
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama kedua orang tuanya, Maggie akhirnya kembali ke kontrakan yang ia tempati selama ini.
Gadis itu pun berpisah dengan kedua orangtuanya. Ia memilih naik angkot pulang. Setelah tiba di persimpangan jalan menuju ke kontrakan, Maggie memilih untuk turun di sana padahal jalannya masih sekitar 200 meter lagi untuk bisa sampai di gangnya.
Gadis itu berjalan dengan santai sambil menikmati pemandangan sore itu. Ia merasa lega karena bisa mewujudkan impian sang mommy hari ini.
Saat sedang asyik berjalan sambil bersenandung, tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di depannya dan lebih tepatnya mobil itu sedikit melintang sehingga menghalangi jalannya.
Apa-apaan ini, pake palang jalan segala. Gerutu Maggie yang terus melangkah sambil mengambil haluan untuk melewati mobil tersebut.
"Hai cantik" ucap salah seorang pria yang baru saja keluar dari mobil itu. Yang dipanggil seolah tidak mendengar, ia malah berjalan dengan santai untuk melewati mobil tersebut.
"Woi, cantik-cantik ko budek sih" ucap pria itu dengan suara lantang sambil mengangkat kaki sebelah berniat menghalangi jalan gadis itu yang akan melewatinya.
Maggie berhenti sejenak lalu menatap pria itu bergantian dengan kakinya yang masih mengudara.
"Kenapa buru-buru sih cantik" ucapnya sambil menurunkan kakinya lalu melangkah mendekati Maggie yang masih berdiri.
Pria itu lalu mengangkat tangannya hendak mengelus pipi gadis itu, namun sayangnya, tangannya belum sempat mendarat di kulit mulus gadis itu, tangannya sudah lebih dahulu dipelintir oleh sang gadis.
"Akhhh" teriak pria itu karena merasa kesakitan sehinga teman-temannya yang lain yang sejak tadi hanya menyaksikan akhirnya keluar untuk mengeroyok Maggie.
"Hei lepaskan temanku" teriak salah satu dari tiga orang lainnya.
"Iya, lepaskan teman kami" ucap seorang lagi menyambung ucapan sang sahabat.
Acara baku hantam pun terjadi di jalan yang sedikit sepi itu. Maggie melayani keempat orang itu dengan senang di hati. Keahlian bela diri yang diatas rata-rata itu membuatnya tidak terlalu sulit untuk mengalahkan keempat orang preman tersebut.
Di adengan terakhir, Maggie tidak meninju pria yang ada di depannya malah ia meninju bodi mobil para preman itu hingga penyok dan hal itu membuat mereka gemetar ketakutan bahkan lari meninggalkan mobil mereka. Baru kali ini mereka melihat kekuatan seorang gadis yang sangat luar biasa itu.
Setelah kepergian mereka, Maggie pun kembali melanjutkan perjalanannya yang sudah tidak jauh lagi dengan kontrakannya.
Gadis itu melangkah dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Sesampainya di kontrakan, ia langsung membersihkan tubuhnya dan menikmati hidangan yang sudah dipanaskan oleh sang bibi.
"Apa kamu capek?" tanya bibi yang melihat Maggie makan dengan lahap.
"Iya bi, setelah ini aku akan istirahat" jawabnya dengan makanan penuh mulut.
"Baiklah nak" sambung bibi.
Maggie masuk ke dalam kamar dan mulai mengeluarkan ponsel cantiknya lalu mengaktifkan kembali ponsel tersebut. Maggie dibuat terkejut karena ada banyak panggilan masuk dan pesan yang bukan hanya dari Ria sahabatnya tapi juga dari sang kekasihnya Roberth.
"Ya ampun kenapa banyak bangat panggilannya" gumam Maggie sambil mbaca satu per satu pesan yang di kirim oleh dua orang tersebut.
Maggie pun berinisiatif untuk kembali menghubungi mereka. Dan yang pertama ia aka menelepon terlebih dahulu sahabatnya Ria.
📞Halo (Terdengar suara sewot dari seberang telepon)
📞Hai beb, maaf ya! hari ini aku sibuk bangat. (Ucap Maggie berusaha menjelaskan)
📞Ya sibuk sih sibuk tapi nggak matiin ponsel juga kali (Gerutu Ria penuh emosi bercampur gemas karena sahabatnya itu terlalu santai)
📞Oke, aku udah ada rekomendasi tempat kerja jadi esok kita ke kampus terlebih dahulu dan setelah itu kita akan ke sana.
📞Baiklah, aku terserah kamu aja.
📞Oke.
Sambungan telepon dari kedua sahabat itupun berakhir. Maggie kembali mendial nomor sang kekasihnya lalu menekan tombol memanggil. Dalam hatinya ia harap-harap cemas, semoga saja sang kekasihnya itu tidak marah.
Pangilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua pun demikian hingga panggilan ke tiga baru ada jawaban berat dari seberang.
📞Halo
📞Hai
📞Kamu lagi sibuk ya? matiin aja dulu ya? (Ucap Maggie pada akhirnya)
📞Setelah seharian tidak ada kabar, tidak ke kampus, lalu kamu tidak ingin menjelaskan kesalahan kamu? ucap Roberth dingin.
📞Aku sibuk
📞Sibuk apa sampai seharian penuh ponsel kamu dimatiin.
Kini giliran Maggie yang ngambek dan langsung mematikan ponselnya. Gadis itu merasa bersalah namun ia tidak mau menjadi salah Dimata sang kekasih. Gadis itu membaringkan tubuhnya sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan nanti jika esok ia bertemu dengan sang kekasihnya di kampus.
"ihhh kenapa pacaran ribet bangat sih? ribet jika mau bepergian, ribet jagain perasaannya, akhhh pusing ahhh" gerutu Maggie sambil mengacak rambutnya.
Tiba-tiba ada pesan singkat masuk di ponselnya. Dengan cepat gadis itu membuka lalu membaca pesan tersebut. Setelah membaca ia langsung melompat turun dari tempat tidur.
"Waduhhh gawat ni" ucap Maggie panik karena pesan tadi. Belum hilang rasa paniknya, kembali terdengar suara pintu di ketuk.
Bibi yang masih di luar akhirnya berinisiatif untuk membuka pintu.
"Hai bi, Maggienya ada ya!" tanya anak muda yang bahkan belum dipersilahkan masuk oleh bibi karena takut kalau dia adalah orang jahat yang datang ke sana.
"MMM tuan siapa ya?" tanya bibi memastikan.
"Aku kekasihnya" jawab Roberth sambil tersenyum.
"Bi..!!" seru Maggie yang baru keluar dari kamar.
"Eh ada kamu" ucap Maggie asal padahal ia sudah membaca pesan singkat yang dikirim Roberth kalo ia sudah berada di depan kontrakan gadis itu.
"Oh ini benaran kekasihnya nak Maggie ya? yuk masuk biar bibi buatkan minumnya" jelas bibi sambil mempersilahkan Roberth masuk lalu ia pun meninggalkan ke dua orang itu dan kembali ke belakang
"Kenapa sih kamu kemari?" tanya Maggie kepada sang kekasih.
"Pake nanya lagi kenapa aku ke sini" gerutu Roberth.
"Lah mana aku tahu? emng salah aku tanya?" ucap Maggie yang ikutan sewot.
"Seharian kamu kemana?" tanya Roberth pertanyaan pertama.
"Aku pergi sama Daddy dan mommy juga" jawab Maggie.
"Kenapa tidak kasih tahu aku dan malah matiin ponselnya?" tanya Roberth seperti seorang polisi yang sedang mengambil keterangan dari seorang tersangka.
"Bukannya kamu udah dijodohkan dari dulu sama gadis lain, lalu kenapa aku harus beri tahu calon suami orang jika bepergian?" ucap Maggie tanpa menatap ke arah Roberth.
"Hah? maksud kamu?" ucap Roberth memastikan ucapan Maggie tadi, karena kemarin gadis itu sudah tidak mempermasalahkan ucapan papanya lagi tapi sekarang malah diungkit lagi.
"Aku tidak mau aja jadi perusak dalam hubungan kamu sama gadis yang jelas-jelas disukai oleh orang tuamu" jelas Maggie dengan wajahnya yang dibuta sesedih mungkin, padahal ia sudah banyak mendengar cerita dari Novi saudara tiri Arjo kalau gadis yang sampai saat ini ada di hati putera mereka adalah sahabat masa kecil Roberth.
Emang enak aku kerjain. Tahu rasa, siapa suruh ngajak aku ke kantor papamu tanpa memberitahuku dulu? Batin Maggie sambil menatap wajah frustrasi sang kekasih.
"Sayang, aku mohon percaya sama aku. Aku akan membawamu ke orang tuaku kalau kamu gadis yang aku cintai dan aku sendiri tidak pernah tahu jika aku dijodohkan oleh orang tuaku dan aku tidak mengenal siapa gadis itu." Ucap Roberth berusaha menjelaskan kebenarannya.
"Entahlah, aku tidak berani bertemu dengan orang tuamu karena jelas-jelas papamu sudah memperingatkan aku jadi jika aku ke sana pasti akan dikira gadis tidak tahu diri" ucap Maggie lagi.
"Diminum dulu nak" ucap bibi yang baru saja datang sehingga Roberth yang hendak membuka mulut untuk bicara diurungkan.
BERSAMBUNG