Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Berlibur



Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiran Roberth terus melayang membayangkan kembali kejadian semalam di club dan juga mimpinya malam tadi.


"Aku bahkan tidak tahu keberadaannya sampai saat ini sejak aku pergi, mungkin dia sudah melupakanku apalagi aku pergi tanpa pamit. Atau mungkin dia sudah bahagia dengan orang lain" gumam Roberth membayangkan teman masa kecilnya.


Ia terus melajukan mobil kesayangannya membelah jalan kota hingga tiba di kampus walaupun sedikit lama karena ada kemacetan sedikit di pusat kota.


Hari ini, Roberth benr-benar tidak semangat karena mengalami hal yang benar-benar menggoncang batinnya, apalagi semalam ia bermimpi bertemu dengan tiga orang gadis yang sepertinya punya hubungan erat namun mereka adalah pribadi yang berbeda, hal itu membuat pria itu tidak bisa memecahkan teka-teki dari semua yang ada di pikirannya.


Setibanya di kampus ia melangkah dengan perlahan menuju ke ruang kelasnya yang tidak begitu jauh. Setibanya di kelas, ruangan itu terasa sepi karena belum ada orang, entah dia yang terlalu pagi datang atau teman-teman sekelasnya yang terlambat datang. Dengan percaya diri ia melangkah masuk ke dalam kelasnya namun ia kembali dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang tengah duduk di kursi milik gadis itu dengan bersandar di sandaran sambil matanya terpejam, telinganya terpasang sepasang headsed blotooth.


Gadis yang sepanjang malam menggaggu tidurnya melalui mimpi dan juga mengganggu pikirannya sejak pagi tadi ternyata sudah lebih dahulu ada di dalam kelas itu. Gadis itu bahkan tidak menyadari akan ehadirannya sehingga dengan bebas ia dapat menatap wajah gadis itu sepuasnya.


Saat seang menatap, Roberth teringat kembali akan gadis yang dia peluk semalam saat menolongnya dan samar-samar ia juga membayangkan wajah gadis yang panik akibat maskernya yang terlepas malam tadi.


Kedua wajah itu kembali berputar secara bergantian dengan cepat membuatnya semakin yakin jika dua pribadi itu punya hubungan.


Roberth menggeleng kepalanya kuat karena tidak mau berpikir yang aneh-aneh karena gadis yang ada di hadapannya sekarang adalah gadis yang lemah dan polos walaupun sedikit kocak.


"Akkhmmm akhmmm" Roberth segaja batuk agar gadis itu bisa menyadari keberadaannya. Dan ternyata betul, gadis itu langsung membuka mata dan menegakkan tunuhnya serta melepaskan headsed dari telingannya.


"Apakah kamu tidak tidur semalam?" tanya Roberth berbasa-basi.


"Siapa bilang? aku bahkan tidur dengan nyenyak semalam" jawab Maggie dengan wajah juteknya.


"Lalu kenapa kamu tidur di kelas tadi?" tanya Roberth lagi.


"Siapa yang tidur, aku lagi menikmati lagu yang aku dengar tahu?" gerutu Maggie membuat Roberth terkekeh. Gadis itu memang hampir sama dengan teman masa kecilnya yang tidak mau kalah jika berdebat.


Keduanya sama-sama diam tanpa ada yang berbicara hingga akhirnya teman-teman sekelas mereka mulai berdatangan.


"Roberth, kenapa semalam kamu menolong gadis itu hah? gara-gara dia teman kita sekarang sekarat di rumah sakit. Atau jangan-jangan kamu mengenalnya dan di mana kamu menyembunkannya hah" bentak Robin yang baru masuk kepada Roberth karena kejadian semalam.


(Aku ada di dekat kamu tapi sekarang bukan saatnya untuk kemu mengenalku.) batin Maggie sambil menatap mereka dengan sinis.


