
"Oke cukup. Jadi bagaimana, kita jadi berangkat esok atau gimana?" tanya opa mengakhiri perdebatan sang isteri dan anak nya yang tidak mau saling mengalah.
"Berangkatlah" jawab Oma santai.
Keluarga itu mengakhiri perdebatan mereka dan bersantai di ruang keluarga saat sudah menyelesaikan makan mereka.
****
Maggie sudah tiba di apartemennya yang selama ini ia tempati, dari arah luar yang hanya dibatasi oleh kaca besar itu ia dapat melihat siapa orang yang tengah menyandra bibi yang selama ini melayaninya.
Dengan penuh emosi gadis itu masuk namun sebelumnya ia menelepon seseorang untuk memberitahukan maksudnya.
"Halo nona muda" ucap seorang pria di balik telepon.
"Perketat penjagaan agar tidak ada polisi yang masuk jika terjadi sesuatu" ucapnya tenang.
"Baik nona muda" ucap pria itu dan sambungan telepon diakhiri.
Maggie melangkah masuk dengan santai sambil bertepuk tangan memuji kehebatan para pria perkasa yang tengah menyandra wanita paruh baya itu.
"Selamat datang nona cantik, bagaimana dengan pertunjukan kami, apakah menarik?"ucap pria yang dianggap sebagai bos mereka dengan nada mengejek Maggie.
"Menarik. Sangat menarik hingga aku ingin bergabung" ucap Maggie dengan tatapan merendahkan para pria itu.
"Sebaiknya kamu menyerahkan diri secara baik-baik nona, supaya urusan kita cepat selesai dan ibumu ini bisa selamat" ucap pria itu dengan sombongnya.
"Baiklah, bawa aku jika kalian mampu" ucap Maggie sambil menyodorkan kedua tangannya kepada para penjahat itu.
Pria yang sejak tadi banyak bicara hendak menyambut tangan gadis itu langsung dihajar tanpa ampun oleh Maggie membuat yang lain menjadi geram sehingga terjadilah acara baku hantam di dalam ruangan itu.
Bibi berusaha teriak namun tidak basa karena mulutnya yang sudah dilakban oleh para penjahat itu.
Maggie dengan sadisnya mematahkan leher para bajingan itu hingga tinggal beberapa orang saja. Namun Maggie juga kena beberapa pukulan karena tempat bertarung yang sangat sempit sehingga membuatnya sedikit kewalahan.
Pertarungan terus berlangsung hingga tiba pada titik kesabaran Maggie yang sudah banyak membuang waktu karena terlalu bermain-main dengan para penjahat tersebut. Maggie mengeluarkan benda antiknya untuk membasmi mereka satu per satu. Beberapa orang dari mereka yang melihat kesadisan gadis itu akhirnya berlari keluar dari ruangan itu dan hal itu membuat seorang pria yang baru datang menuju ke sana.
Roberth masuk bertepatan dengan Maggie yang sedang menancapkan pisau lipatnya tepat Dimata seorang pria yang bahkan sudah menjadi mayat.
Roberth tercekat namun untuk bicara saja seolah ia tak mampu.
"Sayang" ucap Roberth melemah. Pria itu bahkan sudah mengklaim gadis masa kecilnya sebagai miliknya sehingga sejak pertemuan pertama mereka, ia langsung memanggilnya dengan sebutan sayang.
Maggie terkejut dan menatap ke arah pintu karena sejak tadi ia fokus pada lawannya yang sudah terkapar lima orang.
"Pergilah" ucap Maggie tenang.
"Tidak" jawab Roberth tegas.
"Aku bukan gadis yang seperti kamu kenal" ucap Maggie lagi.
"Iya kamu berbeda, kamu tidak seperti dulu. Kamu seorang pembunuh yang sadis, tapi jangan kamu pikir dengan melihat ini semua aku akan menyerah dan merelakan cinta yang sudah aku bangun bahkan sejak kecil." ucap Roberth sambil melangkah menuju ke arah Maggie untuk semakin mendekat.
Deg
"Pergilah!" ucap Maggie seperti mengusir dengan tidak menatap ke arah Roberth.
