
📞Bagaimana persipannya?
📞Sudah 95% ma, apakah mama akan datang hari ini?
📞Esok kami akan terbang ke sana
📞Baiklah ma. Bagaimana keadaannya?
📞Seperti biasa, walaupun ia kesal sama kekasihnya yang tidak menghubunginya.
📞Menantu kurang ajar, bisa-bisanya dia buat puteriku galau hahaha
📞Ini juga bagian darimu Alfa, jika dia tahu ini semua termasuk rencanamu juga maka tamatlah riwayat mu.
📞Dia akan bahagia. Dan memang sudah saatnya dia harus bahagia.
📞Iya, nanti akan mama kabari lagi. oh ya, soal keamanan apakah semuanya sudah oke?
📞Sudah ma, dan kita menyiapkan tiga lapisan. Dari jarak jauh, dari luar gedung dan dari dalam gedung. Tapi yang kita buat adalah keamanan bayangan. yang berpakaian seperti undangan juga.
📞Baiklah mama percayakan sama kamu walaupun mama tidak biasa mengandalkan mu.
📞Ma, aku sudah kerja sejauh ini loh, jadi dihargai.
📞Saatnya kau membayar semuanya yang terbuang dulu untuknya.
📞Iya.
sambungan telepon berakhir antara Alfa dan sang mama.
"Bagaimana ma,?" Tanya Alberth kepada sang isteri.
"Semua aman pa" jawab oma Ratna.
"Baiklah, kaka sudah bangun?" tanya pria itu lagi.
"Sepertinya sudah karena kata bibi, tadi kaka sama opanya lagi ke taman" ucap oma Ratna.
"baiklah, katakan kepada Alfa untuk lebih cepat mempersiapkan semuanya. Kasihan kaka sudah sejak opanya kena musibah dia lebih banyak diam" ucap opa Alberth yang selama ini terus mengawasi cucu kesayangannya.
"Biarkan saja, siapa suruh jalan tidak ijin sama kekasihnya?" ucap oma Ratna santai.
"Ya nurun dari kamulah sayang? mamangnya kamu tidak sadar? Alfa sama Mey hanya sebagai pabrik pencetak tapi semuanya nurun dari kamu" cibir opa Alberth membuat oma kesal.
"Biarin dari pada nurun dari daddynya yang tidak bisa diandalkan" ucap oma Ratna.
"Iya, kamu yang terbaik sayang" ucap opa Alberth yang kemudian memeluk sang isteri.
"Kita juga harus bahagia karena masih bisa diberi kesempatan untuk melihat cucu kita bersanding dengan pasangannya" ucap pria itu membuat sang isteri mellow.
Perbincangan suami isteri itupun berakhir dan memilih untuk bergabung dengan opa Gaston dan Maggie di taman.
"Apakah Rockzy belum kembali?" tanya oma Ratna.
"Iya, dia masih mengurus perushaan terlebih dahulu" jawab opa Gaston.
"Baiklah, bang mau ikut ke Indo?" tanya oma Ratna pura-pura menawari.
"Iya, aku akan ikut. Kapan kalian akan ke sana?" tanya opa Gaston yang ikut menanggapi.
"Besok, ya sepertinya besok. Aku sudah rindu sama rumah di sana" ucap oma Ratna.
"Tapi apakah opa sudah sehat?" tanya kaka yang sedikit kawatir.
"Sudah sayang. jangan takut, opa kuat ko?" jawab opa yakin membuat sang cucu merasa lega.
"Lalu bagaimana dengan rencanamu bersama kekasihmu" tanya opa Alberth kepada cucunya.
"Setelah melewati banyak persoalan selama ini, aku memilih untuk berpikir lagi terlebih dahulu. Walaupun dia sudah tahu siapa aku di Marah Salvatrucha tapi aku belum yakin apakah dia mau menikah dengan gadis yang kerja di dunia gelap atau tidak" jelas kaka sedikit merasa sesak.
"Yang sabar sayang, oma sendiri yang akan bertanya kepadanya. Jika ia masih merasa berat ya terpaksa harus dibatalkan semuanya" ucap oma menenangkan cucunya.
Mereka kembali berbincang seputar perusahaan dan juga musuh-musuh yang mungkin masih tersisa.
