
Satu minggu sudah berlalu, Reno bahkan tidak menampakkan batang hidungnya lagi di rumah sakit. Soal janji untuk mencari pendonor hanyalah janji tinggal janji sehingga bunda merasa sedih ketika melihat suaminya yang semakin tidak berdaya di tempat tidur rumah sakit itu.
"Bunda aku keluar sebentar" Pamit Novi pada sang bunda yang sedang duduk di kursi yang ada di samping ayahnya berbaring.
"Mau kemana nak?" tanya bunda.
"Kita tidak bisa diam saja bunda, aku tidak mau ayah kenapa-napa hanya karena kita terlambat menolongnya. Aku akan keluar sebentar." ucap Novi meyakinkan sang bunda.
Gadis itu keluar dan melangkah pergi meninggalkan gedung tempat ayahnya dirawat. Novi terus melangkah di atas trotoar jalan yang sangat ramai dan penuh kebisingan kendaraan yang berlalu lalang di sana. Ia sendiri tidak yankin untuk datang kesana, tapi dengan modal berani ia mendatangi sebuah rumah yang sangat mewah bahkan hampir mendekati mansion keluarga Adipaty yang pernah ia datangi.
Setibanya di luar pagar rumah yang menjulang tinggi itu, Novi bingung mau masuk atau pulang saja, tapi membayangkan sang ayah yang sudah tidak berdaya di rumah sakit membuatnya berani untuk masuk. Dengan gemetar ia menekan tombol bel rumah yang ada disamping pintu gerbang.
Beberapa detik kemudian gerbang itu terbuka dan muncul seorang pria yang bertunuh tegap memakai seragam sekuruty berdiri tepat di depannya.
"Ingin bertemu dengan siapa nona?" ucap pria itu.
"Apa aku bisa bertemu dengan pemilik rumah ini pak?" tanya bali Novi pada pria itu.
"Tuan muda sedang tidak ada nona, hanya nyonya muda" terang pak sekurity.
"Tidak usah pak aku akan ke sini sebentar sore" ucap Novi yang memilih pulang dari pada bertemu dengan isteri dari orang yang dia maksud.
Ketika hendak melangkah pergi tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna silver sudah ada di belakangnya hendak masuk ke rumah besar itu. Novi memilih menyingkirkan tubuhnya ke pinggir membiarkan mobil itu masuk setelah gerbang itu terbuka dengan sempurnah.
Dari luar pagar, Novi hanya memandang masuk ke sana karena gerbang yang belum ditutup kembali.
(Pasti dia yang pulang) Batin Novi tetap berdiri di sana.
Mobil itu berhenti tepat di depan rumah besar itu, sang sopir keluar dengan cepat dan membuka pintu. Keluarlah seorang pria bertubuh kekar dan rupawan, pria itu membuka kaca mata hitamnya dan menatap ke arah sekuruti yang tadi mengobrol dengan Novi, pria itu tahu maksud tuan mudanya memilih mendekat.
"Apakah gadis di gerbang tadi ingin mengemis lagi?" tanya tuan muda.
"Tidak tuan, dia ingin bertemu dengan anda." jawab pak itu.
"Untuk apa?" tanya tuan muda.
Tanpa mereka sadari, Novi sudah melangkah masuk dan semakin dekat dengan mereka.
"Maaf tuan, aku mengganggu waktu anda" ucap Novi pelan membuat pria yang dipanngil tuan itu berbalik dan menatapnya sinis.
"Ada perlu apa datang ke rumahku dan bahkan ingin bertemu denganku juga?" tanya Arjo dengan mata tidak lepas dari gadis kecil yang terlihat sederhana itu, ia seperti pernah melihatnya tapi entah di mana.
"Aku lelah baru pulang dari kantor jadi aku mau istirahat, jika kau mau meminta sumbangan maka anak buahku akan mengurusnya." ucap Arjo dingin sambil melangkah pergi meninggalkan gadis itu.
"Ya bisa dibilang begitu, aku hanya ingin meminta sumbangan dari seorang anak yang tidak pernah mengakui ayah kandungnya sendiri, aku meminta sumbangan untuk menyelamatkan nyawa dari ayah yang malang itu, tapi jika anaknya punya hati kalau dia ada saat ini karena ayahnya." ucap Novi yang mulai emosi membuat langkah Arjo terhenti mendengar kata ayah.
