Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Alice



Robert dan maggie baru saja tiba di salah satu bandara yang ada di Indonesia. Ternyata sudah yang menjemput mereka. Mamanya Roberth yang begitu bahagia karena kedatangan putera dan menantunya apalagi sudah ada calon cucu di perut mentaunya, membuat dia semakin bersemangat dan melarang suaminya untuk tidak masuk kantor hari ini karena merekalah yang harus menjemput Roberth dan Maggie.


"Pa, nanti kita yang jemput Roberth sama Maggie ya? jadi papa jangan masuk kantor hari ini" ucap Mamanya Roberth.


"Ma, kan mereka tibanya malam" jawab Arjo tidak habis pikir dengan sang isteri yang saking semangatnya sampai lupa kalau anak dan menantunya akan tiba nanti malam.


"Pokoknya jangan ke kantor karena kita harus mempersiapkan semuanya untuk menyambut mereka." Ucap wanita beranak satu itu tegas.


"Ya terserah mama sajalah" jawab Arjo mengalah dan mengurungkan niatnya untuk bersiap ke kantor.


Sepasang suami isteri itu keluar dari kamar dan menuju ke ruang makan ternyata Ike sudah menunggu mereka di sana untuk sarapan.


"Om nggak ke kantor?" tanya Ike saat melihat omnya hanya berpakaian rumahan.


"Hari ini om libur karena sebentar lagi kakakmu berdua akan tiba?" bukan Arjo melainkan isterinya yang menjawab pertanyaan keponakannya.


"Benar tante?" tanya Ike memastikan.


"Iya sayang." jawab mamanya Roberth.


Mereka memulai sarapan dengan tenang karena setelah ini Ike akan berangkat ke sekolah.


Usai sarapan, Ike panitia pergi meninggalkan sepasang suami isteri menuju ke sekolah.


"Pah, mama punya sesuatu yang mau mama bahas sama papa" ucap Isterinya Arjo saat keduanya lagi bersanati di kamar.


"Apa yang mau mama bicarakan?" tanya Arjo.


"Mama lihat, Asry gadis yang sangat baik. Dia sangat serius dalam bekerja dan usianya masih sangat muda. Mama berpikir mungkin lebih baik kita kuliahkan dia juga, kan usianya katanya belum genap 20 jadi bolehkan?" tanya isterinya.


"Jika itu menurut mama yang terbaik, papa akan mendukung. Apalagi Asry sekarang hanya punya neneknya saja yang sudah sangat tua dan kedua orang tuanya entah ke mana? jika suatu saat neneknya meninggal pasti dia akan benar-benar sebatang kara." ucap Arjo sangat setuju dengan pendapat isterinya. Arjo adalah orang yang penuh kasih, walaupun perusahaannya tidak begitu besar dan terkenal tapi perusahaannya selalu menjadi yang pertama untuk membantu masyarakat jika ada bencana atau musibah apapun.


"Iya pa, mama akan bicarakan dengannya supaya dia bisa pulang kampung untuk mengambil ijazah nya untuk mendaftar. Sekarang sudah ada kampus yang membuka pendaftaran baik lewat mandiri jalur mandiri maupun beasiswa" ucap Isteri Arjo.


Merekapun mengakhiri pembahasan mereka soal Asry. Arjo masuk ke ruang kerjanya sedangkan isterinya turun ke lantai bawah untuk mencari Asry karena ia sudah tidak sabaran untuk memberitahukan kabar ini kepada gadis itu.


Memiliki satu anak laki-laki membuat wanita itu sayang kepada anak-anak yang ada di rumah itu, baik Ike maupun Asry yang merupakan pekerja pertama yang paling muda. Selama ini diam-diam wanita itu mengamati gadis yang menjadi art baru di mansion nya dan tidak hanya itu, ia juga mendapat cerita dari Ike soal kehidupan gadis itu di kampung dan orang tuanya yang katanya merantau dan tidak ada kabar hingga hari ini.


"Bi, di mana Asry?" tanya nyonya rumah itu.


"Non Asry ada di kolam, memberi makan ikan" jawab bibi si kepala pelayanan itu.


"Baiklah bi, aku ke sana" ucap isteri Arjo dan melangkah pergi ke kolam ikan yang ada di samping mansion.


"Ngapain sayang?" tanya Isteri Arjo.


"Kasih makan ikan nyonya" jawab Asry sopan sambil berdiri dari jongkokannya tadi.


"Sudah selesai?"


"Hampir selesai nyonya" jawab Asry.


