
Sepanjang perjalanan dan menyetir sendiri membuat Reno merasa ada sedikit keanehan dengan suasana hatinya yang gelisah dan tak karuan sejak ia keluar dari apartemennya tadi.
Kenapa dengan perasaanku? apakah isteriku lagi sedih karena aku tidak mengajaknya? aku akan cepat kembali biar dia tidak sedih. Batin Reno.
Pria itu terus melajukan mobilnya hingga tiba di depan gerbang rumah papa angkatnya, namun sesuatu yang membuatnya semakin tak karuan adalah biasanya begitu mobilnya tiba, para penjaga digerbang akan langsung membukannya namun tidak dengan melam ini yang suasananya sangat sepi.
Begitu turun dari mobil karena setelah membunyikan bel beberapa kali tidak ada respon dari orang-orang yang ada di sana.
Reno melangkah ke arah gerbang dan ternyata tidak terkunci. Selah membuka gerbang tersebut ia dikejutkan dengan dua mayat yang terlentang di sana. Reno dapat mengenali kalau mayat itu adalah mayat sekurity rumah orang tuanya.
Deg
"Papa"
"Mama"
"Ade"
Gumam Reno yang langsung berlari masuk tanpa menghiraukan mesin mobilnya yang masih menyala.
"Papa!!!" teriaknya dengan memeriksa dari kamar ke kamar tanpa peduli dengan mayat para pekerja rumah itu yang berserakan di sana.
Reno kembali menuruni anak tangga rumah itu dan dengan dadanya yang bergemuruh karena tidak menemukan satu orang pun yang dia cari yakni papa, mama dan adiknya.
Saat tiba di halaman rumah bagian samping, Reno berdiri sejenak saat menyadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dan ia hanya mengetahui dari gerak bayangan karena lampu taman.
"Hai anak muda, rupanya Sandro punya anak laki-laki juga ya?" ucap pria itu dari belakang Reno.
"Apa urusanmu jika ia punya anak laki-laki?" tantang Reno.
"Menarik! ternyata kamu tidak menuruni gen papamu yang penakut itu dan kamu lebih pantas jadi anak pamanmu yang sudah mati binasa itu." ucap ptia itu
Reno Mengepalkan kedua telapak tangannya saat papa dan daddynya dihina oleh manusia tak dikenal itu.
"Lalu apa maumu? jadi ini semua perbuatanmu? dimana orang tuaku serta adikku" ucap Reno tanpa membalikan tubuhnya. Ia fokus pada bayangan yang ada untuk melihat pergerakan pria itu.
"Hahahahaha apa kau merindukan mereka? hahahaha sebentar lagi kamu akan bertemu di alam baka. Cepat katakan, siapa yang telah mengacaukan rencana bosku" ucapnya sambil tertawa dan marah diwaktu bersamaan seperti orang tidak waras.
"Oh ya?" jawab Reno sambil tangannya mengeluadkan ponsel dan menekan salah satu nomor keluarga Adipaty.
"Jika aku menemukan orang tuaku dalam keadaan lecet sekalipun, maka jangan salahkan aku" ucap Reno penuh penekanan.
Bunyi baku hantampun terjadi. Awalnya Reno hanya menhadapi satu orang, kini semakin banyak sehingga ia menjadi kewalahan.
Acara baku hantam terus berlangsung, dan Reno tetap mempertahankan dirinya agar tidak kena pukulan dari orang-orang itu.
Satu tendangan tepat di dada Reno dari pria yang tadinya berbicara bersama Reno.
"Hai anak muda, jangan besar kepala jika hanya untuk mengantar dagingmu kepadaku" ucap pria itu sinis sambil menginjak lagi di dada Reno.
Uhuk uhuk uhuk
Reno terbatuk-batuk akibat sesak di dadanya.
"Angkat dia dan bawa ke tempat keluarganya disekap" perintah pria yang menjadi ketua mereka.
Sayang. Maafkan aku, tetaplah sehat dan tersenyumlah tanpaku. Maafkan aku yang selalu membuatmu meneteskan air mata. Batin Reno saat merasa tubuhnya yang lemah itu diangkat oleh orang-orang tersebut.
