Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
45. Perubahan Alfa



Maggie yang baru bangun dari tidurnya langsung marah-marah tidak jelas karena mereka tidak membangunkannya saat tiba di vila tadi.


Gadis kecil itu turun sendiri dari tempat tidur dan melangkah keluar dan tidak boleh ada yang menyentuhnya karena ia masih marah.


Langkah demi langkah membawanya turun dari tangga dan keluar dari vila itu dengan perasaan dongkol, Mey tak bisa bersuara jika singa kecilnya sudah mengeluarkan taring jadi ia hanya bisa mengikuti puterinya dari belakang.


"Olang mau main tidak dibangunin" ucapnya dengan terus melangkah


(Puteriku memang ajaib. Aku saja takut jika sudah seperti ini) batin Mey


Novi yang hendak bersuara ketika melihat Maggie baru bangunpun langsung dihentikan oleh Mey.


Dia terus melangkah keluar sampai di luar vila di mana ada sebuah taman di disana.


Ada kolam dan tempat bermain anak yang telah disediakan oleh opa selama ini dan semua telah selesai sehingga opa mengajak mereka untuk datang ke tempat ini.


 



"Ade, awas jatuh di kolam" ucap Mey takut puterinya terjatuh karena terlalu bersemangat.


"Ade tahu" jawabnya singkat


"Ade mau renang?" tanya Mey untuk mengembalikan mood puterinya


"Memang boleh?" tanya Maggie masih dalam mode galaknya.


"Boleh, tapi ganti pakaiannya dulu ya de" ucap Mey membujuk


"Iya mom" ucap Maggie yang mulai hilang  amarahnya


Mommy membawa anaknya kembali masuk untuk berganti pakaian dan beberapa menit kemudian Maggie sudah keluar dengan pakaian renang yang sudah lengkap dengan pengamannya agar tidak tenggelam.


Maggie akhirnya kembali tersenyum ketika ia sudah mulai berenang.




"Mom, potlet ade ya?" ucap gadis kecil itu bersemamgat


"Iya sayang, senyum ya?" ucap Mey saat memgarahkan kamera kepada puterinya.


Akhirnya mood gadis kecil itu kembali membaik.


*****


Disebuah kamar yang sangat mewah ada seorang wanita tengah duduk dikursi balkon sambil menatap ke jalan yang hiruk pikuk dengan keramaian kota itu. Kota yang baru baginya saat ia harus pergi untuk sementara waktu.


Ya dia adalah Nina yang dibawa kabur oleh seorang pria bertubuh kekar dan berusia 40-an tahun. Patnernya waktu ia masih sebagai seorang model.


Yang ada diotak Nina saat ini adalah mencari ayah tirinya Radit untuk mendapatkan warisan itu.


"Dasar tua bangka, aku sudah berusaha tapi dia yang menikmati tanpa mengingatku yang ada di penjara. Tunggu bagianmu lelaki menjijikan" umpat Nina


"Sayang," ucap seorang pria yang baru masuk


"Iya" jawabnya singkat


"Apa yang kamu pikirkan" tanya pria itu


"Aku hanya berpikir bagaimana caranya menemukan pria tua bangka itu" ucap Nina


"Tidak usah dipikirkan, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk membawanya ke sini" jelas pria itu


"Baiklah, terima kasih" ucap Nina


"Apa yang kamu inginkan? aku akan memberi sebagian kepada kamu asal kamu mau untuk membawa pria busuk itu datang" tawar Nina


"Itu yang kedua tapi yang pertama, aku mau kita kembali seperti dulu yang saling memuaskan" ucap pria itu


"Tapi aku masih lelah untuk saat ini, aku akan memberi servis terbaik nanti tapi bukan sekarang" ucap Nina


"Aku tunggu saat itu" ucap pria itu sambil menghadiahkan sebuah kecupan di bibir Nina


Nina hanya tersenyum kecil ke arah pria itu karena sejak dulu dia tidak penah memaksa dan mereka akan berhubungan jika Nina yang memintanya.


