembakan kepada mantan isterinya.
Dor Dor
"Ahhhh ahhhh" teriak Nina.
Mey mengembalikan senjata api itu kepada tuannya lalu melangkah mendekat ke arah wanita yang baru saja menjerit kesakitan itu.
"Kamu tahu kenapa aku melakukan ini?" tanya Mey sambil mencengkram kedua sisi rahang Nina dengan kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan entah karena kedua tembakan tadi atau sakit di bagian kedua pipinya. Mey bahkan tidak peduli dengan opa Gaston dan suaminya yang baru saja datang.
"Kamu tahu sakitnya hati seorang ibu yang hidup menderita bertahun-tahun, Melahirkan puterinya dengan perjuangan antar hidup dan mati, merawa, mendidik, membesarkan. Kamu tahu rasanya hidup tanpa suami dan harus menerima banyak hinaan, bahkan gadis kecil yang tidak bersalahpun harus menanggung akibat diabaikan daddynya, dibully teman satu sekolah sebagai anak haram, apa kamu tahu rasanya? oh aku lupa, kamu memang seorang ibu juga tapi kamu tidak pernah merasakan semua itu karena kamu tidak pernah menyanyangi anakmu dengan sungguh-sungguh" ucap Mey penuh penekanan membuat Alfa kembali dihantam dengan ribuan pedang di hatinya.
Opa gaston menyimak semua kata-kata menantunya, ia bahkan membayangkan wajah ceria cucu kekasihnya yang begitu ia cintai.
(Ternyata hidupmu sepahit itu nak) batin opa Gaston.
"Bersyukurlah aku masih memberimu kesempatan untuk mencari dan bertemu dengan anakmu agar kau tidak mati sia-sia." Lanjut Mey dengan senyum sinisnya.
"Bersyukur juga hanya kedua lututmu yang aku remukkan agar kau lumpuh seumur hidup dan dengan begitu, tangan kotormu ini tidak lagi menyentuh puteriku" ucap Mey tegas dan kembali berbalik.
"Pak, antarkan aku kembali ke penginapan" ucap Mey kepada pria yang tadi menjemputnya.
"Ayo sayang, kita pulang" ajak Alfa sambil memegang pundak isterinya namun langsung ditepis kasar oleh wanita itu.
"Aku tidak butuh bantuanmu" jawab Mey tegas embuat Alfa tertegun.
Opa kasihan melihat keponakannya seperti orang bingung yang tidak mampu berbuat apa-apa.
"Wanita punya hati yang lembut dan pandai menyembunyikan perasaannya tapi dia bisa menjadi singa betina untuk melindungi anaknya" ucap opa kepada keponakannya.
"Ayo kita ke sebelah" ajak opa Gaston kepada Alfa.
Pria itu seperti robot yang bergerak mengikuti pamannya.
******
Mey sudah tiba di kamar hotel yang dia sewakan, kali ini ia tidak tinggal di apartemen ayahnya atau mansion mertuanya.
Mey mengeluarkan pakaian jadulnya saat ia masih jadi wanita biasa, walaupun sudah memiliki tiga anak tapi tubuhnya masih seperti dulu sehingga pakain sederhananya saat Maggie masih kecil muat di tubuhnya yang sekarang.
Setelah melihat penampilannya di depan cermin, wanita itu tersenyum.
"Perfek" penampilannya kembali seperti dulu, seperti wanita biasa yang bukan wanita berkarier.
Mey mengangkat ponselnya lalu menelepon puterinya yang sedang ada pelajaran.
Tring tring tring
"Halo mom" jawab Maggie sambil menunduk di kolong mejanya.
"Kaka lagi apa?" tanya Mey
"Mom, kaka kuliah lah (Ihhh dasar mommy dulu nggak sekolah mana ngerti jam kuliah aku?)" jawab Maggie dan dilanjutkan dengan gerutuan dalam hatinya.
"Bolos dong, mommy lagi di Indo nih. Masa mommy harus sendirian di kamar hotel terus?" ucap Mey seperti anak kecil yang mengadu kepada ibunya membuat puterinya pusing.
"Mommy lagi berantam sama daddy ya?" tebak Maggie karena tidak pernah mommynya seperti itu.
"Oke aku pulang sekarang, kasih kaka alamat hotelnya" jawab Maggie langsung mematikan sambungan telepon.
"Akhhh" teriak Maggie saat akan mengeluarkan kembali kepalanya, malah kepalanya mengenai meja sehingga menimbulkan suara yang cucup.
Gadis itu mengusap kepalanya dengan wajah memerah.
"Kamu sih, trima telepon pake acara masuk ke dalam kolong meja segala" ucap Ria mengomeli sahabatnya namun tangannya ikut mengusap kepala sahabatnya itu.
Roberth yang tak jauh dari sana ikut panik melihat sang kekasihnya yang kesakitan.
(Cih ini semua gara-gara mommy, aku harus membuatnya membayarnya dengan makanan enak) gerutu Maggie dalam hati. Gadis itu bahkan masih sempat-sempatnya memikirkan makanan enak.
Tok tok tok
Maggie mengetuk meja.
Dosen yang sejak tadi melihatnya saat ia berteriak kembali memicingkan matanya.
"Bapak, apa aku bisa ijin? aku lagi ada masalah keluarga" ucap Maggie membuat satu kelas itu menatap ke arahnya, termasuk Roberth yang semakin panik.
"Baiklah kamu boleh pulang untuk menyelesaikan masalah keluargamu." jawab sang dosen membuat Maggie langsung menyimpan buku-bukunya ke dalam tas.
"Pak, apa aku juga boleh ijin" ucap Roberth tidak mau kalah.
"Memangnya kamu punya masalah apa?" tanya dosen bingung dengan tindakan Roberth.
"Masalah hati pak" jawab Roberth asal, ia bahkan ikut membereskan buku-bukunya walaupun dosennya belum menjawab iya.
Maggie sudah lebih dahulu keluar tanpa menunggu Roberth. Sela dan gengnya yang melihat itu semakin benci kepada Maggie yang hanya anak baru tapi bisa menaklukkan Roberth.
BERSAMBUNG