"Apa maksudmu gadis miskin?" ucap Arjo dengan penuh penekanan.
"Aku tidak pernah mengharapkan kamu untuk mengakuiku sebagai adik karena walaupun kita terlahir dari satu ayah tapi kita tetap hidup dari rahim yang berbeda. Aku tidak tahu dendam apa yang kau simpan untuk ayah kandungmu sendiri, sehingga kau punya segalanya, berlimpah makanan dan uang namun ia harus mengais rejeki dengan mempertaruhkan nyawanya di tengah lautan hanya untuk mendapat seekor ikan yang bisa dijual untuk sesuap nasi." ucap Novi mengeluarkan uneg-unegnya.
"Aku harap kamu tidak menyesal jika suatu saat kamu tidak dapat melihatnya lagi dan perlu kamu tahu bahwa kenyataan yang sebenarnya kalau dia sangat menyayangimu, bahkan ia selalu berdoa untukmu agar selalu dalam lindungan Tuhan walaupun ia tidak bisa menjagamu secara langsung. Takdir hidup membuatnya harus bertanggung jawab untuk seorang gadis yang ia hamili karena sebuah jebakan. Banyak kali dia meminta persetujuanmu tapi sayangnya kamu tidak pernah melihat perjuangannya" Setelah mengucapkan demikian, Novi keluar dari halaman rumah yang pikirnya akan membantunya untuk pengobatan sang ayah. Saat sudah keluar dari gerbang itu, Novi berdiri beberapa saat, berpaling dan menatap bangunan istimewah itu tak terasa air matanya tumpah begitu saja. Demi dirinya dan ibunya, ayahnya terpaksa meninggalkan segala kemewahan hidup.
*****
Novi tiba di rumah sakit dengan perasaan yang bersalah karena tidak mendapatkan apa yang diharapkan untuk menolong sang ayah.
Setelah menenangkan diri sekitar lima menit dan menetralkan semua perasaaannya, ia melangkah masuk ke kamar tempat ayahnya di rawat. Begitu pintu terbuka, ia terkejut karena tidak melihat ayahnya maupun bundanya, dan di sana hanya ada dua orang perawat yang tengah merapikan ruangan tersebut. Jantungnya serasa ingin berhenti ketika tidak menemukan kedua orang tuanya.
"Maaf, pasien yang di rawat di ruangan ini sudah di bawa kemana?" tanya Novi panik.
"Oh nona, pasien ini sudah dipindahkan karena sebentar lagi akan dipindahkan ke rumah Sakit di luar di Jepang" jawab salah seorang perawat itu.
"Hah?" ucap Novi berlari keluar dengan paniknya sampai tidak melihat seorang yang baru saja akan masuk ke ruangan itu sehigga terjadilah kecelakan tebrak menabrak di sana.
"Maaf tuan aku buru-buru" ucap Novi tanpa melihat siap pria itu, ia kembali mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari namun denga cepar pria itu mencegatnya di pintu itu.
"Mau kemana?" tanya Reno, ya pria itu adalah Reno, ia baru menemukan pendonor namun setelah tiba di rumah sakit ini, dokter Agung berkata bahwa operasinya tidak bisa dilakukan di rumah sakit ini karena ada beberapa orang yang mencurigakan sehingga Reno memutuskan membawa ayah gadisnya itu ke Jepang.
"Ka Reno?" ucap Novi dengan bibir bergetar dan dengan reflex kakinya melangkah mundur, Reno dapat melihat raut wajah gadis itu yang terlihat kecewa sekaligus takut padanya.
"Apa kamu tidak merindukanku?" Tanya Reno malah membuat Novi semakin ketakutan apalagi dua perawat tadi sudah keluar karena tugas mereka sudah selesai.
"Tolong jangan ganggu hidupku lagi, aku harus pergi ayahku akan pergi sebentar lagi" ucapnya dengan suara bergetar dan semakin ketakutan membuat Reno tak tega melihatnya.
"Jangan menangis, aku menjemputmu karena bunda dan ayahmu sudah berada di atas pesawat. Kita akan pergi ke Jepang untuk proses operasi ayahmu." ucap Reno lembut sambil mengulurkan tangannya agar Novi mendekat.
"Apa?"
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA LIKE, COMEN & VOTE YACH?