Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
87. Misi Penyerangan



📹Mulailah untuk bergerak sekarang.


📹Siap tuan besar. Apakah kita akan langsung ke tempat disekapnya tuan muda atau gimana bos?


📹Lakukan pembagian agar dapat mengecoh mereka. Kirimkan orang-orang kita yang lain ke Indonesia dan Australia. Selebihnya akan ke London.


📹Siap tuan besar.


Sambungan telepon di akhiri dan pria misterius itu mulai membuat pembagian kepada bawahannya untuk melakukan penyerangan dibeberapa titik seauai yang diperintahkan oleh tuan besar mereka.


"Perhatian semuanya, malam ini dua kelompok akan dikirikan terlebih dahulu ke Indonesia dan Australia. Lakukan tugas kalian dengan baik agar orang-orang itu tidak lolos dan bisa membantu mereka yang ada di London. Mengerti!!" ucap seorang pria yang betubuh tegap dan sangat menakutkan.


"Mengerti bos" ucap mereka semua dengan tegas.


Setelah usai pembagian itu, dua kelompok langsung pergi ke bandara untuk terbang ke dua negara yakni Indonesia dan Australia.


Satu kelompok lagi akan berangkat esok pagi untuk membebaskan tuan muda mereka.


Strategi


Di sebuah ruangan seorang pria paruh baya tengah menarik sebatang rokok dengan vodka di tangan sebelahnya menyeringai licik membayangkan keluarga Adipaty yang sebentar lagi akan hancur.


"Jangan coba-coba bermain denganku semut kecil jika tidak ingin hancur di tanganku. Kau salah mencari musuh Albert. Kau bukan siapa-siapa bagiku hanya semut kecil yang lemah dan akan mati dengan sekali injak hahahahha" ucap pria itu sambil tertawa penuh kemenangan.


Nak, tunggu ayah datang. Kamu harus selamat dan apapun yang kamu inginkan harus kamu dapatkan termasuk wanita yang kamu sukai. Batin pria itu yang tidak lain adalah ayah dari pria tawanan mama Ratna yanh bernama Aldrich.


Keesokan harinya, kelompok yang sudah disiapkan untuk ke London akhirnya berangkat, tujuan mereka hanya satu yaitu menyelamatkan tuan muda mereka dan membasmi keluarga Adipaty. Sedangkan dua kelompok yang sudah dikirimkan malam tadi sudah mulai terpencar dan melakukan aksi mereka.


*******


"Ka, antar aku ke kosan, aku harus bersiap untuk masuk kerja malam ini. swkarang aku sudah telat satu jam loh, lihat tuh sudah jam 6. Semalam aku sudah bolong kerja jadi aku tidak mau malam ini lagi." ucap Novi sambil mengguncang tubuh Reno yang lagi asyik dengan laptop di depannya.


Saat ini keduanya ada di apartemen keluarga Smith. Setelah dari Rumah Sakit, Reno membawanya kembali ke apartemen tempatnya nginap.


"Ka... dengar tidak sih?" guncang Novi lebih kuat lagi karena pria yang ada di sampingnya itu seolah tidak mendengarnya.


"Vi, apa yang aku katakan semalam di rumah sakait hmmm?" tanya Reno dengan suara lembut, selembut lembutnya membuat Novi merinding. Pria itu berhenti sejenak dan menatap ke arah gadisnya yang ada di sampingnya itu.


"Apa? aku tidak ingat?" ucapnya santai.


Dasar gadis keras kepala. Batin Reno menatap kekasihnya itu tanpa kedip.


"Mungkin dosis obat membuat kamu pikun, apa begitu?" ucap pria itu lagi membuat Novi lembali memonyongkan bibinya.


"Aku mau kerja ka. Aku belum terima gaji pertamaku" ucapnya dengan bibir yang masih maju ke depan membuat Reno langsung tertawa terbahak-bahak.


"Apa? gaji? baru kerja sehari terus bolong kerja lalu kamu masih harap gaji?" Cibir Reno.


