Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Membuntuti



"Iya karena aku sangat mencintainya sejak lama" ucap Roberth dengan wajah berseri.


Deg


Maggie baru sadar kalau dia sudah mengklaim pria itu sebagai miliknya di depan umum, dan Roberth malah menanggapi dengan senang hati.


"Ja ja di kalian?" ucap Sela terbatah serasa dunianya runtuh.


"Roberth? kamu tahu siapa dia? dia itu wanita tidak benar!" ucap Sela memprovokasi Roberth.


"Aku akan membenarkannya" ucap Roberth santai sedangkan Maggie sudah tegang sejak tadi.


"He gadis murahan, pintar sekali kamu pelet laki-laki tajir untuk mengangkat derajat miskinmu itu" ucap Sela mulai memanas.


Maggie bangun dan langsung mendekat kearah Sela, ia langsung memegang kedua sisi rahang gadis itu membuatnya meringis kesakitan.


"Jangan menilai orang dari kulit luarnya saja, karena kau belum tahu saja apa isi dalamnya" ucap Maggie tegas sambil melepas rahang gadis itu dengan kasar.


Meggie menarik tasnya dengan kasar dan pergi dari ruangan itu dan diekori oleh Ria dari belakangnya.


"Beb beb beb, tunggu dong beb." teriak Ria karena tidak bisa mengimbangi langkah Maggie.


"Cih lemah" gerutu Maggie sambil memelankan langkahnya.


"Beb, jangan pulang dulu dong?" ucap Ria memohon.


"Kenapa?" tanya Maggie.


"Ada sesuatu yang aku mau tanyakan sama kamu, gimana kalau kita bicaranya di taman aja." ajak Ria.


Keduanya melangkah pergi ke taman kampus yang tidak jauh dari sana.


*****


Keluarga Alfa sudah tiba di mansion utama keluarga Adipaty kerena besoknya mereka akan kembali ke negara mereka masing-masing.


"Halo, bagaimana keadaan puteriku?" tanya Alfa saat sambungan telepon terhubung dengan salah seorang anak buahnya.


"Nona muda baik-baik saja, tapi.." ucap pria itu terhenti.


"Tapi apa?" tanya Alfa menuntut.


"Masih ada beberapa diantaraereka yang lolos jadi kemungkinan besar mereka akan menyelidiki nona muda untuk kejadian malam kemarin" ucap pria itu.


"Lakukan tugas kalian untuk menghilangkan jejak puteriku dari kejadian itu dan cari tahu di mana markas mereka atau tempat perlindungan mereka" ucap Alfa.


"Baik tuan" jawab pria itu dan sambungan telepon langsung dimatikan oleh Alfa.


Alfa yang sedang berbicara dengan para anak buahnya tadi menjadi pusat perhatian dari kedua orang tua, isteei bahkan kedua puteranya.


"Apa yang terjadi?" tanya Mey panik, sedangkan Oma Ratna kelihatan biasa saja sehingga membuat opa menatapnya penuh selidik.


"Kaka semalam berhasil menyelusup masuk ke tempat para bajingan itu bersenang-senang tapi ia tidak berhasil membasmi mereka semua karena ada yang membantu mereka" jawab Alfa.


"Tapi Kaka baik-baik sajakan dad?" tanya Mey menuntut.


"Iya dia baik-baik saja" Jawa Alfa tenang.


"Oke? Daddy mau beristirahat dulu karena capek, apalagi besok kita harus berangkat lagi ke Australia." ucap Alfa sambil berdiri dari tengah-tengah mereka untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang aneh dari sang isteri.


"Tapi aku ingin bertemu sekali lagi dengan Kaka sebelum pulang." ucap Mey dengan nada cengengnya membuat Alfa gemas.


"Ini Maggie kecil apa besar sih" ucap Alfa kembali duduk dan memeluk sang isteri tanpa rasa malu padahal di sana ada kedua orang tua dan juga si kembar.


"Oke, sebentar Daddy telepon biar Kaka ke sini lagi sebelum kita berangkat besok." ucap Alfa.


"Benar dad?" tanya Mey memastikan.


"Benar sayang" ucap Alfa pasti.


Mereka akhirnya beristirahat sebentar sambil menunggu para ART menyiapkan makan siang nanti.


****


"Cari tahu siapa gadis sialan yang sudah membuat kekacauan di club semalam" ucap Salah seorang pria dengan geram.


"Baik tuan" ucap seorang anak buahnya.


"Siapa itu pa?" tanya sang isteri.


