
Roberth masuk ke kamarnya dan langsung mengambil ponsel serta menghubungi sang kekasih.
tring... tring... tring
📞Halo sayang
📞Halo, nak Roberth. Kaka lagi tidur nak(Ucap Oma Ratna dari seberang dengan nada lembut)
📞Oma, Maggie baik-baik aja kan?
📞Iya dia baik-baik nak, mungkin kecapaian jaga opa beberpa hari ini.
📞Apa opa sudah baikan?
📞Oma masih koma, doakan biar cepat siuman. Oh ya Oma dengar kalian akan mempercepat urusan kalian?
📞Amin. Iya oma.
Pembicaraan terus berlanjut, Roberth tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia bahkan sudah minta bantuan dari Oma untuk melancarkan semua rencananya dan hal itu disetujui oleh Oma Ratna.
"Maaf sayang, aku terlalu egois dan lebih mementingkan perasaanku sendiri" gumam Roberth sambil menatap ponselnya yang baru saja diputuskan dari telepon sang kekasih walaupun bukan gadis itu yang mengangkatnya. Roberth kembali keluar menuruni tangga menuju ke bawah karena ia harus mengantarkan sang adik ke sekolah.
"De, ayo jalan" ajak Roberth yang bertemu dengan sang adik di ruang tengah.
"Ma, kami berangkat ya" ucap Roberth yang juga melihat sang mama yang juga mengekori Ike dari belakang.
"De, nanti dijemput sopir ya? kaka masih ada urusan sama om Roky soal persiapan nanti" jelas Roberth saat mereka sudah ada di mobil dan dalam perjalanan menuju sekolah dan kantor.
"Iya ka, emang sudah berapa persen siapnya?" tanya Ike.
"Baru 50% tapi dia hari lagi om Alfa dan...." ucap Roberth yang tiba-tiba terputus karena hampir keceplosan mengatakan kalau Daffa akan datang ke indonesia. Iya tidak maau adiknya kembali terluka.
"Dan apa ka?" tanya Ike penasaran.
"Om Alfa dan tante Mey akan datang untuk membantu menyiapkan semunya? jelas Roberth namun Ike merasa curiga dengan penjelasan tadi.
" Oh, baiklah. Aku sudah merindukan tante Mey " ucap Ike.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maggie yang baru bangun langsung disuguhkan dengan pemandangan yang indah, saat melihat Rockzy yang tengah berbincang bersama sang opa walaupun masih sangat lemah namun akhirnya siuman juga.
"Opa... " seru gadis itu langsung melangkah dengan cepat meninggalkan sofa dimana ia jadikan tempat tidur tadi dan menuju ke ranjang tempat opa berbaring. Maggie langsung memeluk pria tua itu sambil terisak karena selama beberapa hari ini ia harus menahan sesak melihat opanya terbaring dengan banyak alat medis menancap di tubuhnya.
"Terima kasih opa, akhirnya siuman juga. Kaka sangat takut kemari-kemarin saat melihat opa nggak bisa membuka mata" ucapnya dengan suara bergetar dan masih betah dalam pelukan opanya.
"Iya sayang. Terima kasih juga sudah mau menjaga opa di sini" ucap pria tua itu sedih karena dia anak muda yang tumbuh besar di tangannya itu setia menjaganya selama ia dalam masa koma.
"Opa, itu sudah jadi tanggung jawab kami anak cucumu" ucap Maggie membuat sang opa mengangguk senang.
"Ro' kamu istirahatlah dulu," ucap Maggie yang menatap kearah Rockzy.
"Aku juga baru bangun, semalam om sama tante yang menjaga papa" jelas Rockzy yang memang kenyataan.
"Lalu dimana opa sama Oma?" tanya Maggie.
"Mereka baru saja aku suruh pulang untuk beristirahat" jawab Rockzy dan dibalas anggukan oleh Maggie.
