
"Kaka, kenapa duduk di sana? kan tempat kaka dekat opa" ucap Mey yang melihat posisi duduk puteri kecil seolah menghindari opanya.
"Mulai malam ini, tempat duduk kaka belpindah ke sini" putus Maggie.
"Lalu di sana kosong?" tanya Alfa.
"Dan mulai malam ini, oma yang duduk dekat opa" lanjut gadis kecil itu. Ucapannya seperti titah raja yang tidak bisa diganggu gugat.
Bi Ani yang baru datang untuk bergabung merasa canggung karena tempatnya sudah di tempati sang cucu.
"Ayo oma, oma halus duduk di sini mulai malam ini" ucap gadis kecil itu sambil turun dari kursinya dan menarik tangan bi Ani menuju tempat duduk yang harus ditempatinya mulai malam ini.
Oma yang tadi hendak duduk di tempat lain yang kosong akhirnya hanya menurut seperti anak kecil yang ditarik ibunya.
"Duduklah di sini Ani" ucap opa membuat semua orang mengulum bibirnya menahan senyum karena panggilan opa yang kedengaran sangat alay. Siapa lagi kalau bukan Alfa dan Mey yang merasa opa lebih muda dari usianya sekarang.
Sedangkan Maggie jangan di tanya, mendengar opanya memanggil oma dengan nama saja membuatnya melototkan matanya merasa aneh.
"Ulang opa?" ucap gadis kecil itu.
"Ulang apa?" tanya opa santai.
"Tadi opa nyebut oma apa?" tanya gadis itu lagi.
"Kenapa? kaget?" tanya balik opa pada cucunya.
"Bukan kaget opa, tapi aneh. Halusnya opa panggil oma dengan sebutan sayang, cinta, honey, love, babby,..."
"Stop... Kamu kecil-kecil tapi tahu semuanya ya?" seru opa yang menghentikan ucapan cucunya yang kedengaran berlebihan.
"Yeee bial beda opa, opa Albelth aja panggil oma Latna sayang sama kaya daddy panggil mommy, sayang. Masa opa kalah sih?" ucapnya mencibir sang opa. Sedangkan oma, wajahnya sudah seperti kepiting rebus, wanita paruh baya itu menahan malu setengah mati.
"Sudah, sudah... ayo kita makan dulu" ucap Mey menengahi perdebatan antara opa dan cucu itu, jika tidak maka makan malam akan berakhir esok pagi karena puterinya itu tidak akan menerima kekalahan. Dalam kamus gadis kecil itu, tidak ada kekalahan atau menyerah.
Mereka akhirnya makan dengan tenang tanpa mengeluarkan suara hingga makanan-makanan yang ada di piring masing-masing tandas.
Setelah acara makan selesai, mereka bersantai di ruang tengah dengan babby twins yang anteng di dalam box yang ada di ruang itu. Jadi selain ada di kamar, Alfa juga menempatakan 2 box lagi di ruang keluarga agar jika mereka bersantai dan si kembar mengantuk bisa tidur di sana.
"Ayah, ibu... apa rencana kalian ke depan?" tanya Mey serius.
"Rencana apa?" tanya ni Ani pura-pura bego padahal ia sudah tahu arah pembicaraan puteri angkatnya itu.
"Ayah memang sudah ingin segera membentuk keluarga yang utuh dengan Ani, tapi jika ia mau menerima ayah. Ayah janji akan segera menghalalkannya" ucap opa penuh keyakinan membuat oma seketika menunduk. Tatap muka secara langsung saja ia tidak mampu menjawab pertanyaan pria itu, apalagi di depan anak-anak dan cucunya.
"Oma pasti mau opa, cuma oma malu kalena ada daddy, mommy sama kaka" ucap gadis kecil itu polos membuat bi Ani semakin tersudut.
"Oke sayang, lebih baik kita beri ruang untuk ayah dan bi Ani untuk berbicara terlebih dahulu biar kesannya tidak memaksa." putus Alfa sambil mengangkat Daffa ke dalam gendongannya.
"Ayo kaka, kita ke kamar" ajak Alfa pada puterinya.
"Oke daddy. Tapi malam ini kaka pengen tidul di kamal daddy dan mommy ya? boleh kan?" ucap Maggie terselip nada memohon.
