
Di kamar pengantin.
Menjelang subuh, Roberth terbangun lebih dahulu karena merasa kehausan.
"Untung ada air" gumamnya sambil menutup kembali botol kemasan yang sudah kosong.
Pria itu kembali merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring menyamping dengan tangan yang menopang kepalanya sambil menatap punggung sang isteri yang tidur sambil membelakanginya.
Dengan penuh Hati-hati, ia memutar tubuh isterinya sehingga berhasil menghadap kearahnya.
"Kaka masih ngantuk" gumam gadis itu tanpa sadar.
Roberth menatapnya dengan penuh teliti dari mata, hidung, mulut. Ia menelisiknya satu per satu.
Maggie yang tidak nyaman karena nafas pria itu yang sejak tadi berhembus tepat di wajahnya akhirnya membuka matanya juga.
"Selamat pagi isteriku sayang" ucap Roberth tersenyum.
"Selamat pagi ka, kamu sudah bangun?" tanya Maggie.
"Iya, sudah sejak tadi" jawab Roberth.
"Hah? serius? apakah aku ngigo saat tidur ka?" tanya Maggie panik.
"Iya, tadi kamu ngigo katanya, sayang aku mencintaimu" ucap Roberth menggoda sang isteri.
"Cih ngarang kamu ka" gerutu Maggie dan membuat Roberth terkekeh.
Roberth terdiam dan menatap isterinya dengan intens membuat Maggie salah tingkah.
Tangan kanannya merengkuh pinggang sang isteri dan tangan kirinya menjadi bantal untuk kepala isterinya.
"Boleh aku cium sayang?" tanya Roberth yang membuat Maggie semakin merona karena malu.
Batin Maggie sebenarnya ingin mengumpat. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Jika bilang iya, takut dibilang murahan, kalau jawab tidak takut membuat suaminya tersinggung.
Kenapa nggak langsung cium aja coba? Gerutu Maggie dalam hatinya.
"Tidak boleh ya?" tanya Roberth lagi sambil memainkan jaringan dipunggung sang isteri.
"Kenapa pake nanya sih? Maggie kan bingung mau jawab apa?" akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Maggie membuat Roberth tersenyum lebar.
Maggie yang sadar mulutnya telah keceplosan pun langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria yang sudah sah menjadi suaminya.
Roberth semakin kuat mendekap isterinya seolah takut lepas darinya.
Sebenarnya mau tapi malu. Roberth menyimpulkan maksud isterinya.
"Jadi kamu tidak marah kan kalau aku sering-sering cium kamu?" Maggie tidak menjawab, ia malah membalas pelukan Roberth tidak kalah erat. Sepertinya Roberth sudah tahu jawabannya.
Beberapa saat Roberth menguraikan pelukannya lalu memundurkan sedikit tubuhnya untuk menjauh dari isterinya. Pandangannya dari mata turun ke bibir mungil isterinya. Perlahan Roberth memajukan kembali wajahnya dan menyatukan bibir mereka.
cup
Kecupan singkat dia berikan kepada bibir mungil itu.
Cup
Kecupan yang kedua kembali terjadi dan agak lama. Maggie hampir tak bernafas karena tegang. Tangannya mengepal meremas ujung piayamanya. Ini yang pertama kalinya ia rasakan sehingga jantungnya sudah berdiako sejak tadi. Bahkan dia saat ini kesulitan untuk menekan ludahnya sendiri.
Perlahan Roberth meng absen seluruh rongga mulut gadis yang dia cintai itu, dan tak lupa Roberth juga menuntun tangan gadis itu untuk melingkar di lehernya.
"Manis" satu kata yang Roberth ucapkan saat melepas ciuman itu. Maggie berpikir bahwa itu telah berakhir.
"Kenapa tidak dibalas?" tanya Roberth dengan posisi yang sangat dekat, bahkan kening dan hidung mereka menempel. Lagi-lagi hembusan nafas Roberth seperti hipnotis yang merilekskan sarafnya.
"Eh Ba.. balas? Maggie kan nggak tahu caranya?" ungkap Maggie membuat Roberth tersenyum. Bahkan Maggie tak pernah melihat adengan ciuman di drama Korea seperti yang sering di ceritakan orang pada umumnya.
Boro-boro melihat drama Korea, setiap harinya hanya dipenuhi dengan hal-hal yang berbau kekejian.
"Ikuti gerakan aku sayang. Pakai insting kamu" Roberth kembali menyergap bibir isterinya dengan lembut dan lama-lama makin memanas dan menuntut.
