Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Lamaran Roberth



Masih di mansion keluarga Smith.


Setelah beristirahat sebentar di kamar tamu, Roberth kembali dikejutkan dengan bunyi ketukan pintu oleh bb Daffi.


"Ka, kata mommy bersihkan diri dan setelah itu turun makan malam bersama" ucap Daffi setelah pintu terbuka dari bg arah dalam.


"Baik de" jawab Roberth kembali menutup pintu setelah Daffi pergi. Pria itu menuju ke kamar kan di untuk membersihkan diri dan setelah itu mengenkan pakaian santai dan keluar dari kamar.


Ternyata semua sudah menunggunya di meja makan.


"Ayo, kita makan dulu" ajak Alfa kepada semua anggota keluarga. Bu Ani dan Mey dengan sigap melayani suami masing-masing termasuk Daffi yang sering dilayani oleh sang mommy kecuali Daffa si muka frizer itu.


Semua hening saat menikmati makan malam mereka bersama, hanya dentingan sendok dan piring yang menguasai keheningan tersebut.


Setelah menghabiskan makan malam, Alfa kembali mengajak keluarganya ke ruangan keluarga. Pria beranak tiga itu tahu betul jika kenangan Roberth kali ini mungkin ada sesuatu yang penting yang harus dia katakan.


"Mommy, buatkan minum untuk kita bersantai sebentar di ruang keluarga" ucap Alfa dan diangguki oleh Mey.


Mereka semua berjalan ke arah ruang keluarga kecuali Mey dan bu Ani yang masih menyiapkan minuman dan beberapa vamilan sedangkan piring bekas makan dirapikan oleh art.


"Nak, coba lihat camilan kesukaan anak-anak masih ada tidak?" suruh bu Ani kepada puterinya.


"Iya bu" jawab Mey sambil melangkah ke lemari kaca tempat simpan camilan sedangkan bu Ani menata minuman ke dalam nampan.


"Masih bisa bu, dan sepertinya esok kita harus membuatnya lagi" ucap Mey yang melihat camilan kesukaan anak-anak mulai menipis. Sejak kecil Mey sudah mengajarkan anak-anak untuk makan camilan buatan sendiri agar lebih higienis.


"Iya sayang, mumpung akhir pekan biar kita buat camilan saja. Ajak juga Novi, siapa tahu dia mau bergabung, dari pada kesepian karena Ike yang sudah pergi." saran bu Ani.


"Benar juga bu, sekalian aku mau tanya kenpa dia nekat membiarkan Ike pergi" ucap Mey berapi-api.


Kedua wanita beda generasi itu akhirnya keluar membawa minuman dan camilan untuk bergabung bersama para lelaki yang tengah asyik di ruang tamu.


Setelah meletakkan semuanya di meja kecil yang ada di tengah-tengah mereka, kedua wanita beda usia itu mengambil tempat di samping suami mereka masing-masing dan duduk di sana.


"Maaf om, tante, opa sama oma, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku kembali ke sini setelah dari California." ucapan Roberth sedikit menjeda.


"Maaf jika aku lancang untuk mengatakan semuanya ini. Aku kembali ke sini untuk melamar Puteri om dan tante" ucap Roberth lagi dengan mantap.


Deg


Alfa dan Mey terkejut bahkan semua yang berada di sana ikut terkejut.


"Aku mengatakannya terlebih dahulu dan setelah itu untuk beberapa waktu ke depan, aku akan membawa kedua orang tuaku untuk melamarnya secara resmi" ucap Roberth kembali melanjutkan niatnya.


"Apa kamu yakin dengan keoutusanmu itu" tanya Alfa tegas.


"Aku sangat yakin om" jawab Roberth tidak kalah tegas, membuktikan bahwa ia tidak sedang Main-main.


"Apa kamu yakin puteriku akan menerima lamaran ini? lagian saat ini dia tidak ada" tanya Alfa lagi.


"Kami sudah lama berkenalan bahkan sejak kecil kami sudah saling kenal, walaupun kemarin aku tidak bisa bertemu dengannya karena satu dan lain hal tapi aku yakin bahwa dia pun mencintaiku" jawab Roberth penuh keyakinan.


"Jadi kamu tidak bertemu dengannya" tanya Mey yang sejak tadi menyimak.