"Bagaimana keadaan opa? apa masih ada yang terasa sakit?" tanya Maggie sambil memeriksa kondisi tubuh sang opa.
"Opa sudah lebih baik dan opa sudaah bisa melakukan perjalanan ke Indonesia" ucap opa Gaston.
"Hah, jangan gila opa. Baru juga siuman, jangan aneh-aneh deh" gerutu Maggie yang tidak Terima opa ingin terbang ke Indonesia.
"Ya memang mau tidak mau, opa harus ke Indonesia" ucap opa santai.
"Opa... kenapa sih ngotot bangat mau ke Indonesia? opa harus sembuh dulu baru pikirkan soal liburan" cecar Maggie membuat opanya terkekeh.
Opa memang harus ke Indonesia karena opa sudah berjanji untuk menyaksikan hari bahagiamu sayang. Batin opa yang tidak ingin berdebat lagi dengan cucunya karena sebelum pulang tadi, sang adik sudahenceritakan apa yang telah direncanakan oleh kekasih cucu mereka.
Saat opa Gaston siuman, Oma Ratna sangat bersyukur karena akhirnya rencana mereka bisa berjalan dengan sempurna. Karena awalnya semua terasa berat jika keadaan opa belum pulih.
*****
Di Australia
"Abang, daddy bisa minta bantuan tidak?" tanya Alfa kepada sang Putera sulungnya.
"Bantu apa dad?" tanya Daffa.
"Tadi Oma telepon daddy untuk datang ke Indo membantu keluarga Roberth mempersiapkan persiapan pernikahan kakamu" jelas Alfa sedikit menjeda ucapannya.
"Memangnya kaka nikahnya di Indonesia ya? Lalu yang abang bantu apa dad?" tanya Daffa.
"Ya abang temani daddy ke Indonesia lah" ucap Alfa.
Deg
"Abang mau kan?" tanya Alfa
"Apa kaka akan menikah dalam waktu dekat? lalu bagaimana keadaan opa Gaston? tidak mungkin kan, opa lagi koma dan kita malah senang-senang?" ucap Daffa yang memang belum tahu jika sang opa sudah siuman.
"Opamu sudah siuman dan opa juga sudah tahu. Ini semua akan jadi kejutan buat kakamu" ucap Alfa.
"Baiklah dad" jawab Daffa.
Keduanya dalam rumah mendapati Daffi tengah ngemil camilan buatan Mey weekend kemarin.
"Ade, mana mommy?" tanya Alfa saat tidak melihat sang isteri.
"Mommy lagi di kamar, katanya tidak enak badan" jelas Daffi. Alfa langsung panik dan berjalan setengah berlari menuju ke kamar.
"Cih, dasar bucin" cibir Daffi sambil terus mengemil.
"Pasti kamu bohong kan? mommy baik-baik aja kan?" cecar abang yang tahu akal licik sang adik.
"Biarin, daddykan Akhir-akhir ini malas olahraga jadi biar bisa olahraga naik turun tangga" ucap Daffi santai membuat sang abang mentapnya tajam.
"Kamu pikir bohong soal'a kesehatan orang tua itu bagus?" gerutu Daffa.
"Kan tadi aku bilang tidak enak badan, bukan berarti sakit kan?" gerutu balik Daffi.
Di kamar
"Sayang? apa yang sakit? kita ke rumah sakit ya?" ucap Alfa yang baru masuk kamar dan melihat sang isteri tengah memailan ponselnya sambil berbaring.
"Hah? daddy nggak kesurupan kan?" tanya Mey yang heran dengan tingkah suami yang tiba-tiba ingin membawanya ke rumah sakit.
"Sayang, biar tahu kamu sakit apa sayang?" ucap Alfa membujuk isterinya.
"Dad, mommy nggak sakit. Siapa yang bilang mommy sakit?" ucap Mey yang mulai risih dengan tingkah Alfa yang kelewat batas.