"Aku mencintaimu apapun keadaanmu, aku mencintaimu bukan hanya karena kamu orang baik saja, kejahatanmu tidak akan mengurangi sedikitpun rasa cintaku padamu" jelas Roberth yang bahkan sudah membawa gadis itu masuk dalam pelukannya.
Tenaga Maggie seolah menghilang hingga ia hampir luruh ke lantai namun dengan sigap pria itu mengeratkan pelukannya sehingga membuatnya nyaman di sana.
"Jangan menyembunyikan apapun dariku," ucap Roberth sambil mengusap pucuk kepala gadis itu, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala.
Roberth merenggangkan pelukannya dari Maggie dan menelisik wajah gadis itu yang penuh dengan air mata.
"Aku mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu" ucap Roberth tegas dan meyakinkan gadis itu.
Roberth memberi satu kecupan sayang di kening Maggie dan kembali memeluknya erat.
"Mmmmm MMM MMM" suara yang berasal dari sudut ruangan itu mengganggu waktu berdua mereka hingga membuat Maggie sadar akan bibi yang terikat sejak tadi di sana.
"Bi, " ucap Maggie kaget dan langsung melepaskan pelukannya dari pria itu dan berlari ke arah bibi untuk membuka tali yang terikat di kedua tangan serta lakban yang menutup mulut wanita tua itu.
"Sayang, siapa mereka sebenarnya?" tanya Roberth.
"Mereka adalah musuhku" jawab Maggie singkat.
Maggie mengambil ponselnya dan menelepon para anak buahnya yang berjaga di depan.
"Bereskan semua kekacauan di apartemen ini" ucap Maggie yang langsung memutuskan tanpa mendengar jawaban si pria yang dia telepon.
Beberapa saat kemudian datanglah beberapa orang untuk membereskan kekacauan tersebut.
"Pak, antarkan bibi pulang ke mansion utama" perintah Maggie yang dipatuhi oleh salah seorang anak buahnya. Ya, bi yang bekerja di apartemen itu adalah salah seorang ART di mansion utama yang dipindahkan.
Hari mulai gelap dan Maggie serta Roberth masih ada di sana dalam diam, tidak ada yang bersuara sejak ditinggal oleh yang lain.
"Aku harap kita tetap menjadi orang lain jika di kampus" ucap Maggie membuka suaranya.
"Tidak" jawab Roberth tegas dan singkat.
"Ayolah, aku hanya ingin hidup aman dimana saja aku ada" ucap Maggie memohon.
"Memangnya apa pentingnya kenyamananmu dengan hubungan kita? ataukah kamu punya target pria lain di kampus sehingga kamu tidak mau dia mengetahuinya?" tanya Roberth penuh selidik.
"Please deh kamu itu kalau cerewet jangan sampai ngalahin emak-emak yang lagi milih baju rombengan" ucap Maggie tidak habis pikir dengan pria yang ada di depannya ini. Pria yang tingkat keposesifannya tingkat dewa.
"Me' sudah cukup kita berpisah selama ini jadi jangan kamu ciptakan lagi jarak yang tidak jelas itu" ucap Roberth ngotot.
"Kamu kan orang yang cukup berpengaruh di kampus jadi aku takut dibully sama fansnya kamu" ucap Maggie dengan bibir yang dibuat maju beberapa senti ke depan membuat Roberth gemas.
"Apa kamu cemburu?" ucap Roberth sambil terkekeh.
"Cih, buat apa cemburu? banyak juga cowok yang ngejar Maggie," ucap Maggie kecoplosan membuatnya ditatap tajam oleh Roberth.
"Apa? siapa pria yang menyukaimu?" ucap Roberth sambil terus mendekat dan mengurung Maggie hingga tertahan di tembok yang ada di belakangnya.
"Tidak, aku bercanda" ucap Maggie salah tingkah.
"Mau kasih tahu atau aku mencari tahunya sendiri" ucap Roberth tegas.
"Please Roberth kamu jangan aneh deh karena kita itu tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas teman masa kecil" ucap Maggie.
Deg
BERSAMBUNG