
"Baik, aku Daffandra Anugrah Adipaty. Putera pertama dari tuan Alfaro Putra Adipaty, pemilik sekolah ini" ucap Daffa yang sudah berusaha menetralkan perasaannya akhirnya kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi.
"Huuuuuuu" ruangan terdengar riuh dengan suara dan tepukan tangan. Bahkan mulai terjadi bisikan di sana sini. Akhirnya mereka bisa bertemu langsung dengan pemilik sekolah dan Adipaty-Group.
"Jadi..... " anak muda itu mulai menjabarkan semua point yang menjadi poin penting yang harus diperhatikan di sekolah ini baik sebagai guru dan pelajar.
Beberapa saat kemudian, Daffa pun menyelesaikan arahan nya dan lebih tepatnya ia yang mempercepat penjelasannya karena suasana hati yang lagi kurang baik.
"Tadi aku mendapat beberapa laporan dari kepala sekolah jika ada beberapa siswa-siswi yang melanggar peraturan sekolah. Jadi bagi siswa-siswi yang melanggar akan mendapat sanksi dan juga bisa dikeluarkan dari sekolah." jelas Daffa tegas.
"Pak, ini beberapa poin yang aku sampaikan. Dan untuk siswa-siswi yang bermasalah, bisa dipanggil ke ruang konseling untuk bertemu sama aku" ucap Daffa kepada kepala sekolah dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Baik tuan muda" jawab pak kepala sekolah.
Setelah Daffa pergi, kepala sekolah kembali bersuara.
"Eunike... ikut ke ruang konseling sekarang." ucap pak kepala sekolah.
Deg
Banyak siswa-siswi yang merasa tidak puas karena tidak ada sesi tanya jawab. Apalagi Lia yang ingin mempermalukan Ike tadi namun kesempatan baik tidak berpihak kepadanya.
"Are you okay?" tanya Jackson.
"I am fine" jawab Ike lalu bangun dari tempat duduknya dan mengekor para guru ke tempat yang disebutkan tadi.
Ike berjalan sambil menyiapkan bahasa apa yang akan dia ucapkan kepada Daffa. Ia merasa canggung dengan situasi seperti ini namun karena dia adalah siswa bermasalah jadi mau tidak mau harus.
Ike tiba di depan ruang konseling.
Tok tok tok
"Masuk" ucap seseorang dari dalam ruangan itu.
Dengan penuh persiapan batin Ike pun memutar gagang pintu lalu mendorong hingga terbuka lalu melangkah masuk dengan perlahan-lahan.
Daffa terkejut saat melihat Ike ada di depannya. padahal ia baru saja berniat akan memanggil Ike setelah mengurus siswa-siswi yang bermasalah.
"Kamu?" ucap Daffa seolah bertanya kenapa kamu ada di sini?
"Maaf" jawab Ike lirih.
"Maaf kenapa?" tanya balik Daffa heran.
"Maaf karena sudah mencoreng nama baik sekolah bapak" ucap Maggie lagi.
Deg
Mendengar sebutan bapak dari Ike bahkan melihat sifat gadis kecil yang dulu periang kini menjadi pendiam membuat Daffa teriris.
"Ike... " ucap Daffa ingin mengawali pembicaraannya namun terputus oleh Ike.
"Aku akan keluar dari sekolah ini karena sudah melanggar peraturan sekolah ini. Mungkin aku nggak pantas bersekolah di sekolah elit jadi aku akan menerima sanksinya dan pindah dari sekolah ini" ucap Ike panjang lebar.
Daffa menatapnya dalam. Ia memanggil anak bermasalah untuk memberi peringatan bukan untuk mengeluarkan, namun sepertinya gadis ini ingin menghindarinya lagi sehingga ia sendiri mengambil keputusan untuk angkat kaki dari sekolah ini.
"Maaf kalau aku menjadi penyebab kamun pindah ke sini" ucap Daffa.
"Nggak usah PD, aku memang ingin tinggal di negara ini sejak dulu dan itu baru terlaksana setelah papi sama mami sering pergi keluar negeri" ucap Ike tegas.
