Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
119. Reno Turun Tangan



...Tuan, gadis ini sendiri yang mau mendonorkan ginjal atau pankreasnya kepada ayahnya. Apa yang bisa aku lakukan?...


Satu pesan masuk ke ponsel Reno saat ia tengah menikmati pesta bersama keluarga Smith.


"Sial, kenapa dia nekat sekali? Aku harus turun tangan, jika tidak dia akan dalam bahaya. Dasar bodoh" umpat Reno ketika membaca pesan dari dokter Agung. Dokter yang dia tempatkan untuk menangani ayah Novi sampai sembuh.


Pria itu langsung pergi meninggalkan pesta begitu saja. Namun sebelumnya ia mendatangi Mey untuk menggunakan jet ayah Devid.Ia tidak ingin mengganggu playah Devid sehingga ia memilih datang ke Mey. Reno bahkan tidak menceritakan apa yang terjadi sehingga Mey berpikir jika itu adalah masalah perusahaan yang akan dia rebut.


"Mey, ijinkan aku menggunakan jet ayah Devid. Aku sangat membutuhkannya malam ini" ucap Reno dengan wajah yang sudah memerah padahal malam itu ia tidak minum.


"Ada apa?" tanya Mey.


"Nanti aku ceritakan tapi tolong, aku tidak bisa berlama-lama" ucap Reno panik.


"Oke, berangkatlah ke bandara. Aku akan membertahukan anak buah ayah untuk stay di sana" ucap Mey mengalah dan tidak lagi bertanya.


Pria itu berlari keluar dari hotel itu dan langsung pergi begitu saja. Ia harus tiba malam ini juga, jika tidak maka semuanya akan berantakan.


📹Agung, jangan melakukan apapun. Ulur waktu hingga aku tiba nanti.


📹Baik tuan.


Reno yang panik langsung menghubungi kembali dokter Agung agar tidak melakukan tindakan pendonoran itu sebelum dia tiba.


Reno kembali menelepon salah seorang anak buahnya untuk mencari pendonor.


📹Halo tuan


📹Carikan beberapa orang untuk mendonorkan ginjal dan pankreas, aku akan membayar dengan harga tinggi pada siapapun yang bersedia.


Ucap Reno melalui sambungan telepon kepada salah seorang kepercayaannya.


Setelah menempuh jalan yang cukup jauh akhirnya tibalah Reno di bandara dan ternyata orang-orang yang Mey perintahkan sudah ada di sana.


"Ayo kita berangkat ke Indonesia malam ini." ucap Reno kepada mereka.


Setelah menyiapkan semuanya dan melakukan pemberitahuan kepada petugas bandara untuk penerbangan, akhirnya jet itupun terbang membawa mereka ke Indonesia.


Reno ingin menyelesaikan masalahnya dulu tapi rupanya gadis keras kepala itu terus membuat ulah yang bisa membahayakan dirinya, jadi mau tidak mau ia harus mengurus itu semua.


Jet itu mendarat saat hari sudah terang. Reno yang tidak mengenal lelah langsung menuju ke Rumah Sakit tempat di mana ayah Novi di rawat.


Setibanya di Rumah Sakit, Reno langsung menuju ke ruangan dokter Agung untuk membahas mengenai penanganan ayah Novi.


Tok tok tok


"Masuk," terdengar suara dari dalam.


Clek, pintu terbuka dan masuklah Reno.


"Tuan, anda sudah tiba?" tanya dokter Agung. Ia sempat terkejut saat semalam pria itu baru membicarakan akan ke Indonesia tapi pagi ini pria itu sudah ada di depannya.


"Aku langsung ke sini semalam" ucap Reno dan duduk di sofa tunggal dalam ruangan itu.


"Bagaimana, apa masih ada waktu untuk kita menemukan pendonornya?" tanya Reno.


"Sebenarnya masih ada waktu untuk kita berusaha, tapi keadaan itu cukup membuatnya menderita menahan sakit. Aku sudah menyuntikan obat pereda sakit tapi kita tidak bisa menggunakannya setiap saat karena akan merusak organ tubuh yang lain jika pemakaiannya terus menerus." ucap dokter Agung.