Hari ini tanpa sengaja Riko dan Lili kembali bertemu. Bukan tanpa sengaja sih karena sejak bertemu di restoran itu, Riko selalu membuntuti Lili sehingga hari ini ia bisa berani langsung menyampaikan gadis itu karena ternyata ia sendiri di sana.
"Hai..." ucap Riko menyapa Lili.
"Hai" jawab Lili antara terkejut dan juga gugup.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Riko.
"Boleh, silahkan" ucap Lili dan pria itu langsung menduduki kursi kosong yang berhadapan dengan gadis itu.
"Sudah lama ya? sudah sangat lama kita tidak bertemu." ucap Riko basa basi.
"Hmm iya tuan" ucap Lili.
"Panggil saja Riko, jangan pake tuan" ucap Riko.
"Siapa yang kamu tunggu di sini? Apakah kamu menunggu kekasihmu?" tanya Riko.
"Tidak, aku hanya menunggu pesanan kusen. Ibuku sakut-sakutan dan suka makan sesuatu sehinga aku mampir untuk membelinya" jawab Lili.
"Oh. Apa kamu sudah punya kekasih?" Riko terus bertanya untuk mendapatkan sebuah kepastian karena ia tidak punya banyak waktu. Bahkan waktu yang diberikan oleh Mey sudah berakhir.
"Belum. Aku lebih banyak bekerja dan tidak sempat memikirkan hal itu." jelas Lili.
"Jika aku yang menjadi kekasihmu, apakah kamu terima?" ucap Riko to the point.
"Hah? maksud kamu?" ucap Lili antara senang dan kaget.
"Iya, aku sudah lama menyukaimu bahkan sejak musibah wktu itu dan penyelamat nabi itu. Tapi selain kamu masih sangat muda, aku juga tidak berani karena aku hanya bekerja sebagai seorang asisten. Mungkin kamu ingin pasangan hidup yang lebih mapan" jelas Riko membuat Lili berkaca-kaca.
Ternyata pria yang ada di depannya ini sama. Punya persaan namun tidak berani mengungkapkan.
"Kenapa? apakah kata-kataku mengecewakanmu?" ucap Riko lembut sambil menggenggam tangan gadis itu di atas meja.
"Tidak" ucapnya sambil menggelengkan kepala dan akhirnya menetes juga air mata yang ditahannya tadi.
"Lalu kenapa?" ucap Riko lagi dengan lembut.
"Mmm tapi aku malu" ucap Lili yang sudah merona.
"Kenapa malu? ayo bicara, apa yang mau kamu bicarakan" ucap Riko.
"Sebenarnya... Aku juga... menyukaimu sejak waktu itu" ucap Lili terbata-bata.
"Hah? kamu serius?" ucap Riko yang sangat terkejut dan sangat bahagia.
"Nona, ini pesanannya" ucap pelayanan yang menghentikan rasa harus dan bahagia mereka.
"Baiklah mari kita bicarakan di dalam mobil. Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap Riko bersemangat.
"Aku juga bawa mobil" ucap gadis itu.
"Aku akan menelepin temanku untuk membawanya" ucap Riko yang langsung menggandeng gadis pujaannya keluar.
Keduanya di selimiti dengan rasa bahagia yang tak terhingga setelah saling mengetahui isi hati Masing-masing.
"Lili, seperti tadi yang aku katakan bahwa aku sangat menyukaimu. Tapi...." ucap Riko membuat wajah Lili mendadak sayu.
"Iya katakan saja" jawab gadis itu berusaha tegar jika yang dia dengar ini mengecewakan.
"Aku tidak ingin pacaran" ucap Riko.
"Iya tidak apa-apa, aku mengerti" jawabnya dan menatap ke luar mobil.
Ia merasa malu karena sudah terlanjur mengakui perasaannya kepada pria itu yang ternyata tidak ingin menjalani hubungan bersamanya. Lili merasa seperti diangkat dan dibanting dalm waktu yang sama.
"Tapi aku mau kita langsung menikah" ucap Riko membuat Lili langsung berbalik dan menatapnya. Dan tak terasa air matanya langsung kembali merembes. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, pria ini sudah membuatnya menangis dan tertawa beberapa kali.
Riko pun bertekad untuk langsung membicarakan hal ini bersama kedua orang tua gadis itu jika sampai rumah nanti karena ia ingin, setelah acara Maggie nanti akan dilangsungkan dengan acaranya.
BERSAMBUNG