
Hari ini, sesuai janji Alfa kepada sang isteri, mereka akhirnya menelepon sang Puteri untuk menghabiskan waktu bersama sebelum pulang ke Australia.
📞Halo dad, gimana?
📞Kaka, hari ini ijin dulu ya kuliahnya.
📞Mau ngapain dad
📞Ya esok Daddy sama mommy udah pulang, jadi mommymu minta menghabiskan waktu sama kamu hari ini.
📞Iya deh Kaka usahakan deh
Maggie akhirnya pasrah karena ia tahu perasaan sang mama dan ia tidak mau mengecewakan wanita yang sudah banyak berkorban untuk dirinya.
Hari ini Maggie tidak masuk kuliah karena sesuai janjinya ia harus menghabiskan waktu bersama sang mommy dan daddynya.
Maggie mengenakan pakaian bebasnya yang sering dia kenakan jika bepergian, dan tak lupa topi kesayangannya serta masker untuk menutup wajahnya dari orang-orang yang mungkin akan berniat jahat kepadanya. Tidak terlalu sederhana dan juga tidak terlalu mewah, disertai tas sampingnya sebagai tempat penyimpan ponsel dan kartu berharga lain yang selalu ia bawa saat bepergian.
Maggie pergi meninggalkan kontrakan yang ia tinggal selama ini jika tidak kembali ke apartemen.
Hari ini Maggie benar-benar menghabiskan wktu bersama kedua ornag tuanya. Tanpa mengabarkan kepada Roberth tentang keberadaannya hari ini sehingga membuat sang kekasih benar-benar frustrasi. Kontrakan dan apartemen sudah ia datangi namun tidak menemukan seorangpun di sana.
Maggie yang tidak mau diganggu pun menon-aktifkan ponselnya selama ia bersama kedua orang tuanya.
Saat ini, Maggie dan kedua orang tuanya tengah menikmati makan siang di salah satu restoran terbuka yang ada di pinggir pantai.
"Kaka, bagaimana hubunganmu dengan nak Roberth?" tanya sang mommy kepada puterinya.
"Biasa aja" jawabnya singkat sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Loh, ko biasa sih ka?" ucap Mey kurang puas dengan jawaban sang Puteri
"lah, emang mommy mau yang kaya gimana?" tanya Maggie heran dengan respon mommynya.
"Yah, setidaknya ada kemajuan lah ka, kalian kan sudah kenal dari kecil, masa gitu-gitu aja sih?" ucap Mey lagi.
Kenapa isteriku yang greget sih soal hubungan Kaka sama Roberth? nggak tahu apa? anaknya masih sekolah sudah pikir yang aneh-aneh. Batin Alfa yang tidak habis pikir dengan tingkah sang isteri yang seolah-olah ingin anaknya cepat menikah.
"Mom, Kaka itu masih kuliah dan masih punya banyak tugas yang harus diselesaikan jadi Kaka harus fokus ke sana dulu, mommy ko maunya Kaka cepat nikah maksudnya?" gerutu Maggie kepada sang mommy.
"Yah takutnya ada yang nikung kamu ka, kan kamu tahu jaman sekarang banyak kejadian yang kaya gitu. Iya kan dad?" ucap Mey santai tanpa dia tahu kalau ucapannya telah menghujam hati sang suami sampai ke titik terdalam.
Setelah makan siang, mereka kembali menghabiskan waktu bertiga tanpa ada gangguan hingga senja hari.
Waktu terpaksa memisahkan mereka untuk harus mengakhiri kebersamaan mereka. Alfa dan sang isteri kembali ke mansion utama Adipaty sedangkan Maggie kembali ke habitatnya seperti semula.
*****
Di tempat lain, lebih tepatnya di kampus tempat Maggie kuliah. Seorang anak muda tengah frustrasi karena sampai saat ini sang kekasihnya bahkan belum menunjukkan batang hidungnya dan lebih tepatnya mungkin tidak masuk kuliah hari ini karena jam pertama kuliah mereka hampir selesai.