"Itu semua karena kakak yang buat aku sampai bolos kerja" rajuknya membuat sang kekasihnya gemas.


"Dengar aku" ucap Reno sambil memindahkan laptop dari pangkuannya ke atas meja yang ada di depan mereka.


"Aku tidak mengijinkan kamu kerja di luar rumah. Kamu hanya bisa kerja di rumah dan mengurus anak-anak" ucap Reno membuat Novi melototkan kedua biji matanya.


"Jadi mulai hari ini aku memberhentikan kamu dari pekerjaan itu karena kita akan ke rumah orang tuamu" jelas Reno sambil menghenggam kedua tangan kekasihnya.


"Bukan bilang nanti, pokoknya sekarang" ucap Reno tegas.


"Tapi kita kan belum menikah ka" ucap Novi kembali merajuk.


"Siapa bilang kita belum menikah? kita akan menentukan tanggal pernikahan setelah aku bertemu kedua orang tuamu besok" ucapnya tidak main-main.


"Hah? tanggal pernikahan,,, akhhh kenapa tiba-tiba sih? akukan belum ada persiapan, aku belum terima gaji nanti bagaimana dengan dana untuk menikah nanti?" ucapnya semakin membuat Reno gemas dan dengan satu tarikan di tangannya gadis itu sudah berada di atas pangkuannya.


"Kamu tidak perlu pikir masalah dana untuk kita menikah, aku sudah siapkan semua makanya aku berani mengajakmu menikah" ucap pria itu dengan menghadiahkan satu kecupan di pipi sang kekasih.


"Ayo, kita cari makan di luar" ucap Reno sambil menoel hidung kekasihnya dengan jarinya.


Novi akhirnya berdiri dan keduanya keluar mencari makan di luar.


*****


Di Australia yang waktunya lebih cepat dari Indonesia, kini sudah menunjuk pukul 10 malam.


"Mas,.." lirih Mey dengan mata yang terpejam.


"Hmmm" jawab Alfa yang juga dengan matanya terpejam.


"Aku ingin makan piza buatanmu mas" ucap Mey dengan berusaha untuk duduk.


"Hah?" Alfa terkejut saat mendengar permintaan sang isteri.


"Aku ingin makan piza buatanmu mas.


"Kamu tidak lagi mimpikan sayang?" ucap Alfa yang heran dengan permintaan sang isteri yang aneh bin ajaib di malam yang semakin larut.


Bagaimana tidak heran? hari ini saja Alfa dibuat pusing kepayang dengan permintaan sang isteri yang serba di luar jangkauan semua. Alfa bahkan sangat kewalahan memenuhi keinginan Mey yang sekedar meminta namun memaksa Alfa yang harus menikmati, jika tidak dituruti maka dia akan menangis seperti anak kecil.


Saat masih dibuat pusing oleh sang isteri, tiba-tiba anak gadisnya juga mulai bergerak dan membuka matanya.


"Daddy, kakak mau makan spageti" ucap gadis kecil itu sambil mengucak matanya yang belum begitu terbuka jelas.


"Hah?" Alfa terkejut dan mulutnya menganga. Ia melongo mendengar permintaan anaknya yang satu ini. Disaat dia belum memecahkan masalah permintaan sang mommy datang lagi badai besar dari anaknya itu.


Siapa yang hamil? lalu siapa yang ngidam? Batin Alfa frustrasi.


"Ade, kita buat punya mommy aja ya? punya ade esok aja soalnya sudah larut sayang" ucap Alfa bernego dengan anaknya.


"No daddy, panggil aku kakak. K A K A K, kakak." ucapnya mengeja satu per satu huruf untuk sang daddy.


"Oh iya kakak daddy belum terbiasa." ucap Alfa mengalah.


"Tapi kakak mau makan sekalang daddy" rajuknya membuat Alfa memegang kepalanya dengan kedua tangannnya.


"Mas, kapan buatnya?" ucap Mey yang tidak sabaran karena sejak tadi Alfa dan puterinya berdebat tidak habis-habis.


BERSAMBUNG