Saat sudah dekat mobil yang akan membawa Reno pergi, tiba-tiba bunyi sirene yang membuat mereka semua kalang kabut dan membuang tubuh Reno begitu saja dan berlari terbirit-birit.
"Cihh gitu aja takut, tapi sok-sok an mau jadi penjahat" gerutu seorang gadis kecil yang masih memegang toa yang tadi di jadikan sirene polisi.
"Kenapa gelap sih? opa Sandlo miskin bangat ya, listlik aja ga nyala" gerutunya karena saat turun dari mobil, kaki kecilnya terantuk pada tubuh manusia yang terbaring di tempat yang agak gelap.
"Apaan si dad? ga liat ni kaka hampil jatuh" gerutunya lagi membuat Alfa hanya bisa sapu dada.
Flash Back
Kring
"Siapa sih nelpon malam-malam begini?" gerutu Maggie saat ponselnya berbunyi.
"Oh lupanya om Leno yang telepon? pasti mau tlaktil untuk kaka. Tapi kenapa malam begini? ahh kasih tahu aja deh bial tunda esok aja" gumam gadis kecil itu sambil menatap ponselnya yang masih berdering.
Rupanya Reno memencet tepat di nomor Maggie.
📱Halo om Leno, esok aja deh, udah malam ni, kaka juga udah kenyang.
📱Halo, woii halo. Cih budek, yang nelpon siapa yang nggak dengal siapa sih?
Saat akan menekan tobol warna merah, samar-samar ia mendengar ada suara orang lain.
"Oh ya?"
"Jika aku menemukan orang tuaku dalam keadaan lecet sekalipun, maka jangan salahkan aku" ucap Reno penuh penekanan.
Bunyi baku hantam terus terdengar membuat otak keci gadis imut itu langsung tersadar kalau om Renonya dalam bahaya.
Maggie berlari keluar ke kamar orang tuanya, ia tidak menemukan siapa-siapa.
Ia berlari lagi ke kamar si kembar, di sana hanya ada mommynya dan sang asisten yanh sedang membantu Mey menidurkan si kembar.
"Mom, mana dad?" tanya Maggie dari arah pintu yang ia buka setengah.
"Di ruang kerja, ada apa?" tanya Mey.
"Ada deh, lahasia pelusahaan" ucapnya sambil menutup kembali pintu dan berlari lagi ke ruang kerja daddynya.
Dengan napas satu-satu, Mey membuka pintu dengan tiba-tiba membuat Alfa terkejut.
"Hei kenapa? tahu sopan santun tidak" ucap Alfa saking kagetnya.
"Ahhh ga penting. Ini lebih penting" ucapnya sambil menarik daddynya yang masih duduk di balik meja kerja.
"Kenapa?" tanya Alfa saat puterinya sudah menggapai gagang pintu dan hendak membukanya.
"Om Leno dalam bahaya" ucapnya tegas dan penuh penekanan membuat Alfa kembali kaget karena jika puterinya sudah mode singa itu artinya masalah benar-benar serius.
"Di mana? tunggu daddy telepon ka Novi" ucap Alfa.
"Stop. Jangan telpon ka Novi kalena pasti ka Novi ga tahu" ucapnya menahan tangan daddynya agar tidak menghubungi Novi.
"Lalu kita bisa tahu posisi Reno dari mana?" tanya Alfa.
"Ini om Leno ada di sini" ucap Alfa sambil mengambil posel Maggie dan hendak pergi dari sana untuk menolong Reno.
"Hetsss mau kemana dad?" tanya Maggie dengan menampilkan wajah imutnya membuat Alfa gemas.
"Daddy mau ke sana untuk menolong om Reno" jelas Alfa sambil mengusap pucuk kepala puterinya.
"Oh tidak, aku halus ikut kalau nggak kaka lapol sama mommy kalau daddy nakal di lual sana" ucapnya sambil tersenyum licik membuat Alfa mengiyakan untuk dia ikut dan juga beberapa anak buah aya Devid.
Mereka akhirnya pergi dan dengan ide Maggie pula mereka membawa toa. Begitu dekat, Maggie iseng menekan tombol sirene sehingga bukan cuma para penjahat itu yang lari, tapi Alfa dan beberapa anak buah itu ikut terkejut dengan aksi gadis kecil itu.
BERSAMBUNG