
"Apa yang kamu sembunyikan dariku sampai adikmu menanyakan soal keseriusanku kepada kamu?" ucap Roberth membuat langkah Maggie yang baru beberapa itu langsung berhenti.
"Duduklah dulu, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan dan aku harap kamu mau jujur kepadaku." ucap Roberth kemudian.
Maggie merasa seluruh tubuhnya kaku, ia takut jika pria itu akan bertanya tentang keadaannya sekarang.
'Apa yang mau kamu tanyakan?" ucap Maggie.
"Kenapa kamu seperti orang yang gugup?" tanya Roberth saat melihat ada perubahan pada raut wajah gadis itu.
"Jangan berbelit-belit." ucap Maggie tegas.
"Oke. Katakan kepadaku, apa yang kamu lakukan selama tujuh tahun di Kalifornia?" tanya Roberth serius.
Deg
Inilah pertanyaan yang Maggie hindari sejak tadi akhirnya terlontar juga. Apapun alasannya pasti tidak akan masuk di akal Roberth yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata.
"Apa salahnya jika aku diasuh oleh saudara omaku?" ucap Maggie berusaha tenang.
"Apakah orang tuamu kurang mampu sampai kamu harus diasuh oleh saudara omamu? kenapa tidak omamu saja yang mengasuhmu?" ucap Roberth membuat Maggie mati kutu.
"Urusan keluargaku bukan urusanmu" ucap Maggie tegas membuat Roberth menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya menyilang di tengkuknya seperti orang yang sangat frustrasi.
"Aku minta maaf pergi waktu itu tanpa pamit, tapi jujur aku tidak punya niat meninggalkanmu. Aku berdoa siang dan malam untuk bisa bertemu kembali denganmu, tapi rupanya aku bukan orang yang penting untukmu" ucap Roberth melemah.
Jangan menyerah, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan darimu. Tidak mungkin penampilan sederhananya ini tidak ada alasannya. Batin Roberth yang menyelidiki penampilan gadis itu dengan saksama.
Roberth tahu betul, waktu kecil gadis ini paling suka dengan kemewahan namun setelah tujuh tahun di Kalifornia ternyata penampilannya berubah. Jika saudara Omanya mengasuhnya hanya untuk membuatnya menderita itu tidak mungkin.
"Me' aku mohon jangan sembunyikan apapun dariku. Aku bersedia menerima apapun keadaanmu, dan aku bersedia membantumu memperbaiki semua jika itu berat untukmu" ucapnya memohon sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Aku tidak apa-apa, memang aku sendiri yang meminta agar Daddy dan mommy membebaskan aku untuk mandiri." ucap Maggie sambil menatap kearah gadis itu.
"Jika kamu belum percaya kepadaku, aku janji akan membuktikannya dengan nyawaku sekalipun" ucap Roberth tegas.
Deg
"Ayo kita pulang" ajak Roberth kepada Maggie karena percuma dia memaksa gadis itu jujur sekarang, apalagi dia tahu jelas kalau gadis itu memang keras kepala.
Maggie mengekori Roberth hingga tiba di parkiran. Roberth membuka pintu mobil dan dengan patuh gadis itu masuk ke dalamnya.
Keduanya pergi meninggalkan restoran tersebut dan kembali ke kampus karena mereka tidak membawa tas saat pergi tadi.
Sepanjang perjalanan keduanya terdiam hingga tiba di kampus. Maggie langsung turun dan pergi meninggalkan Roberth yang masih berada di dalam mobil.
Setibanya di kelas ternyata pelajaran kedua sudah mulai sejak setengah jam yang lalu.
Tok tok tok
"Dari mana?" tanya Bu dosen yang dianggap paling killer itu dengan matanya yang tajam.
"Maaf Bu,..." ucapan Maggie terpotong oleh seseorang.
"Maaf Bu, tadi dia sempat pingsan dan aku membawanya ke Rumah Sakit jadi baru kembali. Tolong jangan kasar sama dia karena dia masih lemah" ucap Roberth dengan gaya coolnya.
"Oh Roberth, benar dia sakit?" tanya Bu dosen yang memang tidak bisa marah kepada Roberth karena dialah mahasiswa yang membawa nama kampus hingga ke luar negeri.