"Orang yang telah membunuh Bagas dan yang lainnya." jawab pria itu kepada isterinya.


"Hah? apakah dia seorang perempuan?" tanya isterinya lagi.


"Iya, dia seorang gadis dan kita tidak tahu apa motifnya sehingga ia datang ke sana tiba-tiba saat kami sedang ada pertemuan" ucap sang suami tanpa ia ketahui ucapannya itu menjadi tanda tanya bagi sang isteri.


Pertemuan? club? mana ada pertemuan dilakukan di club malam. Di sanakan brisik dan tidak aman, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh papa? Batin sang isteri.


"Apa yang mama pikirkan?" tanya suaminya saat melihat sang isteri melamun.


"Tidak, mama hanya lupa tadi janjian sama ibu-ibu tapi lupa jadi mau kasih alasan apa ke mereka kalau ditanyain." ucap sang isteri mantap.


Sepasang suami isteri itu terus berbincang mengenai masalah isterinya yang tidak bisa gabung dengan teman-temannya.


*****


"Apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Maggie.


"Apa kamu teman masa kecilku?" tanya Ria langsung pada intinya.


"Iya, aku anak kecil yang dulu tinggal di di kedai tempat mommyku bekerja" jelas Maggie.


"Kenapa kamu pergi tanpa pamit beb?" tanya Ria dengan mata berkaca-kaca.


"Waktu itu aku belum mengerti soal kehidupan tapi opaku tiba-tiba muncul dan membawa kami pergi jauh" ucapnya.


"Baiklah setidaknya aku sudah bertemu denganmu lagi" ucap Maria langsung memeluk Maggie.


Dari tempat yang tidak jauh, Seorang pria tengah menatap mereka dengan penuh tanda tanya.


"Tunggu, tunggu. Sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu yang berharga." ucap Roberth sambil memutar kembali memory masa kecilnya.


"Gadis yang sering mengantar Maggie ke sekolah, aku yakin itu Tante Novi tapi rambutnya panjang" gumam Roberth yang masih ingin memecahkan teka-teki gadis itu yang punya hubungan dengan keluarganya.


"Terus kemarin di pantai, Maggie mengenali Oma Nur. Ya iyalah kan dulu om Reno kerja sama daddynya" gamamnya lagi mengacaukan potongan puzzle yang hampir menyatuh.


Melihat kedua gadis itu beranjak dari sana, Roberth cepat-cepat mengumpet agar tidak kelihatan.


Roberth mengikuti kedua gadis itu, hingga mereka tiba di gerbang kampus.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Roberth dalam hati.


Setelah Maggie pergi dengan ojeknya, Roberth pun menyewa salah satu ojek untuk membuntuti Maggie.


Mereka terus beriringan hingga tiba di jalan kompleks dan tepatnya tiba di salah satu gang kecil.


Maggie turun dari motor dan melangkah masuk melalui gang tersebut. Roberth yang melihat sang ojek tidak beranjak pergi akhirnya memutuskan untuk bertahan sebentar juga di sana dengan jaminan ia akan membayar ojek yang dia pakai dua kali lipat.


Beberapa saat kemudian gadis itu kembali lagi dengan sudah berganti pakaian dan menggunakan sebuah jaket biasa.


Maggie dan sang ojek kembali melaju dan sepanjang perjalanan keduanya terlibat obrolan yang cukup asyik membuat pria yang mengikutinya merasa cemburu.


Bisa-bisanya dia bicara sambil tertawa dengan ojek itu. Gerutu Roberth dalam hati.


Mereka akhirnya tiba di kompeks yang cukup elit, dan Roberth meminta sang ojek untuk mengambil jarak agar tidak ada kecurigaan.


Maggie tiba di gerbang besar milik keluarga Adipaty, ia turun dan melangkah masuk sedangkan sang ojek berputar dan kembali. Roberth tiba di depan gerbang dan menekan bel yang ada di sana.


"Siapa kau?" tanya sang penjaga.


"Aku teman Maggie" jawab Roberth.


"Jangan alasan, kami tidak mengijinkan sembarang orang untuk masuk" jawab pak penjaga tetap pada pendirian.


Tiba-tiba ada perintah melalui benda yang selalu melekat di telinga para penjaga itu.


"Biarkan dia masuk" perintah suara itu. Siapa lagi kalau bukan Oma yang memberi perintah.


Roberth akhirnya diberi kesempatan untuk masuk ke dalam mansion keluarga Adipaty dan ini adalah kali pertama ia menginjak kakinya di sana.


BERSAMBUNG