"Kan kata ade sayang lagi tidak enak badan" ucap Alfa membuat Mey langsung tersenyum dn hampir tertawa tapi sebisa mungkin untuk menahannya.
"Daddy nggak merasa dikerjai sama ade gitu?" ucap Mey membuat sang suami langsung tersadar karena ternyata ia sudah masuk dalam perangkap putera bungsunya.
"Dasar anak kurang ajar" gerutu Alfa membuat Mey yang sejak tadi menahan tawanya langsung terbahak.
"Suami dikerjai sama anak malah tertawa lagi" gerutu Alfa kepada sang isteri.
"Daddy sudah tahu anaknya suka jahil tapi masih aja percaya. Kan daddy baru saja nyusul abang di luar dan mommy baik-baik saja. Kenapa main percaya aja? masa mommy sakit dadakan sih?" jelas Meembuat Alfa berpikir dan membenarkan penjelasan sang isteri itu.
"Bagaimana? apa abang mau?" tanya Mey yang tahu apa yang dibahas oleh sepasang anak daddy itu.
"Abang mau, dan kami akan berangkat lusa agar kaka menyelesaikan tugas kuliahnya serta izin untuk beberapa hari ke depan. " jelas Alfa.
"Baiklah. Mommy akan datang jika kaka sama opa sudah tiba di Indonesia" ucap Mey dan diangguki oleh suaminya.
"Dad, apakah Reno sama Novi pernah menyinggung soal kepindahan Ike ke Indonesia?" tanya Mey yang belum habis pikir dengan keputusan Reno sama Novi yang mengirim Puteri mereka satu-satunya ke Indonesia.
"Mereka sama sekali tidak membahas. Aku jarang bertemu sama Novi tapi Reno pun tidak pernah menyinggung soal puterinya.
" Aku sedikit curiga. Sepertinya Ike pergi untuk menjauhi abang." ucap Mey mengulangi ucapan yang pernah dia ucapkan.
"Ya biarkan saja, Jangan sampai dia bisa mendapatkan jodoh di Indonesia, lagian abang sudah menganggapnya adik" ucap Alfa
Deg
Bukan Mey melainkan seorang anak muda yang ada di depan pintu ke dua orang tuanya. Tangannya yang sudah terangkat untuk untuk mengetuk daun pintu tiba-tiba dihentikan saatendengar orang tuanya tengah membahas soal gadis yang selama ini mengejar-ngejarnya.
"Tapi dad, mommy ingin Ike jadi menantu mommy. Ya jika abang nggak mau, mommy akan berusaha agar ade bisa menikahinya." ucap Mey tegas.
Deg
untuk kedua kalinya anak muda itu merasa sesak di dadanya.
"Terserah mommy saja, lagian ade juga sangat menyayangi Ike. Waktu itu saja dia memaksa daddy harus melamar Ike untuknya." jelas Alfa.
Daffa yang hendak melihat kondisi sang mommy karena ucapan adiknya tadi akhirnya mengurungkan niatnya. Ia juga tidak sanggup lagi mendengar ucapan kedua orang tuanya yang sepakat untuk melamar Ike bagi Daffi pun pergi begitu saja.
Di kamar Daffa
"Jadi semua ikut mencurigai kepindahan Ike ke Indonesia karena aku yang tidak pernah menganggapnya ada?" gumam Daffa sambil duduk di lantai dan bersandar ke ranjangnya.
"Tidak, ini adalah kesempatan yang baik untukku datang ke Indonesia. Tidak boleh seorangpun yang dekat dengannya termasuk Daffi" tekad Daffa.
"Cinta, cih kenapa harus datang belakngan?" gerutunya pada diri sendiri yang merasa kesal kenapa baru sekarang ia menyadarinya.
"Semoga kamu baik-baik saja di sana. Tunggu aku beberapa hari lagi" gumamnya sedikit merasa tenang.
BERSAMBUNG