"Bisa sayang. Daddy juga rindu tidur bareng kaka" ucap Alfa yang memang ingin memberi kenangan yang baik untuk puterinya juga karena sejak kelahiran twins, puterinya banyak mengalah demi kedua adiknya.
"Ayo mom" ajak Maggie pada Mey. Wanita beranak tiga itu akhirnya mengangkat Daffi ke dalam gendongannya juga. Kelima orang itu akhirnya melangkah menaiki tangga satu per satu hingga hilang di balik pintu kamar.
"Hah? maksud tuan?" ucap oma terkejut saat tangannya sudah digenggam oleh opa.
"Kamu tahu kan? sejarah hidupnya Mey. Ia tumbuh tanpa orang tua dan saat aku menemukannya, aku tidak bisa memberi keluarga yang lengkap untuknya. Dan kamu tahu? Sejak aku membawanya ke sini, sosok kamulah yang terpatri dalam hatinya. Ia begitu bangga dan senang punya sosok ibu yang hebat seperti kamu. Maka itulah aku melakukan ini, bukan berarti aku tidak punya perasaan terhadap kamu, aku bahkan sudah merasakan hal itu sejak bertemu denganmu pertama kali, saat aku dan anak-anak datang ke Indonesia sebelum Mey rujuk dengan Alfa waktu itu." jelas opa
Deg
Apa benar, tuan Devid sudah menyimpan rasa padaku sejak itu. Tapi aku hanya seorang pembantu, aku dan dia bagai langit dan bumi. Batin bi Ani.
"Yang pertama, kamu seperti ibu yang sebenarnya untuk Mey saat kami datang waktu itu. Yang kedua, kamu adalah wanita yang sesuai dengan kriteriaku mencari pendamping" jelas opa
"Tapi kita berbeda dalam banyak hal tuan. Aku hanya wanita biasa bahkan aku hanya seorang pembantu, tidak lebih" ucap bi Ani mengeluarkan isi hatinya.
"Sssssttt, jangan panggil aku tuan. Dan aku bukan lagi bernego untuk mencari keuntungan dalam berbisnis tapi aku mencari calon isteri. Aku tidak memandang status atau derajat karena itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang" ucap opa tegas.
Gleg
Oma menelan ludahnya dengan susah payah.
"Wanita biasa akan lebih menghargai suaminya ketimbang wanita sosialita dan aku butuh itu. Karena sekaya apapun seorang wanita, ia tetap dinafkahi oleh suaminya" ucap Opa lagi.
Bi Ani terdiam menyimak semua ucapan opa. Ia bingung mau jawab apa?
"Baiklah, jika kamu tidak menerima alasan tidak memiliki perasaan padaku, maka terimalah aku untuk memenuhi keinginan anak cucu kita" ucap Opa sedikit ada nada kecewa karena sepertinya ia di tolak oleh wanita pujaannya.
"Tidak tuan..." ucap Oma terputus.
"Istirahatlah, malan semakin larut" ucap opa membuat oma sedikit merasa bersalah. Ia merasa telah mengecewakan pria yang ada di sampingnya itu.
Opa Devid bangkit berdiri untuk masuk ke kamarnya, apapun jawaban wanita pujaannya itu, ia sudah tidak peduli karena sejak tadi ia berbicara panjang lebar tapi wanita itu seolah tidak merasa tertarik padanya. Ia sudah siap jika ia di tolak, ia akan minta maaf besok, karena terlanjur meminta wanita itu untuk menikah dengannya.
Brukkkk
Tuan Debid kaget saat merasa ada benda yang menabrak tubuh bagian belakangnya dengan cukup kuat.
Lebih terkejut lagi saat ada sepasang tangan yang sudah melingkar di perutnya dari arah belakang. Pelukan yang begitu kuat, seolah takut terlepas dan menghilang.
"Maaf" lirih suara dari punggung opa yang tengah terpaku antara terkejut dan senang.
"A A Ani.." ucap opa terbatah.
*
*
*
**BERSAMBUNG
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YACH?
Cukup dilike, komen, vote sebanyaknya biar jadi vitamin buat Author 😍😍😍**