"Baiklah, kalau sudah selesai ikut aku ke sana ya?" ucap wanita itu sambil melangkah ke sebuah gazebo yang ada di dekat kolam itu.


Asry menyelesaikan aktivitasnya dan menyusul nyonya rumah itu ke gazebo untuk melakukan perintah selanjutnya.


"Sudah selesai nyonya, apa yang harus aku lakukan lagi?" tanya Asry sopan.


"Duduklah dulu di sini" ucapnya sambil menepuk sebuah kursi rotan yang ada di sampingnya itu.


Asry dengan patuh duduk dan menyimpan kotak tempat makanan ikan tadi di bawah kakinya.


"Apakah kamu mau sekolah sayang?" tanya wanita itu to the point.


"Saya sudah tamat SMA nyonya" jawabnya polos membuat wanita itu terkekeh.


"Iya, maksudku apakah kamu mau lanjut kuliah?" tanyanya lagi.


Asry terdiam. Ia bingung mau jawab apa.


"Maksudnya kamu punya keinginan untuk kuliah nggak?" tanya wanita itu mengganti pertanyaan.


"Kalau ingin sih iya nyonya tapi... " ucapannya terpotong.


"Oke fix. Yang penting kamu punya keinginan untuk kuliah. Nanti esok kamu pulang kampung ya?" ucap nyonya rumah itu.


"A aaku dipecat nyonya?" ucap Asry gugup bercampur sedih.


"Siapa yang mecat kamu sayang, Maksudku esok kamu pulang kampung sama sopir untuk mengambil ijazah kamu sama surat-surat penting lainnya supaya kamu bisa pakai untuk mendaftar masuk kuliah" jelas wanita itu.


"Tapi aku tidak punya biaya kuliah" ucap Asry menunduk.


"Soal biaya kuliah kamu jangan kawatir sayang. itu tanggung jawab kami" ucapnya lagi.


"Tapi aku tidak mau merepotkan" jawab Asry lagi.


"Kamu tidak akan merepotkan karena kita akan coba dulu lewat jalur beasiswa oke?" jelas wanita itu dan di iyakan oleh gadis itu.


Sebenarnya tidak perlu masuk melalui beasiswa tapi nanti Asry tidak akan mau jadi ia akan bicarakan dengan menantunya Maggie karena perusahaan merekalah yang menyiapkan beasiswa untuk anak-anak berprestasi di segala jenjang jadi dengan begitu, Asry bisa masuk melalui jalur beasiswa.


Keduanya menyelesaikan pembicaraan mereka. Asry kembali ke dapur dan wanita itu kembali ke kamar karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum anak dan menantunya pulang.


"Tante, benaran ya ka Maggie sudah hamil?" tanya Ike yang ikut membantu sang tante menata makanan di atas meja makan.


"Iya sayang, kakakmu sudah hamil dan sebentar lagi rumah ini akan dihiasi dengan tangisan baby" jawab sang tante dengan penuh semangat.


"Aduhhh senangnya." ucap Ike yang ikut bahagia sambil memeluk dirinya sendiri.


Kedua wanita beda usia itu menata makanan sambil terus berbincang seputar Roberth dan isterinya.


"Semangat sekali ma" ucap Arjo yang mendapati isterinya tengah menata makanan di atas meja.


"Iya dong pa, kan sebentar lagi menantu kita akan tiba" jawab isterinya.


"Oh ya ma, bagaimana? sudah bicara sama Asry?" tanya Arjo membuat Ike memicingkan matanya penasaran.


"Sudah pa, dan esok mama akan suruh sopir untuk mengantarnya ke kampung untuk mengambil barang-barag berharganya" ucap Isterinya sambil berhenti sejenak.


"Mau ngapain tante?" tanya Ike.


"Tante mau Asry lanjut kuliahnya, dia masih sangat muda dan sebaiknya dia kuliah" ucap Sang tante membuat Ike bahagia.


"Wah bagus dong tante, biar ka Asry tidak sedih lagi setiap hari" ucap gadis itu membuat kedua orang tua itu menataonya penuh tanya.


"Kenapa sedih?" tanya om Arjo.


"Entahlah om, tapi Ike sering memergokinya sedang bersedih jika pekerjaannya sudah selesai." jelas Ike yang ikut sedih membuat kedua orang tua itu juga sedih.


"Kasihan dia ya pa. Kalau dia kuliah kan bisa punya banyak teman dan bisa mengurangi rasa sedihnya" ucap sang isteri.