"Baiklah tuan, kita akan membutuhkan tiga orang, karena kita tidak bisa mengambil dua ginjal sekalipun dari satu orang karena itu akan berakibat fatal kepada orang tersebut. Dan untuk ginjal kita harus tahu kecocokannya." ucap dokter Agung.


"Lakukan saja" putus Reno.


Pria itu kembali melangkah keluar untuk pulang ke apartemen membersihkan dirinya namun sebelum itu ia terlebih dahulu datang ke ruangan ayah Novi.


Pria itu membuka pintu sedikit dan melihat ke dalam, ternyata Novi masih tidur di atas sofa dan bundanya duduk di kursi samping ayah.


"Selamat pagi bu" ucap Reno pelan. Wanita tua itu terkejut namun dengan cepat Reno menaruh telunjuk tangan di bibirnya sebagai tanda diam agar tidak mengganggi Novi dan ayah.


"Maaf aku baru ke sini, aku banyak kerjaan apalagi semalam tuan Devid melangsungkan resepsi penikahannya dengan bu Ani" jelas Reno.


"Hah? tuan Devid menikah lagi?" tanya Bunda Nur sedikit kaget.


"Iya bu." Jawab Reno.


"Kita bicara di luar saja bu" ucap Reno tidak ingin Novi bangun dan mendapati dirinya di sana. Walaupun ia sangat merindukan gadis itu tapi sekuatnya ia menahan.


"Apa ayah sudah siuman?" tanya Reno saat mereka sudah berada di luar.


"Iya nak, ayah sudah siuman tapi kata Novi, ayah harus secepatnya mendapatkan pendonor ginjal dan pankreasnya." jelas bunda.


"Cukup ibu dan Novi jaga ayah saja, biar semuanya aku yang mengatur. Aku sudah mendengarnya dari dokter Agung tadi. Aku terpaksa meninggalkan pesta semalam karena dokter Agung meneleponku kalau Novi meminta untuk dialah yang mendonorkan ginjal dan pankreasnya." ucap Reno.


"Hah? jadi Novi ingin melakukan itu?" ucap bunda yang sudah mulai menangis.


"Jadi sekarang ibu jangan sedih, fokulah pada kesembuhan ayah. Aku sudah memberitahukan dokter untuk tetap melakukan pemeriksaan kepada Novi tapi hasilnya dimanipulasi agar tidak cocok sehingga ia tidak bisa mendonor." jelas Reno.


"Jadi ini semua kamu yang melakukan?" tanya bu Nur yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Apanya bu?" tanya Reno yang belum tahu arah pembicaraan bu Nur.


"Apa kamu yang memindahkan ayah ke Rumah sakit ini?" tanya bunda penuh selidik.


"Maaf, maaf karena melakukan ini. Aku tidak mau Novi terbeban dengan penyakit ayah" ucap Reno tulus membuat Bunda semakin terisak.


"Lalu kenapa kamu membuatnya terluka? kenapa kamu pergi tanpa pamit kepadanya?" tanya bunda mewakili sakit hati puterinya.


"Aku terpaksa melakukan itu bu, aku masih punya banyak musuh yang menginginkan nyawaku dan aku tidak mau Novi yang jadi korbannya. Akan lebih baik dia membenciku sekarang sampai semua masalahku tuntas." ucap Reno dengan mata sayu. Bunda bisa melihat dengan jelas, sebesar apa kesedihan pria ini.


"Selama ini kami berpikir keluarga nak Mey yang melakukan" ucap Bunda.


"Iya lebih baik dia berpikir seperti itu. Jangan memberitahukan semua ini kepada Novi, karena aku masih punya sesuatu yang harus aku selesaikan."Lanjut Reno.


"Terima kasih nak" ucap bunda.


"Terima kasih bu, aku mencintai Novi, tolong jaga dia untukku sampai semuanya terselesaikan" putus Reno sebelum meninggalkan ibu dari wanita pujaannya itu. Bunda hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir menghantar kepergian pria itu.


Maaf nak jika puteriku sudah salah menilaimu. Semoga Tuhan melindungimu dalam menyelesaikan semua urusanmu. Batin bunda.


BERSAMBUNG


"