"Iya Bu, benar dia sakit dan aku yang membawanya ke Rumah Sakit" ucap Roberth mantap.
"Aku baik ko Bu" ucap Maggie sambil menatap tajam Roberth yang sudah memfonisnya sebagai manusia penyakitan.
"Oke baiklah silahkan masuk" ucap Bu dosen dan keduanyapun masuk. Sela semakin dibuat emosi karena kedua insan itu menghabiskan waktu bersama.
Roberth dan Maggie masuk ke dalam kelas dan duduk dengan tenang. Sedangkan Ria jangan ditanya lagi, gadis yang awalnya dikenal Maggie sebagai gadis lugu dan pendiam itu mendadak jadi cerewet saat tahu sahabatnya jalan bersama idola kampus nomor satu itu.
"Beb, benarkan kamu pingsan?" tanya Ria kepo.
"Nggak" jawab Maggie singkat sambil mengeluarkan buku cetak dari dalam tasnya.
"Ah kenapa tidak sesuai harapanku sih?" ucap Ria melemah karena yang dia inginkan itu, sahabatnya Maggie bisa jadian dengan pria itu agar mereka tidak lagi dibully sebagai orang miskin.
"Apa yang kamu harapkan?" tanya Maggie penuh selidik. Tiba-tiba tutupan spidol melayang melewati kepala Ria membuat gadis itu terkejut. Ternyata pelakunya adalah Bu dosen killer itu.
"Jika mau bercerita silahkan keluar" ucap Bu dosen tegas.
"Maaf Bu, teman saya katanya pusing" ucap Ria cengengesan membuat Maggie melototkan matanya.
Kenapa hari ini aku sial bangat sih? bisa-bisanya mereka berdua mengharapkan aku sakit? wah wah, nggak bisa dibiarin ni manusia berdua. Gerutu Maggie dalam hati.
Pelajaran kembali dimulai dan mereka kembali tenang kecuali seperti biasa ada seorang yang makan hati berulam jantung, siapa lagi kalau bukan Sela.
Jam pelajaran pun berakhir dan Maggie langsung meletakan kepalanya di atas meja dan memilih tidur setelah dosen itu keluar.
"Wohooo ternyata ada gadis miskin yang memanfaatkan jam kuliah untuk menguras pria berduit ni?" seru Sela langsung pada intinya.
Maggie langsung mengangkat kepalanya dan menatap Sela dengan tatapan mematikan.
"Siapa yang kau maksud? apakah aku? Hahahaha iya karena pria berduit itu juga membutuhkan wanita miskin untuk menghabiskan uangnya" ucap Maggie sambil tertawa renyah.
"Wao, ternyata anak miskin ini mau merusak nama baik sekolah ya?" tanya Sela sambil mendekat ke arah Maggie yang duduk santai di sana.
"Bukannya nama kampus ini sudah busuk sejak dulu karena menampung manusia yang suka iri terhadap kemampuan orang lain ya?" ucap Maggie sambil menatap semua mahasiswa yang masih setia berdiri di dalam kelas untuk menyaksikan perdebatan sengit itu.
Dari arah lain ruangan itu, Roberth malah bangga dengan sikap Maggie yang tidak bisa dikalahkan begitu saja.
"Heh aku itu anak orang kaya yang punya segalanya jadi aku juga harus mencari pria yang selevel denganku" ucap Sela menjatuhkan Maggie.
"Sayangnya pria yang selevel denganmu sudah jadi milikku.
Deg
Bukan hanya Sela yang terkejut dengan ucapan itu tapu Roberth juga terkejut saat mendengar gadis kecil itu mengklaim dirinya sebagai miliknya.
Roberth tersenyum puas hanya dengan ia mendengar ucapan tadi.
"Apa itu benar Roberth? apakah tidak ada cewek lain yang lebih baik dari dia?" tanya Sela dengan menggebu-gebu karena melihat pria itu sama sekali tidak membantah saat dirinya diklaim oleh gadis miskin itu.
"Iya karena aku sangat mencintainya sejak lama" ucap Roberth dengan wajah berseri.
Deg
Kali ini giliran Maggie yang terkejut.
BERSAMBUNG