Jam pelajaran pertama pun berakhir, semua mahasiswa berhamburan keluar dari dalam kelas menuju ke kantin namun tidak dengan Roberth yang betah duduk di tempatnya. Ia bingung mau bagaimana. Tiba-tiba datang seorang gadis yang duduk tepat di sebelahnya sambil membawakan satu kemasan botol air mineral yang disodorkan ke depan Roberth. Siapa lagi kalau bukan Sela.
Roberth menatap air kemasan itu yang masih ada di tangan gadis itu, ditatapnya bergantian dengan menatap wajah gadis itu.
"Aku tidak haus" ucap pria itu tenang.
"Nggak apa-apa, minum aja. Aku lihat sejak tadi kamu tidak fokus pada pelajaran makanya aku belikan ini untukmu agar kamu bisa semangat lagi" jelas gadis itu panjang lebar.
"Aku bilang, aku tidak haus. Kamu ngerti tidak?" ucap Roberth penuh penekanan. Dia bahkan sudah menahan emosinya sejak tadi karena pikirannya terganggu oleh gadis itu.
"Kenapa sih? kamu tidak pernah melihat kearah ku? apa kurangnya aku dari gadis kampung itu hah?" ucap Sela penuh emosi karena usahanya tidak pernah diindahkan oleh pria itu. Dan menurutnya ini semua karena ulah gadis yang bernama Maggie.
Roberth tidak peduli dan pergi dari kelas meninggalkan gadis itu sendiri di sana.
Dasar gadis sialan. Gerutu Roberth yang sudah pergi begitu saja.
"Loh, kamu kenapa?" tanya Rockzy yang bertemu dengan Roberth di depan kelas.
"Apa Maggie ngasih kabar ke kamu soal keadaannya hari ini?" tanya Roberth tanpa menjawab pertanyaan Rockzy.
"Tidak, dia tidak menghubungiku dari kemarin? oh ya, jadi kamu juga tidak kenapa dia tidak masuk kuliah hari ini?" tanya Roberth beruntun.
"Kalau aku tahu kenapa Juga aku tanya sama kamu?" gerutu Roberth yang kembali melangkah pergi.
"Palingan juga lagi senang-senang sama orang tuanya." ucap Rockzy sesuai felingnya.
Roberth menghentikan langkahnya sebentar tanpa melihat ke belakang. Pria itu sedikit lega jika apa yang dikatakan Rockzy benar, walaupun belum begitu yakin.
*****
Di tempat yang lain lagi, seorang gadis tengah menantikan kabar dari sahabatnya yang memintanya untuk bersabar sebentar hingga mendapatkan pekerjaan.
"Maggie kemana aja sih? udah janji mau nyari kerja sama aku malah hilang begitu aja sih?" gerutu Ria sambil menatap ponselnya yang sedang dalam panggilan keluar namun yang ada hanya suara operator yang artinya nomor tersebut sedang di luar jangkauan.
"Anak ini memang tidak bisa dipegang janjinya. Kalau dia datang, ku tonjok kepalanya biar tahu rasa dia." gerutunya lagi sambil terus menelepon ke nomor Maggie lagi dan lagi.
Gadis itu berusaha sabar beberapa hari sesuai kesepakatan dengan Maggie hingga mendapatkan pekerjaan.
Ria yang hilang pekerjaan sebelumnya membuatnya menyerah untuk tidak lagi mengejar impiannya yang sudah diimpikan sejak kecil. Ria yang punya semangat menjadi seorang berpendidikan membuatnya sempat menyerah saat kematian sang ibu, namun atas dukungan sang ayah ia akhirnya kembali semangat.
Hari-harinya dia lalui dengan terus berjuang, selain kuliah ia akhirnya bekerja paruh waktu untuk biaya kuliah, biaya hidup bahkan sang ayah yang beberapa waktu terakhir ia harus menelan pil pahit karena sang ayah yang mulai sakit-sakitan da
n harus membutuhkan banyak obat untuk kesembuhannya.
Lelah, menyerah, itulah yang dirasakan Ria saat ini, tapi ia kembali kuat saat sang sahabatnya menguatkannya.
BERSAMBUNG