
Papa Alberth dan mama Ratna telah tiba di London, dan langsung dijemput oleh pihak Rumah Sakit terbaik di negera ini.
Keadaan Alfa kembali drop karena perjalanan yang cukup lama apalagi kepalanya yang baru dioperasi. Mama Ratna sedih dengan nasib puteranya yang sekarat tanpa ada isteri dan anaknya namun iya menyadari kalau ini semua tidak sebanding dengan luka yang ditorehkan pada hati anak dan mantan isterinya dulu.
Saat ini Alfa berada di ruang ICU dan kedua orang tuanya dengan setia menjaga karena Roky asistennya itu harus mengurus perusahaan.
"Mama istirahat ya, biar papa yang jaga putera kita" bujuk papa karena takut jika kondisi mama kembali drop.
"Nanti saja pa, mama masih kuat" ucap mama yang tidak mau meninggalkan puteranya sendirian.
Kedua orang tua itu tetap berada di sana untuk mengikuti perkembangan pemulihan anak mereka.
******
Hari ini, sesuai janji opa bahwa ia akan membawa cucunya membesuk Alfa. Setelah kepergian Reno dan Mey ke kantor, ketiga orang ini memilih pergi ke Rumah Sakit. Setibanya di sana opa bertanya kepada resepsionis, dan langsung mengarahkan mereka ke ruang dimana Alfa tempati sebelumnya.
Di ruang ICU yang ditempati Alfa ternyata kosong, dan sejak tadi opa menghubungi tuan Alberth dan isterinya tapi tidak satupun yang mengangkat teleponnya.
"Daddynya mana opa?" tanya Maggie yang sudah tidak tahan ingin bertemu daddynya sekarang
"Dokter, mau tanya pasien yang kemarin nginap di sini berada di mana ya?" ucap opa saat melihat ada dokter di sana, tanpa menjawab pertanyaan cucunya
"Pasien yang kepalanya luka kemarin ya tuan?" tanya sang dokter
"Itu daddyku dotel" Sambung Maggie yang tidak puas diabaikan
"Kemarin sudah dibawa pergi oleh kedua orang tuanya ke Rumah Sakit di luar negeri yang lebih baik karena pasien masih koma" jawab dokter
"Oma Latna jahat" ucap Maggie merajuk dengan mata berkaca-kaca.
"Baik dokter, kami permisi"ucap opa.
Mereka akhirnya pulang dengan kecewa karena tidak dapat bertemu dengan orangnya. Apalagi Maggie yang sangat marah saat ini dan memaksa opanya untuk menelepon kedua orang tua dari daddynya agar dia bisa memarahi mereka.
"Opa telepon oma Latna ade mau malah" ucap gadis kecil itu saat mereka berada di atas mobil menuju rumah.
"Opa sudah telepon tapi oma Ratnanya tidak angkat sayang" ucap opa menenangkan cucunya.
******
Macquarie-Group
Di kantor dan lebih tepatnya di ruang CEO, Mey masih terganggu dengan semua ucapan Maggie soal mantan suaminya dan kejahatan Aldrich.
Tring tring tring
Tiba-tiba bunyi telepon masuk ke ponselnya ternyata dari Aldrich.
"Untuk apa kau meneleponku? untuk mengatakan omong kosongmu lagi" gumam Mey sebelum mengangkat teleponnya
"Halo bagaimana tuan Aldrich?" ucap Mey dibalik telepon. Sapaannya membuat Aldrich terkejut jangan sampai anak kecil itu sudah mengadu.
"I iiya halo, maaf aku baru menghubungimu karena aku baru sedikit membaik. Kenapa harus tuan lagi panggilnya" ucap Aldrich hati-hati
"Oke baiklah. Semangat kerjanya, kalau begitu aku putuskan teleponnya ya" ucap Aldric berusaha menarik perhatian Mey
"Iya" jawabnya singkat dan langsung mematikan teleponya secara sepihak.
Mey kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun dengan perasaannya yang tidak menentu.