"Kenapa?" tanya Mey yang memang tidak tahu apa yang sedang dijalani puterinya di sana karena Alfa juga tidak menceritakannya.


"Aku juga tidak tahu tante, tapi keputusanku untuk melamarnya adalah suatu tindakan yang harus aku lakukan agar aku tidak menyesal nantinya" jawab Roberth mantap.


Mentalmu sangat luar biasa, puteriku akan beruntung memilikimu dan aku juga tidak takut menyerahkan dia untukmu. Batin Alfa.


"Kamu sangat luar biasa anak muda. Opa tahu siapa cucu opa, dia adalah gadis yang berpendirian kuat. Sekalipun dia sangat mencintaimu tapi jika kamu tidak punya keputusan dan keseriusan dalam hubungannkalian, mungkin saja dia akan diam bahkan berpindah ke lain hati." jelas opa yang sejak tadi melihat kesungguhan pria yang menjadi pujaan hati cucu kesayangannya.


Deg


ternyata kata-kata opa bagaikan sebuah belati tajam yang mengenai tepat di hati seorang pria, bukan Roberth tapi Daffa.


Apa benar yang opa katakan, kenapa setelah kepergiaannya baru aku menyadari jika aku sungguh kehilangannya? Batin Daffa yang sejak tadi tidak bisa menahan gejolak yang setelah mendengar Roberth yang mengatakan jika Ike telah pergi.


"Baiklah, aku akan menunggumu membuktikannya dengan cara membawa kedua orang tuaku kemari" ucap Alfa tidak Main-main.


"Iya om" jawab Roberth.


Perbincangan mereka berakhir dan masing-masing kembali ke kamar untuk


beristirahat karena esok, Roberth akan melanjutkan penerbangannya ke Indonesia.


*****


Daffa masuk ke kamarnya dan menutup pintu, lebih tepatnya akan mengunci pintu tersebut namun di tahan oleh kembarannya.


"Bang, boleh ya aku tidur sama kamu" ucap Daffi memelas di depan kamar sang abang.


"Nggak" jawab Daffa singkat.


"Please bang. Aku hanya ingin curhat sama abang, aku lagi galau karena ditinggal ayang bebebku, masa abang nggak kasihan sih sama aku?" ucap Daffi penuh drama.


"Ade, lepas!" ucap Daffa penuh penekanan karena sang adik yang tengah menahan daun pintu kamarnya.


"Malam ini aja bang" ucap Daffi memohon.


"Aku bilang nggak ya nggak Daffindra Barac Adipaty!!" ucap Daffa dengan nada yang naik satu oktaf.


"Iya bang Daffandra Anugrah Adipaty" balas Daffi sambil berlari menjauh dari sang abang.


Daffa akhirnya bisa mengunci pintunya agar tidak ada yang mengganggunya. Selama ini, mereka tidak pernah mengunci pintu kamar jika tidur namun malam ini, entah apa yang membuat pria berusia 18 tahun itu untuk pertama kalinya mengunci pintu kamarnya.


Aku hanya berharap, suatu saat nanti kamu bisa melihat ke arahku. Aku ingin kamu memandangku sebagai seorang wanita bukan seorang adik.


Itulah caption yang diposting oleh ike beberapa bulan yang lalu. Postingan itu cukup menyita perhatian Daffa yang kini duduk dan bersandar di kepala ranjangnya.


Rupanya pria itu tengah Menscrol dan melihat satu per satu postingan yang ada di sosmed Ike. Ia juga merasa heran karena sudah hampir dua minggu sejak Ike dan sang mama datang ke mansion Smith, sejak saat itu pula ia tidak lagi memposting apa-apa di sosmednya, padahal gadis itu paling rajin mengutarakan isi hatinya di sana bahkan setiap hari. Daffa bisa melihat bagaimana gadis itu menyemangati diri sendiri untuk mendapatkan cinta pria yang dia idamkan.


Kenapa sejak hari itu kamu nggak lagi memposting sesuatu di sosmedmu? Apa tindakanku sangat menyakitimu? Apa kamu pergi juga karena aku yang nggak pernah menatap kepadamu? Batin Daffa penuh penyesalan.


BERSAMBUNG