"Apakah boleh sayang?" tanya Roberth.
"Apa?" tanya maggie setelah berhasil menetralkan nafasnya.
"Apakah aku sudah boleh meminta hakku?" tanya Roberth membuat Maggie terkejut.
"Ka, ini sudah hampir pagi" ucapnya antara gugup dan malu.
"Tidak masalah sayang, lagian kan tidak ada yang berani mengganggu kita sayang" bujuk Roberth membuat Maggie mengangguk setuju.
Akhirnya. Batin Roberth bahagia.
Aktifitas yang tadi kembali terjadi selama beberapa menit hingga masuk pada kegiatan inti.
"Mungkin akan sakit, tapi aku akan melakukannya dengan perlahan-lahan" ucap Roberth dan memulai dengan kegiatan panas mereka. Walaupun ia berjanji untuk tidak menyakiti isterinya namun apa mau dikata? itu adalah pertama bagi gadis itu sehingga tidak dipungkiri bahwa tetap akan terasa sakit.
Namun semuanya terbalaskan dengan kebahagiaan yang tiada tara nya. Roberth bahagia karena dialah orang pertama bagi sangat isteri dan Maggie pun bahagia karena bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya.
"Terimakasih kasih sayang, aku mencintaimu" ucap Roberth setelah pertempuran mereka berakhir. Pria itu memberikan satu kecipan sayang di kening sangat isteri yang sudah memejamkan matanya karena kelelahan. Roberth pun tidak lupa mengambil tisu untuk mengeringkan keringat yang menghiasi kening bahkan seluruh tubuh Maggie.
Dengan penuh telaten, ia kembali menutup tubuh Maggie yang masih polos dengan selimut karena Maggie sudah kembali tertidur.
Roberth perlahan turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tak terasa, aku sudah menikah dengan teman masa kecilku sendiri. Aku tahu, duniamu sangat kejam. Namun aku akan berusaha semampuku untuk menjaga, melindungi dan membahagiakanmu kalaupun harus dengan nyawaku. Tetaplah disisiku, apapun yang terjadi. Aku mencintaimu Maggie Pradania Adipaty. Batin Roberth sambil menatap bayangannya yang ada di dalam cermin yang terpajang di dalam kamar mandi.
Ia pun memulai dengan aktivitas bersih-besihnya.
"Rupanya sudah jam 7 lewat. Dia pasti sangat kelelahan. Tapi dia belum sarapan" gumam Roberth yang sudah selesai mandi dan tengah memakai minyak rambut sambil menatap ke arah sangat isteri yang masih betah dibawah selimut tebal itu.
.
.
.
"Mi, ko kaka belum juga turun sarapan sma kita sih?" ucap Ike yang belum melihat tanda-tanda kehadiran kakak dan kakak iparnya itu.
"Makan dan jangan banyak protes" ucap Daffa dengan nada dinginnya. Yang lain tersenyum mendengar pertanyaan Ike namun Reno malah berdecak kesal karena Daffa yang menegur puterinya.
"Bisa-bisa hak bicara puteriku dicabut jika menikah dengan pria kutub ini." gerutu Reno.
"Umurnya belum cukup untuk bicara hal yang tabuh om" sarkas Daffa tidak mau kalah.
"Kalau tahu dibwa umur kenapa kamu mau sama dia?" gerutu Reno lagi.
"Apa salahnya aku menjaga milikku dari sekarang. Kaka aja dari masih kecil malah" jawabnya santai.
"Bilang aja bucin" saambar Daffi yang tidak mau kalah.
"Sudah, meja makan tempat buat makan bukan tempat berdebat." ucap Alfa tegas membuat semua diam dan memilih menyantap sarapan yang telah tersedia.
"Mbak!!!" seru Mey kepada seorang pelayanan yang ada di dekat mereka.
"Tolong siapkan sarapan ya? untuk dua orang. jika sudah segera kasih tahu ya?" pesan Mey kepada wanita itu.
"Baik nyonya" jawab wanita itu segera pergi menyiapkan apa yang diperintahkan oleh isteri majikannya itu. Ya acara yang diadakan adalah di hotel keluarga Adipaty.
"Mau ngapain mom?" tanya Daffi.
"Kamu juga, kalau makan ya diam. Kenapa tanya mulu dari tadi" ucap Daffa menatap kembarannya tajam.
"Sarapan untuk kakaku sama kaka iparmu" jawab Alfa mewakili sayang isteri agar rasa penasaran putera bungsunya itu bisa terjawab.
"Oh?" jawabnya santai.
Bersambung