Deg
"Oh rupanya begitu. Tidak perlu kamu keluar dari sekolah ini karena aku yakin kesalahan yang diberitakan tidak sebenarnya terjadi" jelas Daffa.
Kamu sudah berubah, kamu bukan Ike yang aku kenal dulu. Ike yang selalu manja dan menyebalkan, cerewet dan banyak tanya. Batin Daffa menatap Ike yang bahkan sejak tadi masuk tidak sempat duduk.
"Baiklah jika demikian aku permisi" ucap Ike dan melangkah keluar.
Daffa menatap gadis itu dengan sedih karena sudah sangat berubah. Sifat dibginnya tertukar kepada gadis itu.
Jadi ini yang kamu rasakan selama nk ini? merasa tidak dihargai sehingga akhirnya mengalah? Batin Daffa yang baru tahu rasanya dicuekin.
Ike kembali memegang gagang pintu untuk keluar namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya dan mendekapnya dengan kuat.
"Cukup aku seperti orang gila selama ini yang bertanya-tanya soal perasaanku setelah kepergianmu. saat tidak ada lagi yang membuatku kesal, saat tidak ada lagi yang manja padaku walaupun aku menolak, saat tidak ada lagi yang cerewet untuk mengganggu ketenangan ku, semua itu hilang begitu saja dariku. Dan aku sadar jika aku membutuhkan itu semua." ucap Daffa yang kini menopang dagunya di pundak Ike.
"Siapa anak laki-laki tadi?" tanya Daffa yang mulai mengeluarkan mode posesifnya padahal ia belum tahu jika akan dimaafkan atau tidak.
"Dia kekasihku" jawab Ike membuat Daffa langsung melepaskan kedua tangannya.
"Coba diulangi sekali lagi?" ucapnya penuh penekanan.
"Aku harap kamu nggak ikut campur urusanku" jawab Ike membuat Daffa semakin panas dingin.
"Jangan membuatku menjadi orang yang lebih jahat dari sebelumnya" ucapnya lagi.
"Apa sih mau kamu?" ucap Ike yang tidak kalah tegas.
"Apa mauku? sampai kapanpun kamu tetap milik Daffa Anugrah Adipaty. Kamu dengar itu? jangankan pria tadi atau yang lainnya, adikku Daffipun akan aku singkirkan" ucapnya dengan membalikkan tubuh gadis itu dan memeluknya erat.
"Seharusnya kamu bersyukur karena gadis bawel, manja dan nggak tahu diri itu udah nggak ganggu hidup kamu lagi. Aku sadar kalau cinta yang aku miliki ini nggak seharus ada karena sampai kapanpun, aku nggak akan pernah bisa menaklukan hati dari putera-putera keluarga Adipaty yang kaya raya itu" ucap Ike dengan nafasnya yang berburu.
Daffa sebenarnya sangat teriris mendengar ucapan Ike barusan tapi ia biarkan gadis itu untuk mengeluarkan isi hatinya.
"Sudah selesai ceramahnya nona? Dengar ini baik-baik, Aku akan mengijinkanmu menyelesaikan sekolah di sini, tapi jangan coba-coba dekat sama pria manapun karena jika itu terjadi, aku akan membawa paksa kamu kembali ke Australia" ucap Daffa sambil terus mengecup pucuk kepala gadis kecil itu.
"Cih dulu aja aku nggak boleh sentuh kamu, nggak boleh ini dan nggak boleh itu. Kenapa sekarang kamu yang mengejar aku?" gerutu Ike yang juga masih betah dalam pelukan pria itu.
"Kenapa bawelnya kamu kumat lagi?" ucap Daffa.
"Sejak kapan abang jadi banyak ngomong kaya sekarang?" tanya balik Ike tanpa menjawab pertanyaan pria itu.
"Jangan berisik. Masuk kalas dan belajar yang benar. Abang akan menunggumu sampai pulang sekolah." ucap Daffa sambil mendorong tubuh gadis itu keluar dari ruangan Konseling.
Ike pun pergi dengan kesal menuju ke kelasnya sedangkan Daffa merasa lega karena walaupun ia belum mengungkapkan perasaannya tapi ia bisa mengembalikan gadis kecil itu seperti semula.
Bersambung