(Namanya Roberth, mengingatkanku pada sahabat masa kecilku. Dimana kamu sekarang? apa kamu baik-baik saja? apakah kamu juga sudah melupakanku dan hidup bahagia dengan yang lain) batin Maggie lagi dengan tanpa sadar air matanya sudah menetes namun ia cepat-cepat menghapusnya agar tidak ada yang melihatnya. Namun mata ekor Roberth dapat menangkap keanehan yang ada pada gadis itu.


"Aku tidak mengenalnya, aku hanya refleks menolongnya bahkan aku saja tidak sadar saat dia menghilang. Sepertinya dia bukan gadis sembarangan" ucap Roberth dengan mata ekornya terus memantau gerak-gerik Maggie untuk memastikan sesuatu seperti apa yang dirasakan oleh isi hatinya.


"Omong kosong. Pasti kamu mengenalnya. Awas jika aku mengetahui kamu menyembunyikannya, akan ku pastikan kau dan keluargamu akan menanggung akibatnya." ancam Robin namun tidak membuat Roberth takut sedikitpun.


Robin dan Asaf kembali keluar dari kelas setelah mengucapkan kata-kata ancaman tersebut.


"Semalam kenapa kamu tidak datang ke pesta ulang tahun teman kita?" tanya Roberth setelah kedua manusia itu keluar dan hanya beberapa orang saja yang ada di sana.


"Aku tidak diijinkan keluar malam oleh ibuku apalagi ibuku sudah tua, tidak mungkin aku meninggalkannya sendiri" jelas Maggie dengan tenang.


"Pantas" ucap Roberth kembali fokus dengan ponselnya.


Roberth mendapat banyak hal mencurigakan dari diri Maggie. Yang pertama, sejak datang tadi Roberth sudah melihat ponsel cantik gadis itu yang dia genggam saat tertidur tadi.


Sebagai orang yang kaya, Roberth dapat menyimpulkan kalau tidak sembarang orang yang memegang ponsel semahal itu apalagi ponsel itu limited edition. Artinya bahwa hanya orang-orang tertentu yang memilikinya termasuk Maggie dan berarti dia bukan orang sembarangan.


(Aku pasti akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya, sepintar apapun kamu memoles penampilan kamu untuk menjadi sederhana) batin Roberth.


Semua teman-teman mulai masuk karena jam pelajaran hampir dimulai. Rockzy yang masuk langsung melihat Maggie sudah berada di dalam kelas, merasa sedikit heran karena tidak biasanya dia datang pagi bahkan waktu masih di bangku menengah atas sekalipun.


****


Oma Ratna dan opa Alberth sudah tiba di australia hari ini merasa kesepian karena hanya berdua di London, membuat dua orang tua itu berlibur ke rumah anak cucunya di sana.


"Pa, tidak terasa ya kita sudah tua" ucap oma Ratna saat ereka sudah tiba di hotel biasa tempat mereka menginap karena rencananya mereka akan membuat kejutan untuk keluarga puteranya.


"Iya sayang tapi kamu masih tetap seperti yang dulu. Masih tetap cantik" ucap opa Alberh.


"Huuu gombal kamu pa, di depan mama saja papa bilang begitu" protes oma Ratna dengan wajah bersemu merah.


"Benar loh sayang, kamu bahkan masih seperti kaka yang suka ngambek" ucap opa sambil terkekeh melihat perubahan wajah sang isteri yang hampir meledak karena kata-katanya.


"Hah jadi papa bilang mama suka ngambek seperti kaka, huh tunggu aku bilangin si kaka biar marahin papa" ucap oma Ratna yang berniat mengadu kepada sang cucu.


"Tuh kan? dulu saja masih kecil, sedikit-sedikit kaka selalu ngancam kalau lagi berdebat sama daddynya pasti dia bilang, tunggu ya aku ngadu ke oma. Nah sekarang kebalik kan? omanya yang suka ngadu ke cucunya" ucap opa membuat oma melemparnya dengan bantal sofa yang ada di dalam kemar mereka.


BERSAMBUNG