"Oke papa kembali ke atas dulu, mau mandi soalnya" ucap Arjo dan langsung kembali ke kamar.


.


.


.


Roky yang terus di desak untuk segera menikah pun akhirnya mengambil cuti beberapa hari untuk kembali mengejar gadis impiannya. Ya Roky pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis sejak dulu dan dia adalah seorang dokter keluarga Alberth. Namun hubungan mereka kandas karena LDR yang tiada beujung.


Selama ini Roky terus memantau gadis itu dari jauh. Sudah beberapa pria yang menghilang tanpa jejak setelah mengajak serius menjalin hubungan bersama dokter cantik itu namun karena ulah Roky gadis itu masih tetap menyendiri hingga sekarang. jika tidak menghilang maka dengan sendirinya para pria itu akan menghindarinya.


📞Halo tuan


📞Segera bawa dokter Alice ke Indo malam ini juga


📞Siap tuan.


Sambungan telepon berakhir. Roky sudah mempersiapkan segalanya agar bisa membawa paksa dokter itu ke hadapannya.


Saat ini Roky hanya berdiam diri di apartemennya tanpa pergi untuk bekerja karena semuanya sudah ia limpahkan kepada sekretarinya.


Semoga semuanya berjalan mulus dan nyonya Ratna tidak menggagalkan semuanya. batin Roky. yang ia takutkan hanya satu yakni mama angkatnya yang super dalam segala hal itu. Apalagi dokter Alice adalah dokter keluarga tuan Alberth, yang dimana Alice menggantikan papanya untuk menjadi dokter keluarga.


Di London


Seorang gadis yang baru pulang dari tempat kerjanya yakni rumah sakit milik keluarga Adipaty. Gadis itu mengganti pakaian dan setelah itu bersantai sejenak dan melanjutkan dengan acara masak untuk makan malamnya.


Alice memilih tinggal di apartemen karena rumah keluarganya lumayan jauh dari tempat ia bekerja. Alice akan pulang sesekali ke rumah jika ia sedang senggang.


"Uh, cukup melelahkan tapi harus memasak demi kenyamanan kampung tengah ku malam ini" gumam gadis itu sambil mengusab perutnya.


Ia pun mulai berkutat dengan alat dapur di apartemen nya itu. Setelah beberapa saat berperang dengan alat-alat itu, hidangan makan malam pun akhirnya siap.


"Sebaiknya aku membersihkan diri terlebih dahulu dan setelah itu baru aku makan" gumamnya seorang diri. Sepi pasti iya karena sudah bertahun-tahun ia tinggal sendiri di mansion itu. Beberapa kali ia gagal menjalin hubungan yang serius karena entah kenapa, tiba-tiba pria-pria itu hilang tanpa jejak atau bahkan menghindatinya. Alice sendiri tidak tahu apa kesalahan yang ia lakukan sehingga sampai begitu.


Setelah membersihkan tubuhnya, ia kembali keluar dari kamar dan menuju ke meja makan untuk menikmati makan malamnya.


Saat akan menjangkau meja makan, tiba-tiba terdengar bel apartemen tandanya ada seseorang yang datang. Yang tahu tempat tinggalnya hanya orang tuanya dan adiknya laki-laki dan selain itu mungkin anak buah kma Ratna.


"Siapa sih malam-malam begini datang ke apartemen ku? tidak mungkin adikku" gumamnya sambil melangkah ke depan pintu dan membukanya.


"Maaf, perlu sama siapa ya?" tanya Alice saat pintu terbuka dan mendapati dua orang berperawakan tinggi.


"Kami mencarimu nona" ucap salah satu diantara mereka.


"Aku?" tanya Alice sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya nona. Sebaiknya nona ikut dengan kami sekarang" ucap pria itu lagi.


"Maaf, boleh tahu apakah ada pasien gawat darurat?" tanya Alice yang berpikir itu adalah perintah atasan karena ada pasien yang membutuhkannya untuk turun tangan.


"Bukan"


"Iya" jawaban kedua orang itu berbeda.


Alice mulai curiga dan waspada karena sepertinya ada yang tidak beres.


"Kalau begitu kalian dahulu nanti aku menyusul ke rumah sakit" ucapnya mencari alasan agar bisa lepas dari para pria yang tidak ia kenal itu. Alice hendak menutup pintu namun kurang cepat dengan kedua orang itu sehingga dalam satu gerakan ia sudah tidak sadarkan diri lagi.


Bersambung