"Apa kamu tidak bertanya soal anak yang aku kandung waktu itu?" ucap Nina memberi umpan


"Aku tidak mengharapkannya karena yang aku harapkan adalah dirimu seutuhnya" ucap pria itu mantap


"Dasar, dia ada ditangan pria bodoh itu dan aku juga tidak peduli mau diapakan anak pembawa sial itu, ia terlahir normal tapi kakinya tidak bisa digerakkan, menyusahkan sekali" ucap Nina


"Paling juga sebentar lagi mati hahahaha" ucap pria itu


Keduanya terus melanjutkan perbincangan mereka. Rencana demi rencana mereka siapkan untuk mengambil kembali warisan yang ada di tangan pak Radit.


Nina bertekad jika pak Radit tidak mau memberi maka dia akan menghabiskan pria itu.


*****


Alfa kini sudah mengirim Jeff bersama dua orang babysitter serta beberapa pengawal ke luar negeri untuk mulai menjalani pengobatan.


Kehidupan Alfa juga berubah 180°, dia bukan lagi orang yang mudah dijangkau dan semakin kejam didunia bisnis sehingga perusahaan yang ia tangani saat ini berkembang pesat dan sudah menguasai negeri ini.


Alfa juga sedang menghukum diri sendiri atas kesalahan di kehidupan masa lalunya. Ia sudah tidak mengharapkan puterinya dan mantan isterinya lagi, ia sudah merelakan mereka.


Kekejaman Alfa saat ini membuat banyak pengusaha tidak bisa berkutik apalagi yang sering menentangnya, kini tidak bisa berbuat apa-apa.


Tok tok tok


"Masuk" suara dari dalam


"Tuan, siang ini ada meeting saat makan siang" ucap asisten Roky


"Iya" jawab Alfa singkat


Alfa akhir-akhir ini lebih banyak diam dan bicara seadanya saja. Dia juga sudah lebih mengasingkan diri dari pada bersosialisasi dengan orang lain kecuali pekerjaan.


Jam makan siangpun tiba, Alfa melangkah keluar dan disambut oleh asistennya yang sudah menunggu sejak tadi. Keduanya melangkah seiring menuju parkiran dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut.


Setibanya di sebuah restoran yang telah dipilih sebagai tempat untuk meeting, keduanya masuk dan melangkah menuju tempat duduk yang agak jauh dari keramaian.


"Selamat siang tuan Adrich?" ucap asisten Roky dengan nada bertanya biar tidak salah orang


"Iya betul sekali dan ini sekretarisku, Viola" ucap Aldrich


"Oh baik, aku Roky asisten tuan muda" jelas Roky sambil berjabatan tangan.


"Alfa" ucap pria itu singkat sambil menerima jabatan tangan Aldrich dengan wajah yang tetap seperti biasa tanpa berniat menjabat tangan sekretaris Aldrich.


Viola yang melihat pria dingin ini langsung tertarik namun sama sekali tidak dipedulikan oleh Alfa.


Mereka memesan makan siang masing-masing, dan setelah menyelesaikan makanan siang, mereka mulai membahas soal urusan pekerjaan. Alfa lebih banyak diam, asistennya yang berbicara. Viola berusaha untuk pria ini bisa mengeluarkan suaranya namun ternyata sia-sia karena pembahasan soal proyek yang akan dilaksanakan sudah dilimpahkan pada Roky.


Keempat orang itupun berpisah setelah meeting mereka berakhir. Alfa melengang pergi setelah berpamitan sementara Viola hanya bisa menatapnya dari jauh dengan rasa kagumnya dan sedikit merasa kecewa karena pria yang langsung menggetarkan hatinya saat pertemuan pertama mereka ternyata pria yang dingin dan sulit didekati apalagi tadi Alfa sama sekali tidak peduli dengannya, bahkan saat ia mengulurkan tangan untuk berjabatan dan berkenalan, pria itu melewatinya begitu saja dan malah menjabat tangan Aldrich.


(Pokoknya aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Tunggu saja, kamu akan bertekuk lutut di hadapanku) batin Viola sambil tersenyum licik.


-Bersambung-