*****
Tiga bulan sudah berlalu dan hampir setiap hari tuan Devid menghubungi nomor kedua orang tua Alfa atas perintah Maggie yang ingin tahu tentang daddynya namun sekalipun tidak diangkat oleh mereka.
Tuan Devid mulai berfirasat buruk tentang keadaan mantan menantunya itu tapi ia memilih diam agar tidak mempengaruhi keadaan cucunya.
"Halo tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap salah seorang pria misterius dibalik telepon
"Cari tahu keadaan Alfa sekarang. Kemungkinan mereka di London dan laporkan secepatnya" ucap tuan David melalui sambungan telepon
"Siap!" ucap pria itu.
Telepon berakhir dan tuan Devid kembali melangkah keluar untuk menemani cucunya yang akhir-akhir ini sudah tidak mau ke sekolah sehingga opanya mengurusnya untuk belajar dari rumah dengan pemantauan para guru.
Novi masih setia mendampingi keluarga ini, dan hubungannya bersama Reno semakin ada kemajuan walaupun hubungan mereka belum diperjelas sebagai sepasang kekasih.
Yang dulunya mereka dijuluki sebagai kucing dan tikus, sekarang tidak lagi karena mereka sudah berkomunikasi secara normal.
*******
Keadaan Alfa semakin memburuk setiap harinya, membuat papa Alberth dan mama Ratna mulai putus asa. Kedua orang tua Alfapun tidak ingin membebani pikiran Mey dan puterinya sehingga mereka sama sekali tidak memberitahukan keadaan Alfa kepada tuan Devid.
Mama Ratna yang tengah tertidur di atas sofa dekat tempat tidur pasien itu dikejutkan dengan bunyi alat Patient Monitor dengan garis lurus membuat wanita ini panik setengah mati. Suaminya juga yang tidak berada di sampingnya entah kemana membuat mama Rata semakin panik.
"Dokter, suster...." Teriak mama Ratna yang saat ini sudah berlari keluar di depan pintu. Saking paniknya ia lupa kalau di ruangan itu terdapat tombol darurat yang bisa menghubungi para medis di rumah sakit itu.
Papa Alberth yang baru sampai dibuat panik juga sehingga ia masuk dan memencet tombol darurat. Beberapa saat kemudian beberapa dokter dan perawat berlari ke arah ruang inap Alfa dengan membawa serta alat-alat medis.
Saat ini Alfa sudah kejang-kejang dan detak jantungnya semakin melemah.
"Tuan dan nyonya tunggu diluar agar kami bisa menangani pasien" ucap salah seorang perawat sambil memegang gagang pintu
"Tapi aku mau melihat puteraku" ucap mama Ratna tidak mau meninggalkan puteranya
"Ma, kita keluar supaya mereka bisa leluasa menangani anak kita" ucap papa berusaha kuat agar mama tidak drop karena mengingat riwayat penyakitnya juga yang kian bertambah.
Papa menuntun mama Ratna keluar dan pintu kembali tertutup.
Tuhan tolong puteraku, ampuni dosa-dosanya selama ini. Jangan ambil dia sebelum menyelesaikan masa lalu bersama orang-orang terkasihnya, puterinya masih sangat membutukannya. Jika bisa ditukar, ganti saja aku yang menanggung semua ini, aku yang salah dalam mendidik puteraku, jangan hukum dia Tuhan... kasihani dia. Batin mama Ratna perperang hebat ketika melihat puteranya yang sudah berada diambang kematian.
Papa dan mama yang berdiri di depan ruangan Alfa mulai harap-harap cemas.
Tiba-tiba muncullah Roky dengan wajah kelelahannya. Pria itu melihat kedua orang tua tuan mudanya yang kurang baik, memilih untuk diam dan tidak bertanya apalagi melihat tuan besar dan nyonya besar yang saat ini berada di luar ruangan. Ia mulai memprediksi jika saat ini tengah terjadi seauatu yang buruk sehingga raut wajah kedua orang ini sangat menegangkan.
-Bersambung-